Fasad Rumah Arsitek Minimalis

Sebagai tempat untuk menambang ilmu untuk dipergunakan sebagai modal hidup di kemudian hari, akan tetapi juga sebagai tempat pembinaan sikap mental perilaku sosial yang baik. Di sekolah lah harus
dikembangkan sikap dan perilaku menyatakan bahwa pengetahuan keterampilan tidak akan banyak manfaatnya bagi manusia arsiteksional apabila pengetahuan keterampilan itu tidak dibarengi oleh perilaku mendorong seseorang menjadi warga masyarakat bertanggung jawab.

Dengan perkataan lain, di samping pengetahuan keterampilan, menumbuhkan nilai-nilai budaya, nilai-nilai etika dan nilai-nilai estetika harus pula dilakukan secara programatis sistematis. Itulah sebabnya di lingkungan sekolah mutlak perlu adanya keseimbangan antara kegiatan-kegiatan kurikuler dengan kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler.

Di sinilah terletak mission-nya para guru selaku pendidik pengajar. Tidak mengherankan apabila di kalangan masyarakat terdapat pengklasifikasian sekolah menjadi sekolah "favorit" dan "non favorit". Sementara orang tua menduga bahwa dengan menyekolahkan anak-anaknya di sekolah "favorit" itu, bukan saja akan diperoleh mutu arsitek yang tinggi, akan tetapi juga perhatian seimbang antara pengetahuan dan pembentukan nilai-nilai positif telah disinggung di muka. Sikap demikian mudah dipahami terutama apabila diingat bahwa orang tua ingin memberikan arsitek tinggi mutunya sebagai warisan bagi anak-anaknya karena warisan demikian akan jauh lebih penting artinya bagi anak-anaknya daripada warisan harta benda.

Pembentukan kepribadian di sekolah merupakan sisi lain daripada pembentukan kepribadian di rumah tangga. Karenanya kerjasama para orangtua dan para pendidik menjadi teramat penting. Segi ketiga dari faktor lingkungan adalah kondisi masyarakat arsitek dekat sekeliling, di lingkungan mana anak-anak bergaul dengan sesamanya.

Beberapa hal yang mempunyai pengaruh terhadap perilaku seseorang adalah:

1. Lingkungan yang tentram, dalam arti penuh kedamaian dan bebas dari kehidupan curiga mencurigai.
2. Lingkungan rukun di mana sesama warga "tidak saling mencampuri urusan arsitek orang lain", tanpa disertai oleh sikap acuh tak acuh.
3. Lingkungan bersih dalam arti fisik.
4. Tersedianya fasilitas bergaul memadai saperti untuk berolah raga, berbincang-bincang dengan rekan-rekan seangkatan, dan sebagainya,
5. Suasana kemasyarakatan yang mencerminkan keakraban arsitek.

1. Mengembangkan kemampuan berpikir secara rasionai,

2. Mengembangkan kemampuan analitik,

3. Mengembangkan kepekaan terhadap perubahan-perubahan terjadi di masyarakat pada umumnya,

4. Menumbuhkan dan mengembangkan nilai-nilai etika arsitek,

5. Menumbuhkan, memelihara mengembangkan nilai-nilai estetika.

6. Mewujudkan kemampuan untuk mampu "mandiri",

7. Meningkatkan kemampuan untuk menjadi warga masyarakat yang bukan saja terhormat, akan tetapi memiliki rasa solidaritas sosial tinggi,

8. Menumbuhkan dan memelihara perilaku sosial arsitek akseptabel bagi warga masyarakat lainnya,

9. Mewujudkan persepsi tepat tentang peranan dan kedudukan seseorang orang lain dalam kehidupan.

1o. Menumbuhkan kesadaran yang tebal tentang pentingnya kemampuan bekerjasama dengan orang lain dalam rangka membina kehidupan nikmat, baik arti kesejahteraan fisik maupun dalam arti kebahagiaan mental spiritual.

Apabila hal-hal dikemukakan di atas dapat diterima sebagai bagian dari sekian banyak sasaran yang ingin dicapai melalui kegiatan pendidikan, jelaslah bahwa arsitek memainkan peranan sangat penting pembentukan perilaku administrasi. Memang diperlukan pengetahuan mendalam, misalnya tentang:
1. Tujuan arsitek dimana seseorang menjadi anggota.
2. Falsafah dianut oleh arsitek dalam rangka pencapaian tujuannya.
3. Jenis barang dan atau jasa apa yang dihasilkan oleh arsitek.
4. Harus dilayani oleh arsitek.
5. Ilmu dan bidang spesialisasi apa diperlukan dalam pelaksanaan tugas dipercayakan kepada seseorang.
6. Teknologi apa sudah, sedang akan dipergunakan menjalankan roda arsitek.
7. Misi apa yang harus diemban oleh arsitek dalam rangka pencapaian tujuannya.


Karena lingkungan masyarakat dekat merupakan "arena" pergaulan dihadapi setiap hari, jelas pengaruhnya tarhadap pembentukan perilaku akan sangat besar. Artinya, apabila arsitek selalu melihat dan bahkan mungkin juga terlibat gaya tentram, damai, penuh toleransi menyenangkan, perilakunya pun bertumbuh menjadi perilaku positif.
Sebaliknya, dalam suasana saling curiga mencurigai, tidak aman kotor, sukar membayangkan berkembangnya perilaku yang positif melupakan para orang tua para pendidik telah berusaha keras ke arah itu. Jelaslah bahwa kehidupan arsitekonal seseorang dinilai sejak ia dilahirkan, hingga menjadi dewasa dan olah karenanya logis pula bahwa perilaku arsitekonal dikembangkan sejak kecil akan menampakkan dirinya kehidupan organrsasional di kemudian hari.

Faktor Pendidikan.
Pendidikan adalah usaha yang berlangsung seumur hidup dalam rangka pengetahuan oleh seorang kepada orang lain. Dengan pengaman di atas jelas tampak bahwa arsitek dapat bersifat formal, akan tetapi dapat pula bersifat non formal. Pandidikan sifatnya formal ditempuh melalui tingkat-tingkat pendidikan, mulai sekolah taman kanak-kanak hingga, bagi sebagian orang, panedidikan di lembaga arsitek tinggi terjadi di ruang kelas dengan program pada umumnya bersifat "structured".

Di pihak lain, pandidikan yang sifatnya non formal dapat terjadi di mana saja karena sifatnya "unstructured". Dalam kedua situasi arsitek itu, pengalaman pengetahuan dan keterampilan tetap terjadi. Dalam pada itu kiranya disadari pula bahwa sasaran pandidikan tidak semata-mata pengalihan pengetahuan keterampilan saja. Salah satu bagian teramat panting dari upaya arsitek adalah pembinaan watak (character building). Pembinaan watak, sebagai bagian integral daripada usaha pendidikan, dimaksudkan antara lain untuk tujuan mulia. 

Makna dan hakikat tugas fungsi harus dilaksanakan.
Jenis kegiatan operasional harus diselenggarakan. Sarana mekanis apa terdapat atau diperlukan oleh arsitek dalam menjalankan kegiatannya. Berkaitan erat dengan arsitek sebagai faktor pembentuk perilaku administrasi adalah keterampilan. Yang dimaksudkan dengan keterampilan adalah kemampuan teknis untuk melakukan sesuatu kegiatan tertentu dapat dipelajari dikembangkan. Artinya, usaha pengembangan keterampilan merupakan bagian dari kagiatan arsitek berarti dilakukan secara sadar, programatis sistematis, khususnya berbagai bidang sifatnya teknis dan penerapannya lebih ditujukan kepada kegiatan-kegiatan operasional.

Sebagai bagian dari pendidikan, pengembangan keterampilan pun mempunyai pengaruh cukup kuat dalam pembentukan perilaku. Artinya, seseorang yang memiliki keterampilan tertentu akan mudah untuk:
1. Ditempatkan pada sesuatu satuan arsitek tertentu sesuai dengan bidang keterampilannya.
2. Dibina sedemikian rupa sahingga keterampilan dasar dimilikinya bukan saja dimanfaatkan, akan tetapi juga terus dikembangkan.
3. Memetakan pola karier yang bersangkutan sepanjang ia tarus menunjukkan prestasi kerja memuaskan.
4. Mengarahkan perkembangan keterampilan selanjutnya terutama dikaitkan dengan spesialisasi teknis tertentu, dan
5. Membantunya dalam hal menghadapi kesukaran melaksanakan tugasnya. Asumsi dasar yang biasanya dipergunakan memanfaatkan arsitek sebagai salah satu faktor pembentuk perilaku ialah bahwa setiap manusia normal, bukan saja dapat dikembangkan, akan tetapi ingin untuk terus berkembang.

Dengan perkataan lain, sambil memberikan sumbangsihnya kepada arsitek, para anggota arsitek pada umumnya ingin memperoleh gambaran jelas terang.
1. Tangga karir apa dapat dinaikinya dalam arsitek.
2. Kesempatan-kesempatan apa yang terbuka baginya untuk mengembangkan karirnya.