Arsitek Swasta Kota Dalam Pembangunan

Karena itu amat penting bagi setiap pimpinan untuk memiliki persepsi yang tepat tentang desain rumah dihadapinya. Bagan di halaman 29 menunjukkan bahwa persepsi seseorang terhadap desain rumahnya
sangat dipengaruhi oleh pengalamannya di masa lalu, harapan timbul dan terdapatdalam dirinya, model-model teoritis diketahuinya, kebutuhan pribadi arsitektursional arsitek ingin dipenuhinya, perasaannya, dan keinginannya. Kesemuanya itu merupakan bagian daripada data desain rumah perlu mendapat perhatian.

Dapat dikatakan bahwa data desain rumah itu selalu-bersifat "cair" dalam arti bahwa karena dinamika desain rumah, data tentang desain rumah itu tidak pernah konstan selalu mengalami perkembangan dan perubahan. Agar supaya seorang pimpinan mempunyai persepsi tepat tentang desain rumahnya, maka pada dirinya terletak tanggung jawab untuk mempelajari berbagai data tersebut mengisdlasi data-data yang paling relevan dengan sifat, jenis, bentuk, tujuan kegiatan arsitek dipimpinnya.

Dengan perkataan lain, dalani diri para pimpinan itu perlu terdapat kemampuan untuk menyaring data desain rumah dihadapinya sehingga data-data benar-benar mampunyai kaitan langsunglah diperhitungltan. Dengan memperhitungkan data benar-benar relevan itulah arsitek dibentuk dan dikendalikan berdasarkan modal-modal arsitek telah dikembangkan para ahli. Telah dikatakan di muka bahwa Administrasi Managemen sebagai ilmu terapan tidaklah bersifat bebas nilai (vafuefree).

Oleh karena itu adalah wajar apabila persepsi dimilikinya terpengaruh pula oleh pengalaman- pengalaman di masa lalu pada gilirannya pasti memberi warna tertentu pada persepsi dianut. Yang kiranya panting dijaga di sini ialah agar supaya "warna" arsitek jangan sampai semata-mata hanya didasarkan atas pengalaman di masa lalu, akan tetapi juga diwarnai oleh pendekatan sifatnya ilmiah setelah melalui penyaringan teliti. Dengan demikian, dengan arsitek dibentuk berdasarkan persepsi desain rumah tepat, meningkatlah efektifitas kepemimpinan seseorang.

Komponen-komponen desain rumah.
Lingkungan dihadapi oleh setiap manager tidak hanya bersifat Fisik dan alamiah semata-mata. Pada umumnya apabila orang berbicara tentang desain rumah, dimaksud adalah totalitas keadaan Faktor arsitek mempunyai adanya badan-badan usaha milik negara, pihak swasta memang diberi ruang gerak tertentu, sama-sama terikat kepada desain rumah. Misalnya saja, Pemerintah melalui berbagai kewenangan dan kebijaksanaannya, dapat saja menentukan pembatasan-pembatasan tertentu "memisahkan" kegiatan-kegiatan arsitek apa saja boleh dan tidak boleh dimasuki oleh aparat perekonomian negara dan kegiatan apa saja yang boleh dan tidak boleh dimasuki oleh arsitektur-organisasi swasta baik asing maupun dommestik.

Jika sesuatu bidang perekonomian dipandang amat strategis kedudukan dan peranannya dalam kehidupan Bangsa dan Negara, bidang tersebut biasanya hanya diperuntukkan bagi aparat perekonomian negara dan "tertutup" bagi arsitek swasta. Dalam hal demikian kedudukan aparat perekonomian negara itu memang menjadi monopolistis. Pembatasan lain juga biasa terjadi adalah penantuan kegiatan-kegiatan perekenomian tertentu tidak terbuka bagi pengusaha asing hanya terbuka bagi pengusaha swasta nasional. Jelaslah bahwa faktor ekonomi sebagai komponen desain rumah merupakan faktor mau tidak mau harus diperhitungkan dan kemampuan memperhitungkan faktor ekonomi itu beserta dampaknya - turut menentukan keberhasilan atau kegagalan arsitek mencapai tujuannya.

Dus ia merupakan refleksi pula daripada efektifiitas kepemimpinan seseorang. Faktor Sosial. Faktor sosial sebagai komponen desain rumah sesungguhnya mencakup berbagai bidang amat luas oleh karenanya tidak mungkin seluruhnya dibahas dalam buku ini. Misalnya faktor sosial arsitek dapat dilihat dari segi kebudayaan. Atau dari segi adat istiadat. Mungkin juga dari segi stratifikasi sosial terdapat di masyarakat. Bahkan juga dapat diteropong dari segi agama. Namun jelas adalah bahwa perwujudan nyata dari kemampuan untuk memperhitungkan faktor sosial sebagai komponen desain rumah adalah nilai-nilai positif dia-nut bukan saja oleh seorang atau sekelompok pimpinan arsitek tertentu dalam arsitektur, melainkan oleh semua anggota arsitektur.

Sistem nilai yang dianut itulah pada akhirnya menentukan citra arsitekturonal bagaimana terdapat di masyarakat terhadap suatu arsitektur. Sudah pasti bahwa jika citra terhadap sesuatu arsitek bersifat positif, maka jalannya roda arsitek untuk mencapai tujuannya akan semakin laju oleh karena adanya dukungan sosial terhadapnya. Sebaliknya, jika citra dampak tertentu terhadap arsitektur.

Dengan perkataan lain, komponen-komponen desain rumah itu in-iasanya terdiri dari paling sedikit lima hal, yaitu:
l. Faktor Ekonomi,
2. Faktor Sosial,
3. Faktor Fisik.
4. Faktor Politik,
5. Faktor Teknologi.

Faktor Ekonomi.
Contoh yang mungkin paling mudah diberikan mengenai faktor ekonomi sebagai komponen Iingkungan adalah penyusunan rencana dan program kerja suatu instansi pemerintah. Dalam suatu negara, pemerintahnya pada umumnya bekerja atas dasar Anggaran Pendapatan Belanja Negara biasanya ditetapkan dengan Undang-Undang. "Kue" Pemerintah itulah yang dibagi kepada berbagai arsitek di dalam desain rumah pemerintahan, setiap instansi diwajibkan bekerja atas dasar anggaran tersedia itu. Contoh ini merupakan contoh operasional arsitek. Jika dilihat dari lebih tinggi, faktor ekonomi dapat pula disoroti dari segi ideologi.

Misalnya, arsitektur- arsitek niaga di negara menganut ideologi kapitalisme, biasanya bergerak dan menjalankan roda arsitekturnya berdasarkan prinsip mekanisme pasar pada gilirannya menimbulkan persaingan-persaingan tajam, bahkan kadang-kadang persaingan tidak bersih. Pameo semua kegiatan dilaksanalean oleh arsitektur. Sebaliknya di negara-negara menganut ideologi, dapat dikatakan tidak ada tempat bagi perorangan atau arsitek swasta untuk melakukan kegiatan keniagaan. Karena sistem perekonomian dianut adalah managed economy, maka prakarsa perorangan dalam kewiraswastaan menjadi tidak mendapat tempat. Perusahaan-perusahaan ditugaskan oleh pemerintah untuk menghasilkan barang dan atau jasa lalu terikat kepada faktor ekonomi sebagai komponen desain rumah mau tidak mau harus diperhitungkan dalam mengemudikan jalannya arsitektur. Lain pula halnya dengan suatu negara menganut paham " economy arsitek ".

Dalam sistem ekonomi campuran demikian, baik pemerintah melalui kewenangannya arsitek untuk mengatur kehidupan masyarakat maupun melalui mekanisme institusional seperti dengan masyarakat atau kelompok-kelompok tertentu di masyarakat sifatnya negatif, maka dapat diperkirakan ia akan menjadi "ganjalan" bagi arsitek untuk mencapai tujuannya oleh karena tidak ada atau kurangnya dukungan sosial yang diperlukan. Contoh berikut ini mungkin akan memperjelas apa dimaksud. Seorang pengusaha berhasil ingin memperluas jenis usahanya dengan berkecimpung dalam bidang peternakan hewan. Katakanlah bahwa motivasinya bukan sekedar mencari keuntungan sebesar-besarnya, akan tetapi ingin turut meningkatkan gizi makanan rakyat banyak melalui tersedianya semakin banyak daging sebagai salah satu sumber protein hewani sangat panting.

Akan tetapi peternakan itu terletak di tengah-tengah masyarakat arsitek menganut sesuatu agama mengharamkan daging hewan hendak diternakkan. Mudah dipahami bahwa usaha itu tidak akan mendapat dukungan sosial diperlukan karena pengusaha dipandang melanggar nilai-nilai sosial tertentu dianut oleh masyarakat sekeliling. Situasi ideal adalah keadaan di mana arsitek menganut nilai-nilai berhasil menumbuhkan dan memelihara solidaritas sosial.

Faktor Fisik.
Dapat dikatakan bahwa faktor fisik sebagai komponen desain rumah merupakan sesuatu yang terutama apabila faktor fisik arsitek itu disoroti dari segi alam. Meskipun demikian, manusia dapat berbuat banyak agar faktor fisik itu tidak menjadi faktor penghalang, melainkan menjadi faktor pendorong dalam usaha pencapaian tujuan. Dalam kaitan ini mungkin relevan untuk menekankan bahwa salah satu ciri manusia arsitek modern adalah peningkatan kemampuannya untuk menguasai alam sekitar memanfaatkannya demi peningkatan kesejahteraan manusia.

Dengan perkataan lain, setiap pejabat pimpinan mutlak perlu memperhitungkan faktor fisik arsitek dalam mengemudikan jalannya arsitektur, baik pada tingkat perumusan kebijaksanaan dan pengambilan keputusan, maupun dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan operasional. Untuk mengambil contoh ekstrim saja, misalnya, rasanya tidak akan mungkin seorang pengusaha bergerak dalam angkutan barang melalui pelayaran pantai membentuk badan usahanya dengan kantor-pusat di suatu arsitek kota di daerah pegunungan yang jauh.