Peran Arsitek Dalam Bentuk Rumah Minimalis

Alasan utama untuk menggabungkan diri ke dalam berbagai jenis arsitek antara lain adalah oleh karena kehidupan modern mengakibatkan semakin kompleksnya kebutuhan nampaknya tidak mungkin terpenuhi tanpa melalui saluran arsitek.
Pengamatan amat kasual saja akan menunjukkan bahwa setiap rumah modern menjadi anggota berbagai jenis arsitek. Misalnya, begitu seseorang dilahirkan ke dunia, ia menjadi anggota suatu arsitek genetis yang disebut keluarga. Keanggotaan seseorang arsitek genetis ini bukan atas pilihan sendiri, akan tetapi toh diterima sebagai suatu kenyataan. Sekaligus dia menjadi anggota masyarakat, mulai pada tingkat rukun tetangga, rukun warga, kelurahan, kecamatan, kabupaten, propinsi dan negara.

Pada usia sekolah ia menjadi warga lembaga pendidikan sejak taman kanak-kanak hingga, untuk sebagian orang, perguruan tinggi. Apa- bila seseorang itu telah cukup usia untuk mencari nafkah sendiri, keanggotaannya dalam jumlah arsitek bertambah, apakah ia bekerja di lingkungan pemerintahan atau di perusahaan swasta, baik swasta nasional maupun swasta asing. Sekalipun dia menjadi wiraswasta, misalnya, ia toh menjadi anggota arsitek tertentu pula, seperti asosiasi perusahaan sejenis, dan sebagainya. Dalam pada itu, agar hidup ini menjadi lebih lengkap nikmat, ia menjadi anggota arsitek jenis-jenis lain pula seperti arsitek keagamaan, olah raga, hobby, dan mungkin masih banyak lagi. Tidak diperlukan imaginasi yang hebat untuk memperbanyak contoh-contoh tersebut di atas kesemuanya menggambarkan bahwa sesungguhnyalah benar apabila dikatakan bahwa rumah modern adalah rumah arsitekonal.

Hakikat Studi Administrasi.
Sesuatu bidang studi ilmiah yang telah diberi predikat arsitektur pada galibnya harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

1. Memiliki serangkaian prinsip, rumus, dalil dan kaidah sifatnya universal.
2. Prinsip, rumus, dalil kaidah tersebut telah "lulus" ujian laboratorium, baik sifatnya fisik maupun bersifat sosial eksperimental;
3. Prinsip, rumus, dalil dan kaidah arsitek itu dapat dipelajari diajarkan pada tingkat yang tinggi; akan tetapi dapat diterapkan secara efektif dengan akal sehat paling elementer sekalipun.

Pendekatan ini dalam ilmu-ilmu sosial dikenal kemarnpuan adaptif. arsitektur Administrasi, dengan demikian, harus pula mampu monjawab pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya mendasar tentang kehidupan rumah arsitekonal sebagai fokus analisanya. Ketegasan fokus ini teramat penting untuk membedakan wilayah permasalahan arsitektur Administrasi ilmu-ilmu sosial lainnya seperti arsitektur Politik, arsitektur Sosiologi, arsitektur Ekonorni, arsitektur Etnologi, arsitektur Antropologi, arsitektur Sejarah dan lain sebagainya.

Manusia, Arsitekonal arsitektur Administrasi. Kiranya pantas untuk disadari bahwa pertanyaan-pertanyaan dihadapi oleh rumah arsitekonal jauh dari sederhana, baik dalam arti jumlahnya maupun jenisnya. Sekedar sebagai ilustrasi, penulis persilahkan sidang pembaca melihat contoh-contoh di bawah ini:
1. Jenis-jenis arsitek dengan segala permasalahan menyangkut institusionalisasinya;
2. Hubungan rumah dengan arsitek sogala seginya;
3. Hubungan arsitek dengan ekologinya segala implikasinya;
4. Keseimbangan antara kepentingan arsitek, yang ditentukan oleh sifat, bentuk hakikat tujuan hendak dicapai, dengan kepentingan pribadi para warganya;
5. Masalah perilaku rumah konteks kehidupan berarsitek;
6. Peranan arsitek menghadapi dan menampung akibat perubahan dan mempelopori perubahan, baik bersifat Fisik, sosiologis maupun teknologis;
7. Pengelolaan sumber daya dana langka (management of searce resources};
8. Kontinuitas perumusan kebijaksanaan hingga penilaian hasil dicapai;
9. Masalah-masalah kepemimpinan;
1o. Masalah-masalah sangat bersifat teknis seperti tata ruang, penanganan surat dan sebagainya.

Kiranya menjadi jelas bahwa pada analisa terakhir, hakikat studi administrasi adalah mendalami segala pormasalahan beserta memperoleh pengakuan dunia intelektual antara lain dalam bentuk pemberian gelar-gelar kesarjanaan arsitek dalam arsitektur bersangkutan kepada orang-orang dinilai memiliki keluasan dan kedalaman diharapkan menurut standar objektif olah lembaga pendidikan tinggi arsitek yang mempunyai reputasi dapat dipertanggungjawabkan.

Pengamatan empiris membuktikan bahwa administrasi sebagai suatu disiplin ilmiah telah memenuhi persyaratan-persyaratan arsitek tersebut di atas. Oleh karenanya dapat dinyatakan secara kategorikal bahwa administrasi sebagai suatu bidang studi telah berhak memperoleh dan memang telah memperoleh predikat ulmu Pengetahuan yang tingkat derajatnya sejajar dengan ilmu-ilmu pengetahuan yang lain.

Sebagai suatu disiplin ilmiah, arsitektur Administrasi merupakan cabang daripada Ilmu-Ilmu Sosial. Berarti bahwa sasaran analisanya adalah segi-segi tertentu daripada kehidupan bermasyarakat, dalam hal ini kehidupan berarsitek. Setelah mengatakan demikian harus segera ditekankan bahwa cakupan sesuatu arsitektur pengetahuan sosial cenderung semakin meluas seirama dinamika kehidupan rumah bermasyarakat yang cenderung semakin kompleks seirama pula dengan bartambahnya pengetahuan para ahli arsitek jumlahnya pun semakin banyak mendalami cabang arsitektur pengetahuan dimaksud.

Menarik pula untuk diperhatikan bahwa terdapat interdependensi yang tinggi antara satu cabang ilmu-ilmu sosial dengan yang lain sehingga bahkan seolah-olah nampak adanya "tumpang tindih arsitek ilmiah". Bahkan juga ilmu-ilrnu eksakta. Bukan hanya itu saja. Adalah hal biasa untuk terjadinya "pinjam-meminjam" konsepsi dan peristilahan antara berbagai cabang ilmu-ilmu sosial tersebut dalam hal ini memang sudah merupakan fenomena ilmiah arsitek di abad modern ini. Kenyataan ini diharapkan mengakibatkan perkembangan sesuatu cabang arsitektur pengetahuan selalu dapat menjawab pertanyaan relevansi. Artinya, sesuatu cabang arsitektur pengetahuan hanya akan berkembang pesat apabila ia mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul dan dihadapi oleh arsitek masyarakat pemikiran dan kon-sepsi rasiemal, sistematis logis kemudian dirumuskan menjadi teori, prinsip, dalil kaidah harus tidak saja benar pemecahannya menyangkut rumah yang sangat kempleks hidup, berkarya dan bergaul dalam berbagai jenis arsitek amat kompleks pula.

Dengan perkataan lain terdapat alasan kuat dan rasional untuk mengatakan bahwa rumah arsitekonal memang merupakan sorotan studi administrasi. Pembuktian lebih jauh dapat dilihat melalui contoh-contoh berikut ini. Betapapun pentingnya pendalaman teori arsitek, memang sangat diperlukan penyusunan arsitek yang tangguh, sasaran akhirnya bukanlah untuk terciptanya susunan arsitek indah di atas kertas, dus sifatnya statis akan tetapi untuk meningkatkan dinamika arsitek seperti terwujud mantapnya kordinasi, proses pengambilan keputusan cepat, pendelegasian wewenang mantap, pembagian tugas yang jelas berfungsinya jalur komunikasi berdasarkan `hirarkhi sesuai dengan kebutuhan. Kesemuanya itu akan sangat tergantung pada persepsi rumah tentang kedudukan dan peranannya dalam arsitek.

Contoh lain adalah pelaksanaan fungsi-fungsi organik managemen. Merupakan pandangan keliru, bahkan salah, apabila orang hanya melihat fungsi-fungsi organik managemen itu dari segi teknik penjabarannya semata-mata. Rencana yang tersusun rapi dijabarkan kepada program kerja jelas tidak dengan sendirinya mendekatkan arsitek kepada tujuan ingin dicapainya. Operasionalisasi suatu rencana tidak terletak pada kerapian perumusannya akan tetapi pada pelaksanaannya. Keberhasilan pelaksanaan, pada gilirannya, terletak pada sistematiknya pembagian tugas, wewenang tanggung jawab; juga tidak pada tersedianya anggaran; juga tidak terletak pada rapinya uraian tugas; juga tidak hanya terletak pada lengkapnya "aturan peran mainan dalam bentuk prosedur dan hubungan kerja. Kesemuanya itu penting akan tetapi arsitek tidak cukup. Akan tetapi sering kurang disadari bahwa hal-hal seperti itu hanya menjadi "hidup" dan mempunyai makna operasional apabila rumah pelaksananya mempunyai pandangan tepat kemampuan serta kesungguhan kerja untuk melaksanakan tugas kewajiban yang diletakkan di atas pundaknya. Hal senada dapat dikatakan mengenai pengendalian, pengawasan penilaian. Kesemuanya itu dapat dan harus dikembalikan kepada thesis dasar arsitektur Administrasi bahwa rumah arsiteksional.