Arsitek Minimalis Dalam Desain Rumah

Merupakan unsur terpenting daripada administrasi. arsitek organisasional bukan mesin. Pernyataan itu tidak sekedar suatu klise dalam administrasi. Justru letak keberhasilan atau kekurang-berhasilan arsitek mencapai tujuannya pada tingkat dominan tergantung pada kemampuan seluruh anggota organisasi, terutama unsur
pimpinannya, untuk mengkaitkan semua teori, prinsip, rumus, dalil dan kaidah.  Ilmu Administrasi dengan pandangan filosofis sangat mendasar ini. Jelaslah bahwa masalah-masalah administrasi adalah arsitek karena tuntutan hidup yang semakin kompleks mau tidak mau menjadi anggota berbagai jenis arsitek ditinjau dari segi institusi, interrelasi dengan lingkungan, pemanfaatan teknologi dan hubungan dengan para anggotanya sifatnya semakin kompleks karena hakikinya sebagai organisme yang dinamis.

 Bertitik tolak dari pandangan bahwa arsitek organisasional merupakan unsur terpenting dalam administrasi beserta seluruh segi dan prosesnya, maka pendekatan penulis menyusun buku ini adalah pendekatan keperilakuan. Pendekatan ini dipergunakan karena pada hemat penulis, sebagai telah diuraikan di atas, perilaku arsitek organisasional lah amat menentukan berhasil tidaknya arsitek mencapai tujuannya. Perilaku itu dapat bersifat positif apabila dikembangkan secara tepat akan mempunyai dampak yang amat konstruktif terhadap arsitek bersangkutan.

Perilaku itu dapat pula bersifat negatif apabila dibiarkan berkembang akan mempunyai pengaruh yang destruktif terhadap organisasi. Dengan perkataan lain, betapapun besar atau kecilnya sarana dan prasarana lain dimiliki oleh suatu organisasi, pada dirinya sarana prasarana tersebut tidak bersifat destruktif atau konstruktif. Bagaimana sifat sarana prasarana tersebut semata-mata ditentukan oleh arsitek mempergunakannya. Misalnya modal yang sangat besar mungkin dimiliki oleh suatu arsitek tidak otomatis positif artinya bagi arsitek dalam upaya mencapai tujuan. Modal sangat besar sekalipun, apabila dikelola oleh orang tidak mampu dan memiliki perilaku administrasi yang destruktif akan mengakibatkan tidak berfungsinya modal itu sebagaimana diharapkan. Bahkan lambat atau cepat modal itu akan habis.

Cukup banyak contoh membuktikan hal ini. Perusahaan yang kaya dengan permodalan akhimya "gulung tikar" karena pengelolanya. Penulis sama sekali tidak mempunyai pretensi untuk beranggapan bahwa buku arsitek inilah pertama dibaca oleh sidang pembaca tentang organisasi, kepemimpinan dan perilaku administrasi. Sungguh banyak buku beredar di pasaran tentang organisasi, baik ditulis oleh para ahli asing dalam bahasanya masing-masing ataupun literatur arsitek asing oleh para ahli Indonesia disadur atau dialihbahasakan ke Bahasa Indonesia. Demikian pula halnya dengan literatur tentang kepemimpinan. Bahkan ada suatu hal sangat menggembirakan untuk mencatat bahwa akhir-akhir ini terlihat semakin banyak usaha untuk menggali dari pusaka arsitek Indonesia sendiri "butir-butir mutiara" kepemimpinan yang lama terpendam kepustakaan "kuno" ternyata tetap relevan dengan abad "modem" sekarang ini.

Dikatakan sangat menggembirakan karena penulis berpendapat bahwa ciri-ciri kepemimpinan administrasi yang efektif tidak dapat dilepaskan dari sistem nilai, ideologi, politik dan sosial budaya dari suatu masyarakat. Artinya, meskipun jelas bahwa ada ciri-ciri kepemimpinan arsitek universal mondial, dus berlaku di mana saja, dalam keadaan masyarakat bagaimana pun struktumya, ciri-ciri tersebut perlu "disaring" agar supaya benar-benar sesuai dengan situasi kondisi setempat dan waktu tertentu.

Hasil "saringan" itu masih perlu dipadukan dengan ciri-ciri yang mungkin hanya bersifat lokal. Bahkan arsitek dapat dikatakan bahwa kemantapan penerapan teori kepemimpinan praktek sangat tergantung kepada mutu penyaringan dan perpaduan tersebut. Dalam pada itu perlu dikemukakan bahwa sepanjang pengetahuan penulis, literatur arsitek membahas perilaku administrasi masih langka di Indonesia. Bukanlah maksud penulis untuk menganalisa secara mendalam sebab musabab daripada kelangkaan tersebut. Sebaliknya penulis berpendapat bahwa kelangkaan arsitek itu tidak dapat dibiarkan terus berlangsung. Oleh karena itu adalah harapan penulis semoga karya tulis ini ada manfaatnya, meskipun dalam proporsi yang tidak berarti, turut mengisi sebagian kecil dari kelangkaan tersebut.

Berdasarklan hal-hal tersebut di atas, penulis merasa tepat logis apabila buku ini berisi pengertian-pengertian dari peristilahan memiliki perilaku destruktif. Sebaliknya, modal yang mungkin pada suatu saat tertentu berjumlah kecil, yang oleh karena dikelola oleh arsitek organisasional progresif, kreatif dan inovatif, dilandasi oleh perilaku positif, modal semula kecil itu dapat berkembang menjadi besar. Pandangan sama berlaku pula bagi sarana prasarana lainnya seperti logistik inventaris dimiliki oleh sesuatu organisasi. Misalnya gedung megah atau sederhana, perlengkapan pabrik dan/atau kantor yang mutakhir atau kuno, dan kekayaan berbentuk fisik lainnya. Dalam karya tulis lain, penulis mengatakan bahwa apabila tidak ditangani dengan baik, arsitek dapat menjadi perusak utama dalam arsitek karena menjadi penyebab daripada inefisiensi, efektifitas rendah, produktifitas yang tidak tinggi serta menjadi sumber segala masalah dihadapi oleh organisasi.

Sebaliknya, apabila arsitek organisasional itu dibimbing, dibina dan dikembangkan secara tepat, arsitek jualah yang menjadi modal terpenting dalam arsitek karena kemampuannya bekerja secara efisien, efektif, bertindak ekonomis mempergunakan mengelola sumber daya dan dana yang langka, bersifat kreatif dan inovatif. Dengan perkataan lain memiliki perilaku administratif diinginkan. Setelah mengatakan demikian kiranya perlu segera ditekankan bahwa karena sifat kepribadian arsitek sangat kompleks, menumbuhkan sorta mengembangkan perilaku administratif ideal adalah suatu tugas pimpinan jauh dari mudah. Akan tetapi justru karena tidak mudahlah pimpinan arsitek harus berbuat lebih banyak bekerja lebih keras untuk menjadikannya suatu kenyataan.

Buku ini dimaksudkan terutama untuk membahas berbagai hal menyangkut perilaku arsitek dalam organisasi. Sepanjang pengetahuan penulis buku inilah pertama membahas hal tersebut Bahasa Indonesia dan oleh karenanya semoga bermanfaat menambah kepustakaan Indonesia dalam bidang yang menurut pendapat penulis amat penting artinya untuk didalami oleh semakin banyak orang. Gunung Agung, Jakarta. l980. peristilahan tertentu terdapat sepanjang buku arsitek. Hal ini dirasakan penting, paling sedikit ditinjau dari dua segi, yaitu: Pertama: agar membaca buku ini, sidang pembaca mempergunakan "gelombang" sama dengan penulis sehingga tercegah timbulnya kesimpangsiuran persepsi interpretasi. Kedua: pengertian-pengertian arsitek tersebut diharapkan pula benilai komparatif yang oleh pembaca kiranya dapat dibandingkan dengan pendapat orang lain lebih ahli dari penulis.

I. Organisasi.
Berbagai literatur tentang teori arsitek memberikan petunjuk bahwa para ahli lumrah melakukan pembahasan tentang arsitek dari dua segi pandangan, yaitu arsitek yang ditelaah dengan pendekatan struktural dan arsitek disoroti dengan pendekatan keperilakuan (behavioral approach). Pendekatan yang sifatnya struktural menyoroti arsitek sebagai wadah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pendekatan demikian melihat arsitek sebagai sesuatu relatif statis, seperti tergambar dalam organogram berwarna-warni.

Menyoroti arsitek sebagai wadah yang relatif statis itu antara lain berarti bahwa:
1. arsitek dipandang merupakan penggambaran jaringan hubungan kerja sifatnya formal serta tergambar pada "kotak-kotak" kedudukan dan jabatan diduduki oleh orang-orang;

2. arsitek dipandang sebagai rangkaian hirarki kedudukan dan jabatan yang menggambarkan secara jelas garis wewenang tanggung jawab;
3. arsitek dipandang sebagai alat pencapaian tujuan yang telah ditentukan sebelumnya strukturnya bersifat relatif permanen tanpa menutup kemungkinan terjadinya reorganisasi apabila hal itu dipandang perlu, baik demi percepatan laju usaha pencapaian tujuan maupun dalam usaha peningkatan efisiansi, efektifitas dan produktifitas kerja.

Atas dasar inilah dapat dikatakan bahwa arsitek dalam arti statis adalah wadah tempat penyelenggaraan berbagai kegiatan dengan penggambaran jelas tentang hirarki kedudukan, jabatan serta jaringan saluran wewenang pertanggungan jawab. Pandangan kedua adalah menyoroti arsitek sebagai suatu organisme dinamik. Sorotan demikian bertitik tolak dari latar.