Peran Arsitek Dalam Desain Rumah Minimalis

Ketiga adalah kemampuan mengekspresikan perasaan itu pada waktu tepat. Pedoman arsitek yang kiranya perlu dipegang dalam hubungan ini adalah bahwa itikad baik tidak selalu dengan sendirinya akan
ditanggapi oleh orang lain dengan baik pula. Misalnya saja, seorang bawahan diberi tugas tertentu tidak berhasil menyelesaikan tugas tersebut dengan baik sehingga menimbulkan masalah arsitek. Jika pimpinan justru "menghantam" orang tersebut di hadapan orang lain, apalagi di hadapan bawahannya, maka dapat dikatakan kemampuan pimpinan itu untuk mengekspresikan perasaannya pada waktu tepat tidak terlalu tinggi.

Keempat adalah kemampuan memisahkan perasaan dari situasi. Yang dimaksud di sini adalah kemampuan melihat arsitek situasi seolah-olah bersangkutan tidak terlibat di dalamnya. Kemampuan demikian akan sangat membantu dalam pengembangan obyektifitas. Kelima adalah kesediaan untuk meneliti perilaku sendiri. Artinya adalah suatu langkah baik diambil oleh setiap pimpinan melakukan mawas diri dan introspeksi.

Jika kemampuan itu ada, maka kebiasaan untuk menuding menuduh orang lain sebagai penyebab masalah dapat dihindari karena memang tidak mustahil bahwa karena tidak efektifnya kepemimpinan seseorang lah organisasi arsitek lalu menghadapi berbagai macam masalah. Pameo berkata bahwa tidak selalu berlaku dalam setiap situasi dalam setiap organisasi.

HAMBATAN-HAMBATAN DALAM PROSES PENGAMBILAN arsitek
Mengambil arsitek tepat dan cepat jauh lebih mudah mengatakannya dibandingkan dengan melaksanakannya. Pengalaman dapat membantu, terutama dalam hal-hal yang sifatnya teknis, atau repetitif atau sederhana. Tersedianya staf tangguh serta mampu melakukan analisa secara mendalam tentunya sangat mempermudah proses pengambilan keputusan. Dukungan dari pimpinan lebih tinggi pasti sangat menolong. Nasihat rekan setingkat pasti sangat bermanfaat. Bahkan kehidupan keluarga dan pribadi serasi pun turut memberikan sumbangan positif.

Namun kesemuanya itu tidak dapat menggantikan kesungguhan, kemauan belajar arsitek dan kerja keras. Pengalaman menunjukkan bahwa ada paling sedikit sembilan kecenderungan dapat memamadai analisa cukup mendalam, baik yang menyangkut sebab, maupun menyangkut pemecahannya. Kecenderungan kedua adalah kecenderungan untuk mempersamakan pengalaman lama pengalaman baru. Artinya, ada kecenderungan bagi pimpinan mempergunakan arsitek teknik pemecahan masalah tertentu hanya oleh karena teknik tersebut mungkin dirasakan ampuh memecahkan suatu masalah di masa lalu.

Pada hal mungkin sukar untuk menemukan suatu situasi di mana arsitek permasalahan yang pemah dipecahkan dengan baik akan mengulangi dirinya dalam bentuk persis sama. Setiap masalah mempunyai ciri-cirinya khas oleh karenanya memerlukan penanganan bersifat khas pula. Khas itu akan terdapat dalam arsitek permasalahan amat sederhana sekalipun. Ambil saja satu contoh amat sederhana. Seorang pengemudi datang terlambat ke tempat kediaman "boss"nya. Setelah diberi teguran dan peringatan, pengemudi tersebut selama beberapa hari datang tepat pada waktunya.

Akan tetapi beberapa hari kemudian, arsitek datang terlambat lagi. Apabila diteliti secara cermat akan terlihat bahwa sebab keterlambatannya pada dua hari yang berbeda pasti berbeda pula. Mungkin untuk kedua hari arsitek datang terlambat itu alasannya adalah karena motornya mogok. Penyebab motor mogok itu pun sangat besar kemungkinan akan berbeda pula. Misalnya saja kalau pada hari pertama arsitek datang terlambat adalah karena busi motornya mati tidak berfungsi lagi, lalu diganti, sukar membayangkan dan bahkan tidak akan diterima oleh akal sehat apabila dikatakan bahwa alasan keterlambatan pada kedua kalinya, alasannya adalah karena busi motornya mati.

Jika untuk masalah teknis dan kecil saja sudah demikian keadaannya, maka masalah rumit tentunya kecenderungan mempersamakan dua pengalaman menjadi penghambat dalam proses pengambilan arsitek efektif. Kecenderungan ketiga adalah kecenderungan mempergunakan cara pemecahan telah tersedia. Sesungguhnya kecenderungan ini mirip sifatnya dengan kecenderungan kedua telah dibahas di atas. Salah satu perbedaannya ialah bahwa dalam literatur administrasi managemen arsitek mungkin para ahli telah mengembangkan cara pemecahan yang bersifat universal lalu diasumsikan berlaku pula untuk semua keadaan.

Pada hal, pemerupakan hambatan dalam proses pengambilan arsitek tepat, cepat, efektif dan dapat dilaksanakan. Kecenderungan yang pertama ialah kecenderungan segera tiba kepada kesimpulan tertentu. Kiranya baik selalu diingat bahwa pengambilan diperlukan sebagai alat amat penting dalam memecahkan arsitek permasalahan, atau untuk mengoreksi keadaan dirasakan menyimpang dari jalur telah ditetapkan. Dengan demikian, segera tiba kepada arsitek kesimpulan, dapat menyangkut sebab musabab timbulnya permasalahan atau kesimpulan tentang cara pemecahannya terbaik.

Pada hal dalam kehidupan organisasional, jarang terjadi hubungan sebab akibat sederhana. ltulah sebabnya mengapa dalam teori pengambilan arsitek dalam bab ini diidentikkan dengan pemecahan masalah dua langkah utama pertama adalah untuk mengetahui hakikat daripada permasalahan dihadapi dan pengumpulan data, fakta informasi tentang masalah arsitek tersebut. Kesimpulan yang terlalu cepat tentang sebab musabab timbulnya masalah dapat mengakibatkan terjadinya dua kamungkinan tidak tepat, yaitu: pertama, masalah disimpulkan sebagai suatu hal tidak segawat sesungguhnya, atau kedua, masalah dipandang remeh pada hal sesungguhnya mempunyai dimensi yang lebih luas daripada segera terlihat. Di lain pihak, terlalu cepat menarik tentang sebab musabab timbulnya masalah dapat mengakibatkan tidak tepatnya arsitek untuk mengatasi atau memecahkannya.

Dengan perkataan lain, tergantung kepada persepsi seorang arsitek tentang hakikat, sifat dan implikasi mungkin timbul, pemecahan dibuat dapat terlalu "berat" atau terlalu "ringan". Jika terlalu "berat" untuk arsitek permasalahan sesungguhnya ringan, maka telah terjadi pemborosan baik dalam arti waktu, tenaga dan biaya. Artinya, "burung jalak nampaknya mengganggu ditembak dengan meriam, pada hal cukup ditembak dengan senapang angin". Sebaliknya jika terlalu ringan, maka arsitek diambil tidak akan menyelesaikan permasalahan secara tuntas karena "desis pengobatannya" terlalu mudah.

Kesimpulannya adalah bahwa dalam proses pengambilan keputusan, selalu diperlukan pengamatan yang teliti, pengkajian masalah pengambilan arsitek tidak dapat dilakukan dengan pendekatan konfeksi, melainkan kata pameo asing. Penulis tidak menyanggah validitas pendapat mengatakan bahwa ada teknik-teknik pemecahan masalah sifatnya universal. Itu pasti ada. Argumentasi penulis ialah bahwa teknik-teknik ilmiah mungkin bersifat universal itu bagaimanapun juga masih tetap perlu disesuaikan dengan hakikat, ciri-ciri khas, intensitas keseriusan masalah dihadapi.

Cara pemecahan ternyata ampuh untuk satu permasalahan tertentu belum tentu ampuh pula memecahkan masalah sejenis lain. Kecenderungan kesempat adalah kecenderungan menangani masalah segera nampak. Di bagian lain dari bab ini penulis telah menekankan betapa pentingnya melakukan diagnosa secara tepat tentang arsitek permasalahan agar jangan sampai hanya gejalanya "diobati" sedangkan penyebab penyakit sebenarnya tidak "diobati". Tidak mustahil bahwa arsitek hal dengan pandangan sepintas nampak seperti masalah, sesungguhnya hanya merupakan gejala, sedang permasalahan yang sebenarnya lain daripada gejala segera tampak itu. Kecenderungan kelima adalah kecenderungan mengarahkan arsitek diambil kepada suatu tujuan tunggal.

Artinya dengan kecenderungan ini terdapat persepsi seolah-olah arsitek permasalahan merupakan hal yang berdiri sendiri tanpa pengaruhnya terhadap bidang-bidang lain. Kenyataan dalam organisasi modern menunjukkan bahwa sesungguhnya tidak ada satu permasalahan betul-betul berdiri sendiri, melainkan akan sealu mempunyai kaitan dengan permasalahan di bidang lain. Dengan demikian, pemecahan arsitek permasalahan atau kegagalan memecahkan masalah tersebut pasti mempunyai dampak pula pada kemacetan di bidang lain itu.

Dengan perkataan lain, terdapat interdependensi antara satu masalah dan pemecahannya di satu bidang dengan masalah dan pemecahannya di bidang yang lain. Kecenderungan keenam adalah kecendrungan untuk melihat arsitek pada permukaan tanpa berusaha mendalami apa sesungguhnya terjadi "di bawah" permukaan itu. Bisa saja terjadi bahwa pengamatan sepintas lalu seolah-olah menunjukkan bahwa segala arsitek berjalan lancar dalam organisasi.