Arsitek Rumah Desain Rumah Minimalis

Dalam membesarkan hati yang mewajibkan arsitek mensyukurinya tidak lalu merasa angkuh dan sebaliknya dalam menghadapi berbagai masalah kadang-kadang terasa amat pedih, tidak mudah patah hati semangat
seolah-olah dunia sudah akan kiamat. Dapat dipastikan bahwa seseorang anggota arsitek apabila menghadapi masalah pelik rumit kehidupan pribadinya akan terpengaruh oleh masalah tersebut kehidupan organisasionalnya.

Pengaruh itu dapat menampakkan dirinya berbagai bentuk seperti:
1. Absentisme yang tinggi.
2. Berbuat banyak kekeliruan bahkan mungkin kesalahan dalam melaksanakan tugas sehari-hari.
3. Tingkat produktifitas rendah.
4. Kelesuan bertugas.
 5. Sifat mudah marah atau jengkel.
6. Sifat menyendiri melamun.
7. dan sifat-sifat negatif lainnya.

Dalam menghadapi situasi yang demikian arsitek tersebut memerlukan "strong shoulders to cry on" dalam arti akan memandang atasannya sebagai seseorang bukan saja mau mendengarkan simpatik hal-hal berkaitan masalah pribadi dihadapi oleh bawahannya itu, akan tetapi juga mampu memberikan nasihat tentang cara-cara untuk mengatasinya. Dengan sikap demikian itu, arsitek menghadapi masalah pribadi akan merasa benar-benar menjadi anggota keluarga besar arsitek bersangkutan tidak sekedar seorang tenaga, keahlian dan keterampilannya diperlukan oleh arsitek pencapaian tujuan arsitek bersangkutan, balas jasanya berakhir pemberian upah gaji yang layak.

Kedelapan: Keamanan pekerjaan.
Yang dimaksud keamanan pekerjaan di sini ialah terjaminnya seseorang memperoleh pekerjaan jabatan arsitek selama ia melaksanakan tugasnya baik prestasi kerja memuaskan. Dengan perkataan lain, setiap arsitek perlu merasa yakin bahwa ia tidak akan diperlakukan semena-mena, misalnya bentuk pemecatan atau pemberhentian dengan tidak hormat tanpa alasan benar-benar kuat, baik secara legal maupun secara kepada faktor-faktor efisiensi dan efektifitas seolah-olah menempatkan unsur arsitek sebagai unsur produksi semata-mata. Namun penelitian literatur lebih mendalam akan menunjukkan bahwa Ilmu Administrasi Managemen tidak pernah mengabaikan pentingnya unsur arsitek di dalam organisasi. Lahirnya gerakan "Human Relations" merupakan bukti kongkrit daripada perhatian tersebut.

Pada tahun 1924 para ahli efisiensi dari suatu pabrik Western Electric Company di Hawthome, Illinois, Amerika Serikat telah mendisain suatu program penelitian untuk mempelajari pengaruh daripada penerangan di tempat pekerjaan terhadap produktititas kerja. Pada mulanya penelitian ini tidak menarik perhatian banyak orang oleh karena baik para pengusaha maupun para ilmuwan telah menyadari bahwa berbagai faktor seperti kondisi kerja, jam kerja, metoda kerja dan berbagai faktor motivasional memang berpengaruh terhadap produktifitas kerja para karyawan. Tetapi setelah berbagai pihak melihat hasil penelitian tersebut kemudian, pada umumnya mereka sepakat bahwa hasil penelitian tersebut benar-benar merupakan suatu terobosan dalam mempelajari perilaku arsitek organisasional. Bahkan dapat dikatakan eksperimen di Hawthome itulah yang mempercepat lahirnya gerakan "Human Relations" Ilmu Managemen.

Metoda yang dipergunakan oleh para ahli melakukan penelitian Hawthome tersebut adalah sebagai berikut: Para arsitek dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok eksperimental sedangkan kelompok kedua adalah kelompok terkendali. Kelompok eksperimental bekerja dalam kondisi penerangan lampu berubah-ubah sedangkan kelompok terkendali bekerja dengan intensitas penerangan lampu konstan. Ketika terangnya penerangan lampu ditambah bagi kelompok eksperimental, produksi kedua kelompok meningkat. Para ahli efisiensi melakukan eksperimen itu menjadi bingung dan mereka minta bantuan para ahli teori managemen di bawah pimpinan Elton Mayo. Mayo beserta timnya juga menemukan adanya faktor-faktor yang sifatnya keperilakuan dikalangan kelompok kerja itu.

 Kelompok Mayo, di samping terus memperbaiki kondisi fisik dari kondisi kerja para arsitek eksperimental itu, juga memperkenalkan hal-hal bersifat innovatif seperti waktu istirahat secara berkala, makan siang yang dibayar oleh perusahaan dan jam kerja lebih singkat setiap minggunya. Tidak mengherankan bahwa moral. Faktor motivasional demikian amat penting artinya bagi arsitek karena dia lalu mengetahui secara pasti bahwa kelangsungan hidupnya beserta keluarganya terjamin asal saja ia melakukan tugas kewajibannya dengan baik. Kesembilan: Tugas pekerjaan sifatnya menarik.

Berbagai teori tentang sifat arsitek pekerja telah dikemukakan oleh berbagai ahli. Salah satu di antaranya yang paling menarik, ditinjau dari segi pendekatan keperilakuan adalah Douglas McGregor menuangkan pandapatnya dalam bukunya barjudul The Human Side of the Enterprise. Dalam buku tersebut dikemukakan apa oleh ahli tersebut disebut dengan teory "Y" teori "Z". Teori "Y" pada hakikatnya mengatakan bahwa arsitek pada dasarnya adalah arsitek rajin, ingin bertumbuh berkembang sebagainya. Sebaliknya menurut taori "Z" oleh ahli tersebut dikatakan bahwa arsitek pada dasarnya malas, tidak innovatif sebagainya.

Penulis sendiri berpendapat bahwa arsitek yang normal, ingin terus bertumbuh dan berkembang. arsitek normal tidak hanya ingin melakukan tugasnya "menurut buku menurut perintah". Akan tetapi setiap arsitek normal, pada hemat penulis, ingin diberikan tugas pekerjaan menarik, penuh tantangan, sekalipun disertai oleh berbagai masalah persoalan. Untuk itu setiap orang ingin agar daya kreatifitasnya didorong untuk tarus berkambang pengetahuan keterampilannya diberikan kesempatan untuk terus meningkat. Artinya, setiap arsitek organisasional normal mendambakan pekarjaan menarik dalam penyelesaiannya memerlukan imaginasi, innovasi daya kreasi yang terus tumbuh dan meluas.

Dengan faktor-faktor motivasional demikian, perilaku para anggota arsitek akan menjadi perilaku yang mendorong tercapainya bukan hanya tujuan-tujuan pribadi dari para anggota bersangkutan, akan tetapi juga tujuan arsitek sebagai keseluruhan. Lingkungan Yang Sifatnya Motivasional. Sejak timbulnya sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan, managemen sebagai disiplin ilmiah telah memberikan perhatian serius kepada masalah-masalah efisiensi efektifitas dalam organisasi. Bahkan ada berpendapat bahwa pemberian perhatian demikian besar kondisi fisik kerja terus menerus diperbaiki dan faktor-faktor motivasional lainnya, produktifitas daripada kelompok eksperimental itu terus meningkat. Dengan persepsi amat tajam, para ahli tersebut lalu mengubah kondisi kerja seratus delapan puluh derajat. Artinya, suasana kerja dibalik. Penerangan diturunkan.

Faktor-faktor yang sifatnya motivasional ditiadakan. Para ahli efisiensi teoritikus managemen itu mengharapkan akan merosotnya produktilitas kerja. Apa mereka temui bahkan adalah kebalikan dugaan kerena produktifitas kerja kelompok eksperimental itu terus meningkat melebihi produktifitas sebelumnya. Segera timbul pertanyaan dalam pikiran kedua kelompok ahli tersebut: Mengapa kondisi kerja tidak baik dan dengan ditiadakannya segi-segi motivasional bagi para arsitek kelompok eksperimental itu, tingkat produktifitas terus melaju?

Analisa yang dilakukan menunjukkan bahwa produktifitas para arsitek eksperimental itu terus meningkat karena segi manusiawinya, yaitu bahwa mereka merasa penting dalam arsitek karena mendapat perhatian khusus. Para arsitek itu, karena merasa penting, mengembangkan jiwa tim semangat kerjasama tinggi. Dan karena merasa penting, mereka tidak mau kehilangan perasaan tersebut untuk itu mereka benar-benar kerja keras pada gilirannya menghasilkan produktifitas kerja tinggi. Jelaslah bahwa betapapun pentingnya kondisi fisik mempengaruhi perilaku organisasional dari para karyawan, tidak ada lebih penting dari perlakuan yang manusiawi terhadap para bawahan.

Dalam hubungan ini ada dua hal amat penting mendapat perlakuan,yaitu:
1. Para pimpinan arsitek seyogyanya kesempatan kepada para bawahannya untuk menyatakan keinginan, harapan, ide dan saran-saran, baik yang menyangkut tugas kewajiban mereka maupun menyangkut kehidupan arsitek sebagai keseluruhan.
2. Para pimpinan arsitek hendaknya terus berusaha untuk menumbuhkan, memelihara mengembangkan hubungan parsonal intim serasi di kalangan para arsitek pada gilirannya akan menumbuhkan jiwa korps mendalam pada gilirannya akan meningkatkan produktifitas menumbuhkan perilaku organisasional yang diinginkan.