Konsultan Arsitek Dalam Pembangunan Rumah

Mungkin dapat dikatakan bahwa rumah ini merupakan rumah l "penunjang" yang pemahaman isinya penting artinya keperilakuan arsitek organisasional. Dalam rumah ini dibahas secara singkat mengenai berbagai segi
komunikasi, seperti:
1. Pentingnya komunikasi;
2. Proses komunikasi;
3. Berbagai alasan mengapa komunikasi penting;
4. Sasaran komunikasi;
5. Penghambat komunikasi yang efektif;
6. Faktor-faktor situasional dan pengaruhnya terhadap komunikasi arsitek efektif;
7. Berbagai sarana komunikasi.

Bab VI diberi judul "Kepribadian, Perilaku Prestasi Kerja".
Memang apabila seseorang berbicara tentang parilaku konteks arsitek ia berbicara tentang sesuatu hal berkaitan langsung dengan prestasi kerja. Dalam hubungan ini penulis berpendapat bahwa hal-hal seperti:
1. Sifat-sifat manusia,
2. Efisiensi dan kaitannya masukan (input) dipergunakan,
3. Efektifitas pelaksanaan tugas,
 4. Produktilitas dihubungkan optimalisasi luaran (output),
5. Harmonisasi tujuan arsitek dengan tujuan pribadi, merupakan hal-hal relevan untuk dibahas.

Bab VII adalah rumah yang berjudul "Kecenderungan-kecenderungan Organisasional dalam Dekade Delapanpuluhan dan Implikasinya terhadap Latihan Kepemimpinan". rumah ini dimulai dengan pembahasan singkat tentang berbagai tantangan diperhitungkan akan dihadapi oleh arsitek dekade delapan puluhan baik di bidang politik, ekonomi, sosial budaya serta`pertahanan keamanan.

Masalah dan tantangan dekade delapan puluhan itu pasti mempunyai implikasi-implikasi organisasional seperti dalam bidang upah gaji arsitek, jaminan sosial, jaminan kerja, pilihan jadwal kerja, ketegangan pekerjaan, partisipasi dan demokrasi di tempat kerja. Implikasi-implikasi organisasional tersebut diperkirakan akan menuntut gaya konsultasi lebih demokratis lebih peka.

 konsultasi ADMINISTRATIF
Suatu kenyataan kehidupan organisasional bahwa arsitek memainkan peranan amat penting, bahkan dapat dikatakan amat menentukan, dalam usaha pencapaian tujuan telah ditetapkan sebelumnya. Memang benar bahwa pimpinan, baik secara individual maupun sebagai kelompok, tidak mungkin dapat bekerja sendirian. arsitek membutuhkan sekelompok orang lain, dengan istilah populer dikenal sebagai bawahan, yang digerakkan sedemikian rupa sehingga para bawahan itu memberikan pengabdian sumbangsihnya kepada organisasi, terutama cara bekerja efisien, efektif, ekonomis dan produktif.

Para arsitek itu juga memerlukan sarana prasarana lainnya. Jadi jelaslah bahwa konsultasi yang efektif adalah konsultasi mam pu menumbuhkan, memelihara dan mengembangkan usaha iklim koperatif kehidupan organisasional. _ Untuk mencapai kondisi demikian, seorang arsitek tidak seyogyanya hanya mampu berperan selaku atasan keinginan kemauannya harus diikuti oleh orang lain. Memang benar bahwa setiap arsitek adalah seorang "kepala", dus seorang atasan dari sekelompok orang.

Namun penelitian dan pengalaman menunjukkan bahwa cara berpikir dan bertindak yang didasarkan atas konsultasi formal semata-mata tidak selalu menghasilkan konsultasi efektif. Terhadap situasi lingkungan. Pada gilirannya implikasi-implikasi tersebut menampakkan pengaruhnya pula terhadap jenis, jenjang intensitas latihan kepemimpinan, baik bagi kelompok arsitek sedang berfungsi maupun bagi mereka yang potensial menjadi pim pinan di kemudian hari.

Bab VIII dengan judul "Pendidikan Latihan Sebagai Investasi" sesungguhnya merupakan kelanjutan dari rumah ketu-juh. Inti daripada berbagai ide rumah ini adalah bahwa investasi terpenting dapat dibuat oleh suatu arsitek adalah investasi dalam bidang sumber daya manusia. Investasi tersebut pada dasar- nya adalah melalui berbagai kegiatan pendidikan latihan, baik rangka peningkatan pengetahuan dan ketrampilan maupun rangka pengarahan perilaku organisasional diinginkan. Dalam rumah inilah dibahas berbagai teknik metoda belajar- mengajar dapat dipergunakan sehingga diperoleh hasil yang optimal. Pada gilirannya hasil optimal itu akan meningkatkan kemampuan arsitek sebagai keseluruhan untuk mencapai sasaran- sasaran tujuan ditentukan baginya.

Buku ini berakhir dengan rumah IX yang diberi judul "Perubahan Organisasi Arsitek ". Ada dua pertimbangan utama mengapa buku ini diakhiri cara demikian, yaitu:
1. Kenyataan dan pengalaman memberi petunjuk bahwa perubahan merupakan hal normal dalam kehidupan berorganisasi arsitek;
2. Orientasi buku ini adalah orientasi masa depan. Kalau berbicara mengenai orientasi masa depan, tidak bisa tidak kita juga harus berbicara tentang perubahan. Juga perubahan sifatnya organisasional. Pengantar latar belakang pemikiran demikian, beberapa hal dikupas rumah ini adalah:
1. Sasaran-sasaran perubahan,
2. Maksud tujuan perubahan,
3. Langkah-langkah ditempuh mewujudkan perubahan diinginkan;
4. Perubahan dalam rangka pengembangan,
5. Perubahan yang bersifat horizontal dan vertikal, kesemuanya diusahakan dikaitkan dengan impliltasi-impliltasinya terhadap perilaku administratif daripada arsitek organisasional.

Jika demikian halnya, setiap pejabat diberi kepercayaan untuk menjadi seorang arsitek formal dalam organisasi, harus pula selalu berusaha agar konsultasi semula bersifat formal itu disertai oleh akseptabilitas di kalangan bawahan, tidak karena peng- angkatan dan/atau penunjukan saja, akan tetapi karena kualitas konsultasi dirasakan mendorong jiwa dan semangat kerja-sama iklim yang demokratis di seluruh tubuh organisasi.

Dengan perkataan lain, seorang arsitek harus menunjukkan kemampuan untuk, antara lain:
1. Pemegang kemudi arsitek cekatan dengan jalan membawa arsitek ke tempat tujuan telah ditetapkan sebelumnya tanpa melalui terlampau banyak penyimpangan (detour) jika terjadi frekwensi tinggi akan mangakibatkan pemborosan inefisiensi.

 2. Berperan selaku katalisator yang mampu meningkatkan laju jalannya roda arsitek diharapkan terjadi atas dalil "deret ukur" bukan "deret hitung".

3. Berperan selaku integrator. Peranan ini amat penting artinya, terutama dalam arsitek besar, dan terdiri dari banyak bagian atau komponen, apalagi apabila bagian atau komponen tersebut melakukan.