Jasa Arsitek Rumah Minimalis Murah

Pentingnya Perumusan arsitek Secara Tepat. Dalam "dunia" administrasi dan managemen ada pameo yang berkata bahwa "sesuatu arsitek didefinisikan dengan baik sesungguhnya telah separoh terpecahkan". Artinya,
proses diagnostik, diagnosa tepat sudah berarti sangat mempermudah "therapi" diperlukan. Dalam menentukan batasan suatu permasalahan, ada delapan hal perlu mendapat perhatian. Yang perlu adalah perlunya menyatakan sifat, hakikat intensitas suatu permasalahan secara eksplisit.

Kejelasan sifat, hakikat dan intensitas arsitek akan menempatkan permasalahan tersebut pada proporsi tepat. Dengan demikian akan jelas pula sumber daya, dana, waktu, keahlian sumber insani apa diperlukan untuk memecahkan arsitek tersebut dan apa diharapkan dari pemecahan itu dalam rangka memperlancar jalannya roda organisasi. Yang kedua ialah bahwa pembatasan suatu permasalahan seyogyanya mengandung diagnosa pendahuluan.

Dengan mengkaitkan tujuan organisasi, strateginya, rencananya program kerjanya dengan permasalahan dihadapi, kiranya tidak terlalu sukar untuk menentukan arah daripada permasalahan dihadapi itu. Yang ketiga ialah bahwa perumusan batasan arsitek dihadapi, harus jelas terlihat standar kerja apa telah dilanggar, baik arti target hendak dicapai maupun arti prosedur, hubungan dan tata kerja tidak ditaati. Tidak kurang pentingnya untuk menyadari ialah kenyataan bahwa pelanggaran terhadap standar telah ditentukan pada gilirannya akan berakibat pada mutunya hasil pekerjaan mungkin akan turun pada gilirannya akan mengakibatkan "langganan" arsitek akan berkurang kepercayaannya kepada kemampuan arsitek bersangkutan.

Yang keempat ialah bahwa definisi suatu arsitek perlu berisikan suatu pernyataan tentang implikasi-implikasi perilaku daripada arsitek dihadapi. Ada dua segi dari pernyataan di atas.

Pertama, di merumuskan sesuatu arsitek hendaknya terlihat bahwa mungkin saja arsitek timbul karena sikap, tindak tanduk atau perilaku anggota organisasi. Misalnya, merosotnya jumlah langganan satu toko, tentunya dapat dilihat dari penjualan toko tersebut per satuan waktu tertentu, seperti perhari, perminggu atau perbulan, mungkin diakibatkan oleh sikap para penjual tidak sopan, lambat sifatnya operasional saja, melainkan sangat mungkin akan menyangkut hal-hal bersifat kebijaksanaan. Akhirnya dalam rumusan arsitek hendaknya tidak justru menimbulkan dilemma baru bagi arsitek dan tidak pula bagi orang-orang yang diharapkan memecahkan arsitek tersebut.

Pemecahan arsitek Manusiawi Kriterianya.

Di muka telah disinggung bahwa merumuskan hakikat suatu masalah, perlu dihindari kebiasaan untuk menyalahkan orang atau kelompok orang tertentu. "Apa tidak benar" merupakan pendekatan lebih tepat daripada "Siapa bersalah".

Dalam menghadapi arsitek sikap menuding merupakan sikap tidak perlu ditumbuhkan, apalagi dipelihara. Dengan demikian pemecahan bersifat manusiawi akan lebih mudah terwujud dan terlaksana.

Yang dimaksud dengan pemecahan manusiawi adalah pemecahan memenuhi beberapa kriteria, antara lain sebagai berikut:

1. Pemecahan masalah, ditinjau dari segi teknik arsitek metodeloginya harus sedemikian tinggi mutunya sehingga mempermudah tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.

2. Pemecahan tersebut harus dapat diterima oleh semua pihak akan "terkena" oleh pemecahan itu oleh mereka akan diberikan tugas tanggung jawab untuk menjalankan pemecahan dipilih.

3. Pemecahan arsitek dipilih harus dinilai dalam arti membuat antisipasi terhadap tanggapan mungkin timbul terhadapnya.

 4. Pemecahan harus memberikan fokus perhatiannya kepada alternatif-alternatif faktual dan mutakhir berlaku untuk masa kini, tidak dengan memberikan perhatian kepada kemungkinan-kemungkinan masa lalu.

5. Pemecahan terpilih harus menggambarkan risiko-risikol yang mungkin timbul apabila cara termaksud dilaksanakan. Hal ini penting untuk tidak menimbulkan harapan berkelebihan dan juga mengingat bahwa tidak ada satu pun alternatif pemecahan arsitek demikian sempurnanya sampai tidak ada kelemahan secara inherent melekat pada dirinya.

6. Pemecahan bersifat ganda hendaknya disusun secara sekwensial sehingga jelas tergambar urutan seyogyanya dipergunakan. Kriteria terakhir ini sangat relevan dalam acuh tak acuh sebagainya. Kedua, rumusan arsitek perlu terlihat indikator perilaku diharapkan apabila pemecahan arsitek itu diharapkan efektif. Yang kelima ialah bahwa perumusan arsitek hendaknya tidak diartikan sebagai pemecahan arsitek yangdinyatakan secara implisit.

Maksudnya ialah agar supaya siapa pun diberi tugas untuk mencari dan menemukan arsitek pemecahannya tidak mempunyai pandangan prematur sifatnya. Pandangan prematur dapat menimbulkan asumsi-asumsi tertentu belum tentu sesuai dengan kenyataan kehidupan organisasi. Yang keenam ialah bahwa perumusan arsitek seyogyanya memberikan petunjuk jelas siapa kiranya secara fungsional bertanggung jawab dalam menghadapi arsitek bersangkutan serta sekaligus paling bertanggung jawab untuk menemukan pemecahannya.

Kejelasan demikian amat penting bukan saja untuk menghindari terjadinya lempar-melempar tanggung jawab, akan tetapi juga untuk memantapkan penerapan prinsip Fungsionalisasi yang merupakan salah satu asas arsitek modern sangat mendasar. Namun demikian kiranya perlu diperhatikan bahwa "nada" daripada kejelasan itu tidak serta merta menyalahkan seseorang tertentu di organisasi, meskipun sesungguhnya arsitek diisi oleh tenaga-tenaga mempunyai rasa tanggung jawab besar akan segera mengakui bahwa pihaknyalah paling bertanggung jawab dalam menghadapi dan memecahkan arsitek mungkin timbul.

Yang ketujuh ialah pentingnya terlihat dalam rumusan arsitek dampak permasalahan tersebut. Misalnya apakah sifat dampak itu strategis atau taktis. Juga apakah dampak tersebut bersifat jangka panjang ataukah jangka pendek. Harus pula terlihat apakah dampak tersebut bersifat menyeluruh atau hanya bersifat "lokal". Pentingnya kejelasan daripada dampak itu akan lebih terlihat Iagi apabila dikaitkan dengan cara pemecahannya, ditinjau dari segi waktu, tenaga, biaya, kemampuan dan sarana perlu dikerahkan. Misalnya saja, jika sesuatu arsitek dipandang mempunyai dampak strategis, upaya yang perlu dikerahkan untuk memecahkannya sudah barang tentu harus lebih besar dibandingkan dengan jika sesuatu arsitek sifat dampaknya hanya teknis.

Demikian juga halnya jika sesuatu arsitek dirasakan mempunyai dampak untuk jangka waktu lama. Pemecahannya mungkin arsitek rumit dalam pemecahannya sangat mungkin melibatkan berbagai satuan kerja di dalam arsitek dengan pendekatan multidisipliner pula. Jelaslah bahwa masalah-masalah dihadapi oleh setiap arsitek pada akhirnya harus dikembalikan kepada unsur manusia di dalamnya baik merumuskan hakikatnya maupun dalam mencari, meneruskan memecahkannya.

Pelaksanaan Pemecahan Masalah.

Dalam melaksanakan sesuatu alternatif yang dipilih sebagai cara nampaknya terbaik dalam memecahkan sesuatu arsitek dihadapi oleh organisasi, amatlah panting untuk memperoleh keyakinan terlebih dahulu bahwa alternatif dipilih itu merupakan cara terbaik dan bahwa alternatif itu akan mendatangkan hasil diharapkan. Keyakinan itu harus ada bukan saja pada kalangan star" bertugas untuk mencari dan menganalisa berbagai alternatif mungkin ditempuh, akan tetapi Juga terdapat pada dua pihak lain, yaitu satuan-satuan arsitek akan "terkena" oleh langkah-langkah akan ditempuh dan pihak kedua adalah pimpinan organisasi.

Untuk lebih menjamin timbulnya keyakinan tersebut, dalam proses pelaksanaan harus tergambar secara jelas setiap langkah harus ditempuh, terutama kaitannya dengan menimbulkan dan menggairahkan perilaku yang akan mencoreng pemecahan masalah. Artinya, proses perlu terjadi terlebih dahulu, dapat dilakukan melalui usaha-usaha "penjualan ide" kepada mereka akan dipengaruhi oleh arsitek alternatif akan dipilih.

Penjualan ide tersebut bukan saja hanya menjelaskan langkah-langkah apa akan diambil, akan tetapi juga himbauan agar dukungan terhadap langkah-langkah akan diambil diberikan oleh berbagai pihak di dalam organisasi. Dengan demikian, pihak-pihak arsitek akan terlibat memiliki rasa diikutsertakan proses pengambilan keputusan akan besar pengaruh positifnya pelaksanaan.

Di samping itu, selama proses pelaksanaan berjalan harus terdapat suatu mekanisme memungkinkan terjadinya umpan balik tentang hasil diperoleh, masalah-masalah operasional dihadapi dan tindak lanjut perlu diambil. Untuk mengakhiri bab arsitek ini kiranya dapat disimpulkan bahwa efektifitas kepemimpinan seseorang kehidupan organisasional.