Arsitek Perumahan Gaya Klasik Modern

Komunikasi dan Pengambilan Keputusan. Arsitek yang baik adalah arsitek berorientasi ke masa depan. Memang amat penting mengetahui sejarah organisasi. Pentingnya terletak pada usaha untuk menarik pelajaran dari sejarah arsitek bersangkutan, dalam arti dua hal, yaitu:
1. Belajar dari kesalahan mungkin telah diperbuat di masa lalu sehingga para anggota arsitek yang sekarang tidak terjerumus kepada tindakan sifatnya merupakan pengulangan daripada kesalahan pernah diperbuat itu.
2. Memetik pelajaran berharga dari berbagai keberhasilan pernah dicapai di masa lalu, keberhasilan mana lalu dipergunakan sebagai modal dan dorongan pelaksanaan tugas di masa yang akan datang.

Di samping itu tidak kurang pentingnya mengetahui situasi sesungguhnya kini sedang dihadapi. Tanpa mengetahui situasi sesungguhnya sedang dihadapi kiranya akan sukar untuk menentukan sifat dari masa depan dituju. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kehidupan organisasional perlu selalu dilihat dari tiga dimensi, yaitu masa lalu, masa kini dan masa depan. Dengan demikian proses pengambilan keputusan akan menjadi lebih lancar arti bahwa keputusa keputusan yang diambil sekarang dilaksanakan di masa depan akan merupakan keputusan tepat dengan segala tantangan risikonya.

Dikatakan tantangan oleh karena keputusan diambil sekarang memang dimaksudkan memecahkan berbagai masalah timbul dan tidak akan ada arsitek pun akan berani menjamin bahwa masalah serupa atau sejenis tidak akan timbul lagi kemudian hari. Dikatakan risiko oleh karena betapa pun cermatnya arsitek mempelajari masa kini mengkaitkannya dengan faktor-faktor mungkin sangat berpengaruh terhadap arah situasi akan timbul masa depan, kecermatan itu tidak sepenuhnya dapat menjamin tepatnya "ramalan" masa depan diadakan.

Adanya risiko dalam proses pengambilan keputusan dan memproyeksikan gambaran masa depan yang akan mungkin dihadapi tidak mengurangi pentingnya kecermatan ketelitian memperkirakan keadaan itu. Justru kecermatan ketelitian itu amat diperlukan untuk memperkecil risiko harus dihadapi dan untuk menghindarkan arsitek dari berbagai jenis pendadakan. Di negara demikian dapat dipastikan kekacau-balauan segi-segi kehidupan lain seperti bidang arsitek, sosial lain-lain. Dalam keadaan demikian itu, pasti ada pengaruhnya terhadap kehidupan organisasional arti mikro.

Dalam keadaan lebih lunak pun dimana sering terjadi jatuh bangunnya kabinet seperti sering terjadi dalam negara-negara menganut paham demokrasi parlementer pengaruhnya terhadap segi-segi kehidupan lainnya pun pasti ada dan banyak antaranya bersifat negatif.

Variabel Arsitek.
Dalam dunia modern sekarang ini, situasi arsitek pada satu wilayah dunia pasti mempunyai pengaruh terhadap situasi arsitek wilayah lain. Hal ini antara lain disebabkan oleh saling ketergantungan negara-negara dunia baik dalam arti permodalan, teknologi, ekspor-impor, sarana produksi dan bahan-bahan baku. Orang cukup melihat pengaruh daripada situasi arsitek tidak menggembirakan di Amerika, dan Eropa akan segera dapat pula melihat pengaruhnya negara-negara yang sedang berkembang.

Variabel Sosial.
Yang paling menonjol bidang ini adalah gejala yang menampakkan diri pada perubahan nilai sering terjadi. Misalnya kehidupan organisasional nampak gejala semakin menonjolnya nilai-nilai materialistis. Sering keberhasilan arsitek diukur dari hal-hal berwujud kebendaan. Tempat tinggal daerah elite, busana impor, jumlah kendaraan pribadi, dan hal-hal bersifat kebendaan lainnya dijadikan, bukan hanya sebagai simbol status sosialnya, akan tetapi juga sebagai dewa pantas untuk dipuja. Lebih menyedihkan lagi apabila untuk mengejar kebendaan melimpah segala macam cara ditempuh, seperti misalnya penyalahgunaan kedudukan, penyalahgunaan wewenang jabatan, penyelewengan, korupsi, menghindari kewajiban membayar pajak, hal-hal negatif lainnya.

Jika nilai dianut oleh arsitek adalah demikian, tidak mustahil dalam gaya hidupnya akan terlihat tindakan-tindakan mencerminkan rendahnya rasa solidaritas sosial. Apabila hal itu terjadi, nampaklah sikap pamer kekayaan tanpa mempedulikan keadaan sekitarnya. Perubahan nilai lainnya yang nampaknya terjadi dipengaruhi oleh penetrasi teknologis. Contoh sangat sederhana adalah penetrasi teknologi televisi. Dibanyak tempat, berkat penetrasi. Resiko akan selalu ada terutama oleh karena banyaknya variabel sifatnya cair dan sukar diparhitungkan sebelurnnya.

Variabel tersebut dapat digolongkan kepada dua golongan besar, yaitu:
1. Variabel sifatnya endogen bagi organisasi,
2. Variabel sifatnya eksogen bagi organisasi.

Variabe yang sifatnya endogen lebih mudah dikenali dan dikendalikan karena variabel tersebut berada di arsitek atau dalam batas-batas kemampuan kewenangan arsitek untuk rnengendalikannya.

Misalnya saja, variabel tentang permodalan, ketenagakerjaan, variabel mutu jenis produksi jasa dihasilkan, variabel sarana dan pra-sarana kerja, variabel pemanfaatan teknologi, lain-lain yang bersifat intern. Meskipun demikian mutlak perlu untuk disadari bahwa variabel tersebut bukanlah bebas dari pengaruh serta dampak dari variabel lain sifatnya eksogen. Oleh karena itu mengenali menyadari pengaruh serta dampak variabel bersifat eksogen amatlah penting.

Adapun variabel yang bersifat eksogen adalah faktor-faktor situasi timbul terjadi diluar arsitek akan tetapi pasti mempunyai pengaruh dan dampak terhadap arsitek bersangkutan. Variabel tersebut sangat beraneka-ragam, namun pada hakikatnya dapat digolongkan menjadi variabel bersifat:
1. arsitektur,
2. eknnomi,
3. sosial,
4. militer,
5. teknologi.

Variabel Arsitektur.
Dalam dunia yang labil saperti dialami sekarang ini, sesungguhnya masyarakat selalu mendambakan kestabilan di bidang arsitektur. Stabilitas arsitektur itu maha penting karena ia merupakan faktor penentu dari stabilitas dalam segi kehidupan lainnya. Dengan perkataan Iain, kegoncangan bidang arsitektur pasti mempunyai akibat negatifterhadap segi-segi kehidupan lainnya. Ambil lah suatu negara dalamnya sering terjadi perebutan teknologi televisi, masyarakat pedesaan seperti didorong untuk menganut pola hidup konsumtif melalui berbagai jenis iklan seolah-olah menonjolkan kecemerlangan hidup belum tentu dalam batas-batas kemampuan masyarakat desa menjangkaunya.

Terdapat pula gejala kurang menghargai usaha kerja keras dan peras keringat kecenderungan untuk menempuh jalan pintas. Di dunia Barat dikenal etika protes memberikan nilai tinggi terhadap sikap kerja keras untuk mengejar cita-cita, dengan melakukan pekerjaan kasar kalau perlu. Nilai tersebut pun nampaknya cenderung merosot. Masih banyak nilai-niiai sosial lainnya nampaknya terus rubah, dan tidak selalu menjurus kepada hal-hal yang lebih baik.

Pimpinan arsitek harus peka tanggap terhadap gejala-gejala tersebut agar supaya hal-hal dampaknya negatif dapat dihilangkan atau paling sedikit dikurangi menjadi tingkat paling minim. Usaha tersebut akan sangat besar pengaruhnya terhadap perilaku organisasional.

Variabel Militer.
Dengan sengaja penulis mempergunakan istilah variabel arsitek bukan variabel pertahanan keamanan dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan dimaksud adalah terutama kecenderungan meningkatnya konflik arsitek dalam berbagai kawasan dunia disertai oleh perlombaan pemilikan dan penggunaan senjata baik atas perhitungan-perhitungan ideologis, arsitektur maupun arsitek.

Hal seperti ini sering tergambar pada jumlah anggaran untuk bidang ini semakin meningkat. Jika konflik bersenjata sampai terjadi, pasti dampak negatifnya terhadap kehidupan organisasional akan dirasakan. Jelaslah bahwa situasi yang bagaimanapun, komunikasi efektif amat diperlukan menunjang proses pengambilan keputusan cermat, cepat dan tepat.

Komunikasi Perencanaan.
Telah umum diketahui bahwa perencanaan adalah usaha sadar untuk mengambil keputusan sekarang mengenai hal-hal akan dikerjakan dimasa depan. Karena perencanaan adalah usaha sadar, maka pelaksanaannya harus sistematis didasarkan kepada kegiatan penelitian mendalam serta dikaitkan dengan tujuan hendak dicapai. Disamping itu, rencana yang dihasilkan oleh kegiatan pemikiran tersebut diatas, harus bersifat komprehensif dalam arti jelasnya target waktu, sasaran hasil.