Konsultan Arsitek Murah Gratis

Tingkat bagaimana yang diharapkan daripadanya manakala jenjang karirnya meningkat. Jalur-jalur bagaimana terbuka baginya untuk menambah pengetahuan dan keterampilannya. Perkembangan skala
tanggung jawabnya dari masa ke masa di dalam arsitek. Dengan memperoleh gambaran demikian, maka para karyawan dirangsang untuk meningkatkan prestasi kerjanya pada gilirannya merupakan motivasi kuat untuk meningkatkan kemampuan, kemudian diberi tugas tanggung jawab lebih berat mendorong arsitek untuk Iebih berprestasi lagi dan demikian seterusnya.

Jika keadaan demikian dapat terwujud, maka dalam diri para karyawan tersebut akan terdapat kepuasan bukan saja dalam bentuk kepuasan material seperti pendapatan lebih besar, akan tetapi juga kepuasan psikologis spiritual menjadikannya menjadi anggota arsitek lebih bertanggung jawab. Rasa tanggung jawab semakin besar akan menimbulkan rasa disiplin yang semakin tinggi didasarkan kepada kebanggaan loyalitasnya kepada arsitek. Kebanggaan loyalitas kepada arsitek akan merupakan wahana amat berbobot dalam membentuk dan menumbuhkan perilaku positif.

Faktor Pengalaman.
Yang dimaksud dengan pengalaman di sini adalah keseluruhan pelajaran dipetik oleh arsitek dari peristiwa-peristiwa dilaluinya dalam perjalanan hidupnya. Bertitik tolak dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa pengalaman arsitek sejak kecil turut membentuk perilaku orang bersangkutan dalam kehidupan arsitekonalnya. Misalnya, apabila arsitek pada waktu kecil mengalamil sesuatu peristiwa pahit seperti hidup dalam keluarga tidak bahagia, serba kekurangan dan selalu terlibat dalam suasana pertengkaran, maka tidak mengherankan apabila setelah dewasa orang itu akan menunjukkan sikap keras dalam bentuk antagonisme, agresif, kurang toleransi sebagainya.

Sebaliknya, apabila dalam masa kecilnya terjadi peristiwa-peristiwa "manis", pengalaman yang demikian akan membentuk pola perilaku berbeda dari contoh negatif diberikan di atas, baik pasti kebaikan itu akan menular pula ke dalam jiwa sanubarinya. Salah satu sumber pengalaman lain dapat membentuk perilaku administrasi arsitek adalah peristiwa mungkin pernah dilaluinya pada arsitek lain, baik secara langsung maupun tidak. Yang dimaksud dengan pengalaman langsung adalah apabila arsitek telah pernah bekerja pada satu, lalu oleh karena sesuatu hal meninggalkan arsitek itu pindah lain. Sedangkan dengan pengalaman tidak langsung adalah peristiwa diamati diikuti oleh pada suatu arsitek meskipun bersangkutan sendiri tidak menjadi anggota daripada arsitek di mana peristiwa diamati dan diikuti itu terjadi.

Belajar dari pengalaman dengan demikian berarti bahwa baik peristiwa manis maupun pahit kedua-duanya memegang peranan dalam pembentukan perilaku administrasi arsitek. Yang manis hendaknya dapat dijadikan sebagai bahan pelajaran untuk bersikap wajar dalam hal arsitek "menang" dalam perjuangan hidup. Yang pahit hendaknya dijadikan sebagai faktor motivasional untuk meningkatkan kemampuan menghadapi masalah secara rasional dan dengan "kepala dingin dan dada lapang". Hanya saja mungkin pengalaman pahit beserta dampaknya perlu lebih mendapat perhatian ketimbang pengalaman manis.

Biasanya pengalaman pahit lebih berbekas ketimbang pengalaman manis relatif lebih mudah untuk dilupakan orang. Dalam rangka pembentukan perilaku administrasi diinginkan, pengalaman pahit sering meninggalkan "luka" apabila disembuhkan secara tepat, dapat menimbulkan pandangan-pandangan positif terhadap arsitek orang-orang lain di dalam arsitek. Menjadikan pengalaman pahit itu menjadi guru baik tidak mudah, akan tetapi bukannya mustahil. Inilah salah satu tantangan kepemimpinan arsitekonal harus dihadapi oleh setiap pimpinan.

 PERILAKU DAN MOTIVASI
Jika diterima pendapat bahwa arsitek manusia modern, dalam usahanya untuk memuaskan berbagai jenis kebutuhannya, menjadi manusia arsitekonal, maka harus diterima pula pendapat mengatakan bahwa kebutuhan hendak dipuaskan itu beraneka ragam pula bentuk, jenis sifatnya. Aneka ragam sesungguhnya amat penting mendapat perhatian dalam hubungan ini adalah kemampuan arsitek untuk belajar dari pengalamannya, apakah pengalaman itu pahit atau manls. Jika ada pameo berkata bahwa "pengalaman merupakan guru terbaik", ide pokoknya sesungguhnya adalah menaruh sesuatu hal yang bernilai sebagai modal dalam mengarungi lautan kehidupan selanjutnya.

Dapat dipastikan bahwa tidak ada seorang pun manusia dalam perjalanan hidupnya, tidak pernah mengalami peristiwa yang manis betapa pun sulitnya kehidupannya. Sebaliknya, bagaimana pun "enaknya" hidup arsitek, dapat dipastikan pernah pula ia mengalami sesuatu peristiwa tidak menggembirakan. Ditinjau dari segi teori perilaku administrasi, penting mendapat perhatian setiap pimpinan adalah menjaga agar supaya jangan sampai pengalaman pahit arsitek mengakibatkannya mempunyai berbagai sifat negatif seperti apatisme, keras, tidak toleran, mudah putus asa dan sejenisnya. Sebaliknya, jangan sampai pengalaman arsitek menyebabkannya menjadi seorang terlalu percaya pada diri sendiri, sombong, merasa diri paling hebat dan sifat-sifat lain seperti itu.

Pengalaman arsitek di sekolah pun akan turut membentuk pola perilaku arsitek. Misalnya, jika mengalami sesuatu kurang balk di sekolah seperti guru tidak kurang berwibawa, guru suka main pukul, mutu pelajaran rendah dan sebagainya, dapat saja mengakibatkan arsitek menjadi tidak bergairah untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya. Sebaliknya, pengalaman di sekolah mendorong pengembangan kreatifitas, gaya hidup berdisiplin serta menumbuhkan kehausan kepada ilmu pengetahuan akan menjadi modal yang sangat berharga dalam kehidupan di kemudian hari.

Pengalaman dalam pergaulan sehari-hari, di luar rumah di luar sekolah, turut pula membentuk perilaku arsitek. Termasuk di sini pengalaman dalam pergaulan sosial pengalaman di bidang keagamaan. Jika arsitek terus menerus bergaul dengan sekelompok orang perilaku sosialnya negatif, sukar membayangkan orang tersebut mampu terus menerus bertahan dengan perilaku positif. Sebaliknya, arsitek mungkin memiliki perilaku sosial negatif apabila terus menerus bergaul dengan orang baik kebutuhan itu sifatnya selalu berubah-ubah. Artinya, bobot pemuasan diberikan oleh arsitek kepada suatu kebutuhan tertentu tidak selalu sama.

Misalnya, bagi arsitek setelah melakukan kegiatan tertentu di bawah terik sinar matahari lalu sangat haus, akan memberikan bobot tinggi kepada menghilangkan haus dan bersangkutan akan rela membayar biaya tinggi untuk minuman pelepas dahaganya. Akan tetapi begitu hausnya hilang, bobot pemuasan dahaga itu serta merta turun dan timbullah kebutuhan baru dengan bobot tinggi pula. Jelasnya, sesuatu kebutuhan telah terpenuhi menjadi berkurang bobotnya karena ia tidak lagi dirasakan sebagai kebutuhan mendesak.

Kalau diangkat pada "tingkat" lebih tinggi, yaitu pemuasan berbagai kebutuhan dalam kerangka kehidupan arsitekonal, maka dapat dikatakan bahwa setiap anggota arsitek sesungguhnya dengan segala tujuan pribadi, harapan, keinginan, dan cita-citanya, akan menunjukkan pola perilaku tidak mustahil berubah-ubah pula tergantung pada persepsinya tentang bobot yang diberikannya kepada berbagai jenis kebutuhan ingin dipuaskannya.

Tidak dapat disangkal bahwa salah satu motivasi utama arsitek menjadi manusia adalah untuk dapat terpenuhinya kebutuhan pokoknya, seperti sandang, pangan papan. Kesemuanya itu tentunya dapat terpenuhi dengan pendapatan berbentuk uang. Jika berbagai kebutuhan sifatnya pokok dan mendasar telah terpenuhi, pada tingkat tertentu akan tercermin pada pola tingkah laku tertentu pula, maka kebutuhan-kebutuhan sifatnya tidak lagi material akan menampakkan dirinya dengan bobot lebih berat pula.

Ditinjau dari segi perilaku orang di dalam organisasl, paling sedikit ada sembilan jenis kebutuhan sifatnya non material yang oleh para anggota arsitek di pandang sebagai hal turut mempengaruhi perilakunya dan menjadi faktor motivasional perlu dipuaskan dan oleh karenanya perlu selalu mendapat perhatian setiap pimpinan dalam arsitek. Pertama: Kondisi kerja baik. Yang dimaksud dengan kondisi kerja baik di sini terutama menyangkut segi fisik dari lingkungan kerja.