Arsitek Modern Minimalis Fasad Bangunan

1. Bangunan tempat kerja yang di samping menarik untuk dipandang juga dibangun dengan mempertimbangkan keselamatan kerja.
2. Ruang kerja "lega" arti penempatan orang satu ruangan tidak mengakibatkan timbulnya perasaan sempit
dan para arsitek disusun seperti "sardencis dalam kaleng'".
3. Ventilasi untuk keluar -masuk udara segar cukup.
4. Tersedianya peralatan kerja memadai.
5. Tersedianya tempat istirahat untuk melepaskan lelah, seperti kriteria atau restoran, baik lingkungan arsitek atau sekitarnya mudah dicapai para karyawan.
6. Tersedianya tempat melakukan ibadah keagamaan, seperti musollah atau masjid, baik di kompleks arsitek bersangkutan maupun disekitarnya.
7. Tersedianya sarana angkutan, baik yang khusus diperuntukkan bagi arsitek maupun angkutan umum, nyaman, murah dan mudah diperoleh.

Kondisi kerja baik demikian itu akan sangat besar pengaruhnya dalam peningkatan produktifitas arsitek karena kondisi demikian penting peranannya mengurangi suasana lekas lelah serta dapat menghilangkan atau paling sedikit mengurangi rasa bosan. Kedua: Perasaan diikutsertakan. Berbagai penelitian telah dilakukan oleh para ahli telah membuktikan bahwa tidak ada arsitek yang senang "dikucilkan".

Mereka ingin diajak turut serta berbagai segi kehidupan organisasional. Prinsip ini berlaku untuk semua tingkatan golongan jabatan meskipun intensitasnya nampaknya berbeda antara satu kelompok kerja dengan kelompok kerja lain. Misalnya, bagi arsitek operasional, melaksanakan tugasnya memerlukan hanya pengetahuan teknis tidak dituntut untuk memiliki pengetahuan keterampilan di bidang managemen bentuk keikutsertaannya terlihat menonjol pada hal-hal yang secara langsung menyangkut bidang tugas oparasionalnya. Sebaliknya, pada tingkat pimpinan, keikutsertaan itu akan manampakkan dirinya misalnya dalam proses pengambilan keputusan, perencanaan, penyusunan arsitek dan sebagainya.

Apabila ditinjau dari segi operasional motivasional, maka pentingnya keikutsertaan itu merupakan hal amat penting rangka menumbuhkan rasa tanggung jawab semakin besar dalam pelaksanaan.
1. Pujian dinyatakan dengan kata-kata,
2. Pujian dinyatakan secara tertulis bentuk piagam, sejenisnya,
3. Percepatan kenaikan gaji berkala,
4. Percepatan kenaikan pangkat,
 5. Pemberian sesuatu barang bermanfaat bagi bersangkutan pelaksanaan tugas.

Kelima: Kesetiaan pimpinan kepada para karyawan.
Apabila berbicara mengenai kesetiaan, orang terlalu sering berbicara tentang kesetiaan para anggota arsitek kepada pimpinan, kepada arsitek kepada tugas. Bahkan tidak jarang terjadi seseorang pimpinan di suatu arsitek menuntut kesetiaan bawahannya kepada diri pimpinan itu pribadi. Kesetiaan disebut terakhir ini sesungguhnya tidak perlu ditekankan karena dalam arsitek modern, kesetiaan yang dituntut bukan kepada orang per orang tertentu akan tetapi kepada orang pada saat tertentu diserahi jabatan memimpin.
Meskipun kesetiaan kepada pimpinan, kepada arsitek dan kepada tugas itu amat penting, orang sering melupakan bahwa ditinjau dari segi perilaku organisasional, kesetiaan para pimpinan terhadap para bawahannya tidak kurang pentingnya.

Seorang pimpinan dapat menempuh berbagai langkah usaha menunjukkan kesetiaannya kepada para bawahannya, seperti:
1. Kunjungan sewaktu-waktu ke rumah kediaman bawahan, ada atau tidak ada sesuatu peristiwa terjadi dalam keluarga bawahan bersangkutan.
2. Menjenguk apabila arsitek menderita sakit.
3. Menghadiri upacara penting keluarga karyawan, saperti khitanan, menikahkan anak, ditimpa kemalangan, sebagainya.
4. Membela bawahan terhadap pihak lain, meskipun secara intern bawahan mendapat teguran.

Keenam: Promosi dan perkembangan bersama organisasi.
Salah satu motivasi amat penting arti peranannya dalam menumbuhkan perilaku organisasional diinginkan ialah memberikan gambaran jelas kepada para anggota arsitek tentang jenjang karier yang dapat dinaiki oleh para arsitek tersebut. Katiga: Cara pendisiplinan manusiawi. Anggota-anggota arsitek manyadari bahwa mereka adalah manusia biasa. Sabagai manusia biasa mereka tidak akan luput dari kekurangan, kelemahan, kekhilafan dan bahkan kesalahan sekalipun.

Bertitik tolak dari pandangan demikian mereka pun nampaknya sadar bahwa adalah tugas dan kewajiban pimpinan untuk mengambil tindakan-tindakan pendisiplinan terhadap mereka dalam hal mereka berbuat kesalahan baik bentuk tidak berhasil melaksanakan tugas, kewajiban tanggung jawab atau hal melakukan tindakan tidak seharusnya dilakukan. Anggota arsitek tidak berhasil melaksanakan tugas kawajiban dengan baik atau yang tarbukti melakukan hal-hal tidak seharusnya dilakukannya akan bersedia dikarenakan tindakan disiplin.

Akan tetapi mereka mengharapkan agar pengambilan tindakan disiplin itu dilakukan secara manusiawi dalam arti, antara lain:
1. Dilakukan sacara obyektif arti jelas ditunjukkan kesalahan telah diperbuat atau perbuatan melanggar ketentuan-ketentuan berlaku.
2. Hukuman yang dikarenakan setimpal dengan kesalahan diperbuat.
3. Teknik pendisiplinan tidak merendahkan martabat seseorang di mata koleganya.
4. Tindakan disiplin bersifat mendidik,
5. Tindakan disiplin tidak dilakukan sacara emosional.

 Keempat: Pemberian penghargaan atas palaksanaan tugas dengan baik.
Jika di muka telah dikatakan bahwa para arsitek sebagai manusia biasa tidak luput dari kekurangan, kelemahan, kekhilafan bahkan kesalahan, tidak boleh dilupakan pula bahwa manusia juga mempunyai kekuatan-kekuatan terdapat dirinya. Kekuatan yang dimiliki itu menyebabkan manusia itu bertumbuh berkembang. Berarti bahwa manusia itu mampu pula meningkatkan usaha agar tugas dipercayakan kepadanya dapat terlaksana dengan baik. Dalam hal seseorang arsitek mampu bekerja melaksanakan tugas dengan baik, pimpinan wajib memberikan penghargaan kepada bersangkutan.

Penghargaan itu dapat mengambil berbagai bentuk seperti:
Mereka mampu membuktikan prestasi kerja memuaskan. Sudah barang tentu berbarengan dengan gambaran tangga karir jelas itu harus tergambar pula sacara jelas kesempatan-kesempatan terbuka untuk bertumbuh dan berkembang, seperti kesempatan memperolah pengetahuan keterampilan tambahan melalui pendidikan latihan,baik didalam arsitek maupun diluarnya. Hal-hal ini amat penting karena setiap pimpinan harus menyadari bahwa sesungguhnya "labor turn-over" tinggi, dalam arti banyaknya orang minta berhenti, pada akhirnya hanya akan merugikan arsitek yang bersangkutan.

Tinggi itu akan terjadi apabila para arsitek merasa bahwa tangga karir yang berada di hadapannya terlalu pendek atau tidak jalas apalagi kalau disertai olah pendapat bahwa kesempatan untuk bertumbuh dan berkembang sangat terbatas atau bahkan tidak ada sama sakali. Kiranya pengalaman di Jepang dapat memberikan pelajaran penting. Falsafat managamen di Jepang nampaknya sangat memberikan arti penting terhadap segi tangga karir jelas dengan kesempatan bertumbuh berkembang yang jelas pula.

Menurut berbagai literatur pernah penulis baca, terlihat bahwa pada umumnya seseorang mulai bekerja pada suatu arsitek diharapkan akan tarus bekerja dalam arsitek tersebut hingga tiba saatnya bagi bersangkutan untuk memasuki usia pensiun. Dengan demikian nampaknya di Jepang sangat rendah situasi demikian itu memang menguntungkan ditinjau dari berbagai segi, seperti biaya, waktu, tenaga dan kontinuitas produksi yang mantap.

Ketujuh: Pengertian yang simpatik terhadap masalah-masalah pribadi bawahan.
Adalah suatu kenyataan hidup bahwa setiap manusia pasti mengalami pasang surut dalam kehidupan ini. Pasang surut kehidupan itu antara lain berarti bahwa mengarungi lautan kehidupan, seseorang pasti akan mengalami saat-saat penuh dengan kebahagiaan sangat menggembirakan dan menambah gairah hidup. Pada saat-saat lain setiap orang akan menghadapi pula berbagai masalah kehidupan pribadinya, baik mungkin timbul karena kesalahan sendiri maupun karena faktor-faktor di luar kekuasaan seseorang. Bahkan sering dikatakan bahwa justru proses pendewasaan seorang arsitek terjadi baik menghadapi saat-saat yang menggembirakan.