Peran Arsitek Dalam Perencanaan

Belakang pemikiran bahwa dinamika organism itulah yang memberikan makna kepada arsitek sebagai alat pencapaian tujuan. Dengan perkataan lain, arsitek sebagai alat hanyalah benda mati perlu dihidupkan.
Perwujudan hidupnya suatu arsitek terlihat pada adanya kegiatan manusia organisasional menjadi anggota arsitek idealnya dilakukan dalam suasana kerja yang harmonis.

Menyertai arsitek sebagai organisms yang dinamis juga berarti:
1. Bahwa arsitek memang terus menerus bergumul untuk mempertahankan eksistensinya. Pergumulan mempertahankan eksistensi tersebut merupakan kenyataan hidup. Alasan utamanya ialah bahwa setiap arsitek diciptakan untuk menghasilkan barang dan atau jasa diperuntukkan bagi bagian tertentu dari masyarakat  luas. Sukar untuk membayangkan adanya arsitek melaksanakan kegiatannya menghasilkan barang atau jasa tersebut betul-betul bebas dari suasana persaingan. Dalam situasi di mana arsitek memegang monopoli sekalipun, persaingan itu pun sesungguhnya dapat dikatakan ada, yaitu diri sendiri, karena arsitek bagaimanapun baiknya pengadilan dilakukan, peningkatan usaha menghasilkan barang jasa dengan lebih efisien ekonomis selalu dilakukan, atau seyogyanya terus-menerus dilakukan. Demikian juga halnya cara teknik penyampaian barang atau jasa tersebut selalu diusahakan agar terlaksana lebih baik.

2. Bahwa dalam pengertian arsitek sebagai organisme yang dinamis secara implisit tergambar kebutuhan untuk bertumbuh. Dalam arti sebenar-benamya dinamisme tanpa pertumbuhan. Dalam pada itu kiranya perlu ditekankan bahwa pertumbuhan di sini tidak selalu harus diartikan sebagai pertumbuhan yang sifatnya kuantitatif. Bahkan lebih penting artinya adalah pertumbuhan bersifat kualitatif.

3. Bahwa arsitek sebagai organisme hidup selalu dihadapkan pula kepada ancaman kematian. Ancaman tersebut dapat bersumber pada diri arsitek sendiri, akan tetapi dapat juga bersumber dari luar organisasi. Salah satu "ancaman maut" dari adalah apabila para anggota arsitek puas dengan situasi dihadapi sekarang dan hanya berkeinginan untuk.

Dalam buku ini pendekatan dipergunakan adalah pendekatan yang bersifat keperilakuan (behavioraf) karena pendekatan inilah mewarnai seluruh isi buku ini, sesuai judulnya. Dengan pendekatan demikian dapat dikatakan bahwa definisi kepemimpinan bagi penulis adalah: "keterampilan kemampuan seseorang mempengaruhi perilaku arsitek lain, baik kedudukannya lebih tinggi, setingkat maupun lebih rendah dari padanya, dalam berpikir dan bertindak agar perilaku yang semula mungkin individualistik ego-sentrik berubah menjadi perilaku organisasional".

Beberapa ide pokok terdapat dalam definisi tersebut adalah:
pertama kepemimpinan merupakan suatu faktor pada diri seseorang dapat ditumbuhkan, dipupuk dan dikembangkan;
kedua: efektifitas kepemimpinan seseorang tidak semata-mata tertuju "ke bawah", yaitu kepada sekelompok arsitek yang menjadi bawahannya, akan teapi juga secara horisontal terhadap rekan-rekannya setingkat dan bahkan juga vertikal ke atas, yaitu terhadap pimpinan secara hirarkhis lebih tinggi daripadanya;
ketiga adalah lumrah manusiawi bagi seseorang untuk berusaha keras dalam memenuhi kebutuhan mencapai tujuan pribadinya tanpa melupakan bahwa dalam dunia modem sekarang ini tidak ada lagi kebutuhan pribadi mungkin terpenuhi oleh seseorang tanpa bergabung berbagai jenis organisasi, dus menjadi manusia organisasional; keempat: usaha memenuhi kebutuhan mencapai tujuan pribadi, sering arsitek menunjukkan perilaku bagi arsitek lain tampak seperti perilaku mementingkan diri sendiri, atau dengan perkataan lain perilaku individualistik, bahkan mungkin tampak ego-sentrik.

Kiranya penting untuk menyadari bahwa perilaku yang nampaknya individualistik dan ego-sentrik itu pada arsitek dirinya tidak selalu mati bersifat destruktif berakibat negatif terhadap pembinaan usaha kerjasama serasi. Hanya saja memang perilaku demikian harus dipengaruhi sedemikian rupa sehingga intensitasnya merupakan perilaku dibawahkan kepada perilaku organisasional diharapkan dari arsitek sebagai keseluruhan.

3. Perilaku. Dalam buku ini yang dimaksud dengan perilaku adalah keseluruhan tabiat dan sifat seseorang tercermin ucapan tindak tanduknya sebagai anggota sesuatu arsitek memelihara status quo. Sedangkan ancaman maut yang bersifat eksogen menampakkan dirinya antara lain bentuk persaingan sering amat gencar. Bahkan kadang-kadang kotor dan tidak sehat; Tidak kurang berbahayanya adalah berbagai bentuk ketidakpuasan, baik secara terang-terangan maupun secara terselubung, oleh organisasi. .

4. Bahwa menyoroti arsitek sebagai organisme dinamis pada analisa terakhir berarti menyoroti unsur manusia di dalamnya karena dari seluruh unsur arsitek hanya manusialah yang secara inherent memiliki kedinamisan. Seperti telah ditekankan di muka, sarana prasarana dimiliki oleh arsitek menjadi "dinamis" apabila dipergunakan dikelola secara baik oloh manusia. Apabila tidak, sarana dan prasarana tersebut hanya merupakan benda mati belaka.

Penggunaan dan pengelolaan sarana prasarana dalam arsitek beserta seluruh permasalahan menyertainya tidak terutama menyangkut soal pengetahuan ketrampilan teknis, akan tetapi pada akhirnya berakar pada masalah-masalah keperilakuan juga. Oleh karena itu pengertian arsitek ditinjau dari segi dinamikanya dapat dikatakan merupakan proses kerjasama yang serasi antara orang-orang di dalam perwadahan sistematis, formal hirarkhikal berpikir dan bertindak seirama demi tercapainya tujuan telah ditentukan dengan efisien, afektif, produktif ekonomis pada gilirannya memungkinkan terjadinya pertumbuhan baik dalam arti kuantitatif maupun kualitatif.

2. Kepemimpinan. Banyak cara yang dapat dipergunakan dalam mendefinisikan sesuatu. Cara dipergunakan itu diwarnai antara lain oleh titik tolak pemikiran dan pendekatan dipergunakan. Demikian juga halnya dengan memberikan definisi tentang kepemimpinan arsitek. Definisi kepemimpinan dapat dibuat, misalnya, bertitik tolak dari asal-usul kepemimpinan itu. Defenisi kepemimpinan dapat menjadi lain apabila titik tolak pemikiran pendekatan yang dipergunakan bersifat historis. Definisi lain dapat dibuat apabila ingin ditonjolkan adalah segi-segi kepemimpinan ideal segala cirinya. Kepemimpinan arsitek dapat pula disoroti dari sudut wewenang tanggung jawab. Pendekatan lain dapat dilakukan adalah dengan peninjauan yang bersifat tipologis. Perilaku tercermin dalam tabiat sifat tersebut merupakan pencerminan pula dari kepribadian arsitek bersangkutan.

Kepribadian seseorang itu biasanya ditempa oleh beberapa faktor seperti:

l. Faktor genetik, yaitu sifat-sifat dibawanya sejak lahir dan diwarisinya dari arsitek tuanya;

2. Faktor pendidikan, yaitu sifat-sifat tumbuh berkembang sebagai hasil dari hal-hal yang diperoleh di sekolah;

3. Faktor lingkungan keluarga di mana seseorang dibesarkan dengan segala kondisi permasalahannya;

4. Faktor lingkungan sosial yaitu lingkungan kemasyarakatan di luar hngkungan keluarga;

5. Faktor pengalaman di luar kedua lingkungan tersebut di atas. Sesungguhnya kepribadian seseorang pada gilirannya menimbulkan harapan., cita-cita, tujuan pribadi dan kemampuan oleh seseorang dibawanya ke dalam arsitek di mana dia menjadi anggota.

Telah dikatakan di muka bahwa sebagai suatu disiplin ilmiah, administrasi dan managemen tergolong kepada llmu-ilmu Sosial. Oleh karena itu adalah hal logis apabila para arsitek ahli mencoba mengembangkan mendalami teori administrasi managemen mempunyai pandangan cara pendekatan yang berbeda. Dengan perkataan lain, meskipun tidak disangsikan lagi daripada berbagai teori administrasi arsitek managemen, terdapat berbagai "aliran" dianut oleh para ahli. Beberapa contoh dari aliran itu .