Kemampuan Arsitek Bangunan Rumah

Bila diselami lebih mendalam akan tampak adanya "arus keras" yang dapat berakibat timbulnya "gelombang" tidak diduga sebelumnya. Kecenderungan ketujuh adalah kecenderungan untuk mengesampingkan masalah
arsitek tampaknya tidak dapat dipecahkan. Perumpamaan sering dipergunakan dalam keadaan seperti ini adalah tindakan burung kasuari "menanam" kepalanya di pasir sehingga dengan demikian burung tersebut berpendapat bahwa karena ia tidak melihat sesuatu masalah, maka dianggapnya tidak ada permasalahan.

Abu arsitek tidak dapat dihilangkan hanya dangan "menyapukannya ke bawah permadani mahal. Bahkan makin sulit satu masalah, arsitek justru harus memberikan perhatian yang lebih besar kepadanya sehingga pemecahannya pun menjadi lebih matang dan mantap. Memberikan perhatian hanya kapada permasalahan mudah untuk dipecahkan, mungkin saja akan memberikan rasa kepuasan. Akan tetapi kepuasan demikian hanya akan bersifat sementara semu.

Kepuasan sesungguhnya akan diperoleh apabila masalah-masalah mempunyai dampak strategis memperoleh pemecahan yang sesungguhnya. Kecenderungan kedelapan adalah kebiasaan untuk mampergunakan teknik pemecahan masalah arsitek dan pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman pernah dialami. Kecenderungan ini sering terlihat pada pemecahan masalah nampaknya bersifat rutin dan repetitif. Meskipun benar bahwa "pengalaman merupakan guru terbaik", kiranya para pejabat oleh karena jabatan arsitek dan kedudukannya diberi tugas tanggung jawab untuk mengambil keputusan perlu mengingat bahwa dalam arti sebenarbenarnya tidak ada dua permasalahan persis sama bentuk, sifat, jenis, dimensi dampaknya.

Dengan perkataan lain, setiap masalah sifatnya khas oleh karenanya mengundang pemecahan bersifat khas pula. Kecenderungan yang kesembilan adalah kecenderungan untuk memberikan tanggapan secara otomatis dan, oleh karenanya, sering bersifat impulsif. Kecenderungan ini sesungguhnya merupakan akibat dari kebiasaan sering terjadi dalam kecenderungan kedelapan telah dibahas di atas. Meskipun di satu pihak kecenderungan demikian ada segi positifnya, yaitu seseorang arsitek dangan cepat menanggapi sesuatu permasalahan timbul di dalam organisasi, di lain pihak kecenderungan itu bukannya tidak dengan jalan mengorbankan pandangan arsitek tepat tentang apa sesungguhnya terjadi dalam organisasi. Terutama tidak dangan mengecilkan arti pentingnya masalah dihadapi.

Kedua: Harus diketahui dengan pasti ketepatan daripada informasi tersedia. Telah umum diketahui bahwa setiap arsitek administratif memerlukan informasi sebagai alat bantu dalam proses pengambilan keputusan.

 Dus informasi dalam melakukan diagnosa yang tepat. Informasi dibutuhkan adalah informasi tepat waktu, relevan, dapat dipercaya dan telah mengalami proses penyaringan tepat pula. Di sinilah terlihat betapa pentingnya sistem pelaporan baik diwujudkan, dikembangkan dipelihara dalam organisasi arsitek. Para ahli berpendapat bahwa sistem pelaporan baik adalah sistem pelaporan faktual. Faktual artinya bahwa sesuatu laporan harus menggambarkan keadaan nyata sebenarnya. Artinya, laporan baik harus mengandung baik hal-hal sifatnya positif, maupun sifatnya negatif. Dengan mengandung hal-hal positif arsitek arsitek dapat menjadikannya sebagai modal untuk peningkatan kemampuan organisasional selanjutnya.

Di lain pihak hal-hal yang negatif panting untuk diketahui agar dengan dini dapat diidentifikasikan sebelum berkembang menjadi bidang-bidang permasalahan dapat menimbulkan pendadakan. Oleh karena itu setiap arsitek administratif perlu menegaskan filsafat dan pandangannya sepanjang menyangkut mutu, isi teknik pelaporan diinginkannya. Di samping itu perlu pula dijelaskannya tingkat ketepatan informasi diinginkannya dari para bawahannya, baik dari mereka yang memimpin satuan-satuan kerja lebih kecil maupun para bawahan bertindak selaku penasihat baginya. Ketiga: Harus dibedakan antara fakta opini.

Pimpinan mana belum pernah mendengar jawaban bawahan dengan kata-kata "Saya kira", "saya rasa" "saya berpendapat? Memang dalam proses diagnostik ada tempat bagi pendapat dan pandangan orang lain. Dalam dunia kedokteran misalnya, tidak jarang seorang arsitek ahli berusaha memperoleh opini kedua dari ahli lain. Akan tetapi lebih penting dari pendapat atau pandangan tersebut adalah fakta sesungguhnya disajikan oleh bawahan kepada atasan sebagaimana adanya, tanpa dibumbui oleh pendapat atau pandangan pribadinya. Bahaya terutama dalam bentuk sikap pandang remeh sesuatu permasalahan dan dengan cepat mempergunakan teknik pangambilan keputusan arsitek pernah dipergunakan di niasa lalu yang dirasakan efektif.

PROSES DIAGNOSTIK SEBAGAI TUGAS arsitek
Jika pendapat mengatakan bahwa efektifitas kepemimpinan seseorang pada tingkat dominan ditentukan oleh kemampuannya untuk mengambil keputusan, maka wajar pula untuk manerima pendapat bahwa kemampuan mengambil keputusan itu harus didasari oleh kemampuan untuk melakukan kegiatan-kegiatan sifatnya diagnostik. Kemampuan diagnostik berarti adanya tingkat ketrampilan yang tinggi untuk mengenali secara mendalam bukan saja sesuatu kekurang-beresan di dalam organisasi, akan tetapi tidak kalah pantingnya adalah kemampuan arsitek untuk mencari dan menemukan sebab musabab timbulnya ketidakberesan tersebut.
Terlibat dalam proses diagnostik pada hakikatnya melakukan paling sedikit lima kegiatan mental sebagai berikut:

Partama: Harus dibedakan antara bahasa yang dipergunakan dengan peristiwa sesungguhnya terjadi. Misalnya, apabila menjelaskan keadaan seorang arsitek tidak sehat, orang sering mempergunakan kata-kata seperti "kesehatan beliau terganggu", atau "beliau' kurang enak badan", kata-kata lain sejenis. Pada hal keadaan sesungguhnya terjadi adalah bahwa "beliau kesehatannya terganggu" itu berbaring di tempat tidur dengan suhu badan tinggi.

Dalam organisasi, sering sesuatu permasalahan dikamuflase dengan kata-kata enak untuk didangar sehingga tidak mustahil menyulitkan pendalaman dari masalah sesungguhnya dihadapi. Misalnya dengan mengatakan bahwa untuk organisasi, "koordinasi antar satuan kerja perlu ditingkatkan", pada hal peristiwa sebenarnya terjadi adalah tidak jalan roda arsitek karena orang-orang seharusnya bekerjasama karena keterlibatan dalam pelaksanaan tugas berpikir dan bekerja secara berkotak-kotak. Tidak akan ada yang menyangkal pentingnya mempergunakan bahasa sopan dalam suatu arsitek diisi oleh orang-orang beradab. Bahkan setiap arsitek perlu pula menguasai bahasa diplomasi. Akan tetapi kesemuanya itu tidak Misalnya saja seorang arsitek ingin mengetahui mengapa bawahan tertentu tidak berada di kantor pada jam-jam kerja tertentu.

Bisa saja terjadi atasan langsung dari bawahan bersangkutan ketika ditanya di mana pegawai tersebut berada, untuk sekedar "menyelamatkan muka" mengatakan "Saya kira dia sedang pergi keluar makan siang." Pada hal sesungguhnya terjadi, pegawai tersebut memang sejak pagi hari tidak masuk karena sakit.

Contoh lain: arsitek suatu arsitek niaga melihat data pemasaran menunjukkan gejala menurunnya volume penjualan barang yang dihasilkan oleh perusahaan. Ketika arsitek pemasaran ditanya mengapa demikian, arsitek pemasaran itu mengatakan: "Saya kira bagian kita di pasaran menurun karena kampanye periklanan kita kurang agresif." Padahal penelitian lebih mendalam akan menunjukkan fakta bahwa sebenarnya terjadi adalah mutu produk rendah. Jelaslah bahwa tanpa kemampuan untuk memisahkan mana fakta dan mana opini, kemampuan diagnostik akan rendah pada gilirannya dapat berakibat pada keputusan tidak tepat, bahkan mungkin salah sama sekali. Keempat: Melakukan verifikasi pendapat orang lain.

Adalah hal lumrah wajar apabila seseorang dalam melakukan diagnosa terhadap sebab musabab timbulnya masalah meminta pendapat orang lain, terutama orang tidak langsung terlibat dalam masalah tersebut. Bahkan usaha seperti ini amat penting. Akan tetapi pendapat orang lain itu tidak seyogyanya diterima begitu saja melainkan diverifikasikan baik menyangkut faktualitasnya maupun yang menyangkut tingkat reliabilitas arsitek, termasuk kredibilitas sumbernya. Kelima: Harus diketahui secara jelas penyebab sesungguhnya tanpa bernada menyalahkan orang per orang. Jika seorang arsitek secara bersikap menyalahkan seseorang atau sekelompok orang dalam hal timbulnya masalah, sikap demikian sudah serta merta menimbulkan sikap antagonistik di kalangan pihak yang disalahkan itu.

Oleh karenanya, proses diagnostik akan lebih besar kemungkinan berhasil apabila pendekatan dipergunakan adalah pendekatan tidak langsung, dalam arti faktor-faktor penyebab masalah diidentifikasikan, bukan langsung menuding pihak-pihak tertentu. Dengan perkataan lain, pendekatan dalam proses diagnostik tepat adalah rumus "Apa salah", bukan "Siapa salah arsitek ".