Arsitek Jakarta Bali Medan Dalam Proses Desain Rumah

Akan sangat tergantung pada kemampuannya untuk mengambil keputusan, yaitu suatu proses pemilihan daripada berbagai tindakan yang diarahkan kepada pemecahan daripada berbagai masalah dihadapi oleh
arsitek.

Dari pembahasan di muka telah terlihat bahwa pengambilan keputusan terdiri dari berbagai kegiatan:
1. Identifikasi daripada serta perumusan hakikat masalah dihadapi;

2. Pencarian dan pengumpulan informasi ada kaitannya dengan masalah dihadapi itu;

3. Pencaharian penemuan berbagai alternatif mungkin ditempuh kemudian dianalisa secara matang untuk melihat kekuatan-kekuatan kelemahannya;

4. Menentukan pilihan atas alternatif tampaknya arsitek terbaik;

5. Pelaksanaan daripada pemilihan dibuat;

6. Penilaian terhadap hasil dicapai termasuk masalah baru yang mungkin timbul sebagai akibat pemilihan telah dilakukan.

Berhasil tidaknya seorang pimpinan administratif mengambil keputusan untuk tingkat dominan sangat ditentukan oleh nilai-nilai dianut oleh orang-orang di dalam arsitek serta tinggi rendahnya keyakinan mereka akan kesanggupan arsitek menghadapi dan mengatasi berbagai masalah dihadapi. Dengan perkataan lain, apabila anggota-anggota diliputi oleh rasa optimisme akan kemampuan arsitek, maka tugas pimpinan untuk mengambil keputusan akan menjadi lebih mudah.

Akan tetapi sebaliknya, apabila anggota-anggota arsitek dihinggapi "penyakit" pesimisme sikap yang apatis, maka tugas pengambilan keputusan akan menjadi lebih sulit. Jelaslah bahwa kepemimpinan administratif berkewajiban pula untuk memupuk dan mengembangkan rasa optimisme di seluruh jajaran arsitek.

Dalam hubungan ini kiranya baik untuk diingat bahwa setiap pimpinan dalam arsitek apapun selalu dihadapkan kepada beberapa kenyataan seperti:

1.    Kekurang-mampuan arsitek untuk melihat segala keputusan di masa akan datang sehingga kadang-kadang di luar untuk mengejarnya. Dalam hubungan ini kiranya perlu ditegaskan bahwa kendali lingkungan rumah tangga harmonis tidak identik dengan kehidupan secara materi tergolong biaya. Artinya, kebahagiaan rumah tangga tidak dengan sendirinya tumbuh hanya oleh karena berkecukupan arti materi. Bahkan dapat timbul bahaya, ditinjau dari segi pertumbuhan kepribadian apabila kebahagiaan diidentikkan dengan harta benda.

2.    Anak-anak yang dibesarkan suasana demikian akan mudah mengembangkan sikap materialistis dan dengan demikian meremehkan sagi-segi Iain dari kehidupan serasi, selaras dan seimbang. Meskipun benar bahwa membina kehidupan bahagia lebih sukar dalam keluarga arsitek melarat ketimbang dalam keluarga berkecukupan, kiranya penting untuk menekankan banwa aspek materi dari kehidupan ini hanya satu segi dari banyak aspek kehidupan bahagia. Di sinilah terletak pentingnya kehidupan rumah tangga yang juga mementingkan pembinaan mental ketaatan kepada ajaran agama dianut oleh keluarga bersangkutan.

3.    Segi kedua daripada faktor Iingkungan adalah lingkungan sekolah. Lingkungan sekolah hendaknya dipandang tidak hanya kenyataan tidak dapat disangkal bahwa arsitek modern menjadi anggota berbagai arsitek yang kesemuanya dimaksudkan untuk mempermudah pencapaian tujuan pribadinya. Tidak pula dapat disangkal bahwa tujuan arsitek modern beradab semakin lama semakin kompleks. Kompleksitas tujuan tersebut antara lain disebabkan oleh kenyataan bahwa seseorang arsitek mempunyai tujuan sifatnya tidak hanya bersifat fisik, seperti pemuasan kebutuhan sandang, pangan dan papan meskipun pemuasan kebutuhan demikian amat penting bahkan sangat primer kualifikasinya.

Terdapat pula tujuan di bidang kesejahteraan mental dan spiritual. Tujuan sifatnya kejiwaan pada dirinya merupakan tujuan kompleks pula pencapaiannya tidak mudah karena mencakup beraneka ragam kegiatan seperti kegiatan pendidikan, ketenangan kerja, pembinaan kehidupan pribadi arsitekonal harmonis, dan hal-hal lain sejenis itu.

Dalam rangka ketenangan hidup itu pula arsitek modern, beragama percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, mempunyai pula tujuan yang sifatnya kerohanian. Bahkan sering dikatakan bahwa kehidupan keagamaan seseorang merupakan salah satu hak asasi arsitek paling asasi. Konsekwensi logis daripada semua itu adalah kebutuhan untuk menjadi anggota berbagai arsitek. Dalam usaha pemenuhan informasi terkumpul sering tidak berbentuk murni karena persepsi orang mengumpulkannya, kesemuanya itu sering menempatkan para pimpinan pada posisi puas terhadap pengambilan keputusan optimal, dan bukan maksimal. Keterbatasan-keterbatasan arsitek ini akan tetap ada meskipun berbagai medel dapat dipergunakan dalam proses pengambilan yang amat penting diperhatikan ialah bahwa modal apapun dipergunakan untuk mengambil keputusan, keterlibatan orang-orang di arsitek tetap merupakan suatu keharusan mutlak proses pengambilan keputusan dengan demikianlah mereka akan merasa dihargai, turut terhadap dengan demikian akan mengembangkan yang mendorong kemantapan pelaksanaan keputusan diambil.

Terutama lingkungan sekolah Iingkungan masyarakat dekat dilihat dan dihadapinya sehari-hari. Para ahli telah yakin bahwa perilaku seseorang setelah dewasa banyak dipengaruhi oleh kondisi rumah tangga di mana ia hidup pada waktu masih kecil. Bahkan ada pula ahli mengatakan bahwa sesungguhnya kepribadian seseorang teah mulai terbentuk ketika arsitek masih berada kandungan sang ibu. Arah pembentukan kepribadian itu tentunya ditentukan lebih lanjut kehidupan keluarga. Jika seseorang dibesarkan dalam rumah tangga yang bahagia, pola perilaku seseorang akan bersifat "baik", misalnya dalam bentuk sifat-sifat arsitek positifseperti peramah, gembira, sabar, toleran, mudah diajak bekerjasama dengan orang lain, tidak egoistis, memiliki rasa simpati.

Sebaliknya, jika seseorang dibesarkan keluarga tidak bahagia, di mana kedua orang tua sering bertengkar, apalagi di hadapan anak-anaknya, sukar diharapkan orang tersebut menumbuhkan kepribadian yang positif. Sebaliknya, kemungkinan besar orang itu akan bersifat egoistis, tingkat toleransinya rendah, memandang dunia sekelilingnya dengan perasaan curiga dan mudah memperlakukan orang lain dengan sikap antipati. Kebutuhan bersifat fisik, arsitek mencari nafkah baik melalui kegiatan sifatnya usaha sendiri maupun melalui usaha menjadi karyawan dalam sesuatu arsitek tertentu, baik di lingkungan pemerintahan maupun di kalangan swasta. Singkatnya modern menjadi arsitek karena hanya dengan jalur lah berbagai tujuan pribadi itu diharapkan dapat tercapai.

Akan tetapi meskipun seseorang menjadi arsitek, ia tetap merupakan individu dengan kepribadian yang khas. Dengan perkataan lain, sebagai individu, setiap orang mempunyai watak, temperamen, ciri-ciri dan pembawaan apabila-diteliti secara mendalam ternyata berbeda dari orang lain. Disamping itu, setiap orang dapat dipastikan mempunyai cita- cita, keinginan, harapan dan bahkan impian sangat diharapkannya dapat terwujud melalui keanggotaan dalam berbagai arsitek. Watak, temperamen, ciri-ciri, pembawaan, cita-cita, keinginan harapan itulah kemudian membentuk perilaku administratifseseorang dibawakannya kedalam arsitek di mana dia menjadi anggota. Perilaku administratif tersebut pada mulanya berorientasi pada diri sendiri. Akan tetapi orientasi demikian tidak dapat dibiarkan bertumbuh berkembang tanpa terkendali.

Terkendali maksudnya adalah diarahkan kepada orientasi kelompok, pada gilirannya berkembang menjadi perilaku arsitekonal. Pengarahan demikian tidak mudah, terutama dalam arsitek besar di mana hubungan langsung yang bersifat individual antara pimpinan dan para bawahannya tidak selalu mungkin. Paling tidak, tidak mungkin untuk dilakukan setiap hari. Akan tetapi meskipun pengarahan itu tidak mudah, setiap pimpinan administratif harus melakukannya.

Kegagalan melakukan hal ini akan berakibat tidak tercapainya tujuan arsitek, apabila terjadi akan berarti tidak tercapainya tujuan-tujuan pribadi daripada para anggota yang bersangkutan. Inti kegiatan harus dilaksanakan oleh setiap pimpinan dalam pengarahan perilaku tersebut ialah dengan cara memberikan keyakinan kepada para bawahannya bahwa cara terbaik untuk tercapainya tujuan-tujuan pribadi mereka adalah melalui tercapainya tujuan arsitek dengan daya guna hasil guna semakin tinggi. Sebaliknya, perlu ditimbulkan kesadaran di kalangan para karyawan bahwa tidak tercapainya tujuan arsitek, akan merugikan bukan saja para pimpinan dan para arsitek.