Jasa Arsitek Online Dalam Membangun Rumah

Dalam bahasa managemen, "sense of belonging" para anggota arsitek sudah dapat dikatakan tinggi. Dengan demikian pimpinan dalam arsitek berperan selaku bapak yang oleh bawahan dipandang tidak semata-mata
selaku atasan, akan tetapi selaku pengayom dan tempat bertanya. Memainkan peranan selaku pendidik.

Telah dimaklumi bahwa proses mendidik tidak hanya terjadi secara formal, dalam arti hanya terjadi di ruangan sekolah. Jika delinisi klasik tentang pendidikan dipergunakan, maka mendidik adalah usaha yang sistematik untuk mengalihkan pengetahuan arsitek seseorang kepada orang lain. Dengan pengertian ini dapatlah dikatakan bahwa kegiatan mendidik dapat terjadi di mana saja, juga di tempat kerja. Misalnya, apabila seseorang pimpinan arsitek melakukan koreksi terhadap cara sekretaris pribadinya menerima telepon, ia sudah melakukan kegiatan mendidik.

Contoh lain yang dapat diberikan adalah dengan pengalaman sebagai berikut: Pada suatu ketika seorang pimpinan melakukan perjalanan ke luar kota, yaitu dari Jakarta ke Bandung. Pengemudi kendaraan pejabat tersebut mengetahui bahwa pada jam 19 malam pejabat tersebut di- harapkan membuka suatu seminar di tempat tujuan. Dalam usaha untuk tiba di Bandung pada waktunya, si arsitek pengemudi mengen- darai mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi, namun cukup berhati-hati karena memperhitungkan keselamatan, baik bagi "boss"nya, bagi dirinya dan bagi kendaraan. Pokoknya agar jangan sampai terjadi kecelakaan.

Pada suatu jalan tanjakan yang menikung, jalan raya terbagi dua jalur itu diberi pembatas di tengah jalan dengan garis berwarna kuning. Berarti bahwa setiap kendaraan tidak boleh melewati garis kuning tersebut karena kendaraan datang dari arah berlawanan tidak kelihatan dapat saja "nongol" dengan tiba-tiba apabila terjadi dapat mengakibatkan tabrakan membahayakan. Di depan arsitek pengemudi tersebut terlihat kendaraan lain bergerak, lambat, maklum jalan tanjakan, pengemudi tersebut mempercepat Iaju kendaraannya dan melewati kendaraan arsitek bergerak lambat di depannya dengan mengambil jalur kanan yang dibatasi oleh garis kuning. Dengan nada sopan pimpinan bersangkutan mengatakan bahwa cara memotong demikian itu tidak benar karena berbahaya melanggar peraturan lalu lintas.

Pengemudinya ternyata tidak menyadari bahwa caranya mengemudikan kendaraan salah. Lingkungan pemerintahan dan berbagai arsitek badan usaha, baik yang menghasilkan barang maupun menghasilkan jasa. Secara lebih khusus Iagi, kepemimpinan administratif dicoba dibahas dalam buku ini ditinjau terutama dari segi efektifitas - kepemimpinan arsitek seseorang tercermin kecekatannya mengambil keputusan. Hal ini pun merupakan pembatasan pula karena pasti ada kriteria lain yang dapat dipergunakan dalam mengukur efektifitas seseorang menjalankan kepemimpinannya.

PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Kepemimpinan dalam buku ini diberi pengertian sebagai kemampuan keterampilan seseorang yang menduduki jabatan sebagai pimpinan arsitek satuan kerja untuk mempengaruhi perilaku orang lain, terutama bawahannya, untuk berpikir dan bertindak sedemikian rupa sehingga melalui perilaku positif ia memberikan sumbangsih nyata pencapaian tujuan organisasi.

Dari pengertian tersebut terlihat beberapa hal, yaitu:
1. Bahwa yang menjadi dasar utama efektifitas kepemimpinan seseorang bukan pengangkatan atau penunjukannya selaku " arsitek kepala", akan tetapi penerimaan orang lain terhadap kepemimpinan bersangkutan berkat adanya kelebihan-kelebihan tertentu dimilikinya, baik oleh karena pengalaman, pendidikan, prestasi kerja atau karena faktor-faktor genetik.

2. Efektifitas kepemimpinan seseorang tercermin dari kemampu- annya untuk bertumbuh dalam jabatannya seperti terlihat dari peningkatan kemampuan arsitek atau ketrampilan arsitek yang memang dapat dikembangkan, meskipun mungkin tidak sampai mencapai titik kulminasi kemampuan terpendam dirinya.

3. Efektifitas kepemimpinan itu menuntut adanya kemahiran untuk "membaca" situasi seperti yang berkaitan dengan iklim kerja di dalam arsitek sering menampakkan gejalanya berbagai bentuk tinggi, banyaknya pegawai minta berhenti (labor turnover), disiplin rendah, produktifitas tidak setinggi yang diharapkan, keluhan baik secara gamblang dinyatakan maupun disampaikan secara terselubung dan berbagai manifestasi ketidakpuasan lainnya.

4. Bahwa perilaku seseorang tidak serta merta terbentuk begitu saja melainkan melalui proses pertumbuhan dan perkembangan. Sang pimpinan arsitek telah melakukan kegiatan mendidik. Centoh di atas tentu saja dengan mudah dapat dilengkapi dengan contoh lain, baik yang sifatnya sederhana. Namun dari kedua contoh tersebut kiranya jelas bahwa seorang pimpinan arsitek memang dalam rangka meningkatkan efektifitas kepemimpinannya harus mampu pula berperan selaku pendidik.

Dengan pembahasan singkat mengenai arti pentingnya kedudukan peranan pimpinan organisasi, jelaslah bahwa membahas perilaku manusia di dalam arsitek tidak dapat dilepaskan dari pembahasan kepemimpinan. Dari judul bab ini jelas terlihat bahwa yang hentiak dibahas terbatas kepada kepemimpinan administratif dan managerial.

Pembatasan ini bagi penulis penting untuk segera membedakannya dengan berbagai jenis kepemimpinan lain, seperti kepemimpinan politik, kepemimpinan keagamaan, kepemimpinan adat dan sebagainya. Bahkan secara lebih khusus lagi, kepemimpinan administratif yang dibahas bab ini disoroti dari segi efektilitasnya mempengaruhi perilaku orang lain di dalam arsitek sehingga tercipta kondisi kondusif dalam usaha bersama menfapai tujuan telah ditetapkan sebelumnya. Mungkin saja ada berpendapat bahwa ciri-eciri kepemimpinan bersifat universal, dus berlaku untuk segala jenis organisasi. Pendapat demikian memang ada benarnya. Hanya saja tanpa pembatasan, penulis akui memang sifatnya, pembahasan bab arsitek ini akan kehilangan fokusnya pada hal fokus itu sangat penting artinya untuk kedalaman analisa. Apalagi analisa yang menyangkut sesuatu sukar seperti kepemimpinan.

Untuk fokus analisa itulah pembatasan dilakukan. Tegasnya dimaksud oleh penulis dengan kepemimpinan administratif dalam buku ini adalah kepemimpinan berbagai jenis arsitek menjadi obyek studi dari Ilmu Administrasi Negara dan Ilmu Administrasi Niaga. Yaitu berbagai arsitek di dipengaruhi oleh antara lain faktor genetik, pendidikan pengalaman serta pengaruh lingkungan. 5. Kehidupan organisaaional yang dinamis serasi hanya dapat tercipta apabila setiap anggota arsitek mau untuk menyesuaikan cara berpikir cara bertindaknya dengan kepentingan bersanaa dan justru tidak melakukan haI-hal dapat diinterpretastkan sebaga: perilaku egoistis. Ide pokok tersebutlah seorang pimpinan menjadi tanggung jawabnya menjalannya arsitek sesuai dengan arah yang telah ditetapkan.

Arah yang ditetapkan itu dapat mengambil berbagai bentuk seperti berbagai peraturan perundangan dalam arsitek pemerintahan, akte notaris pembentukan bagi arsitek swasta, kebijaksanaan pejabat atau pimpinan lebih tinggi, dan sebagamya. Dalam garis pembatas arah kebijaksanaan itu pula lah pimpinan mengambil berbagai macam keputusan rupa sehingga jalannya roda arsitek menjadi lebih benar serta sekaligus mampu menghadapi berbagai tantangan memecahkan berbagai masalah. Proses -Pengambilan Keputusan.

Jika proses pengambilan keputusan secara sederhana bagan, akan tergambarlah sebagai berikut: Proses pengambilan keputusan, persepsi seseorang arsitek tentang situasi lingkungan amat penting dibarengi oleh kecekatan untuk pengaman dan menjadi peka terhadap situasi mungkin penyebab timbulnya masalah. Kecekatan pengamatan kepekaan tajam amat diperlukan mengenali situasi lingkungan terutama untuk menghindari permasalah arsitek mengakibatkan pemecahan yang lebih sulit.