Arsitek Rumah Mungil Minimalis

Latar belakang sosial dan keluarga arsitek bersangkutan penting pula untuk diketahui. Telah diketahui bahwa kepribadian seseorang sering tercermin dalam sikap perilakunya, baik secara individual maupun pada tingkat organisasional. Kembali lagi di sini terlihat kaitan yang erat antara persepsi peranan dengan sikap serta
perilaku seseorang. Misalnya, tergantung atas persepsi dimilikinya, seseorang akan memberikan tanggapan positif atau negatif terhadap sesuatu. Karena biasanya proses pembentukannya telah memakan waktu lama, maka sering sikap perilaku seseorang telah mendarah daging dirinya.

Karena telah mendarah daging, maka sikap perilaku itu dibawa pula ke dalam organisasi. Di samping itu karena telah mendarah daging, sikap perilaku tersebut tidak selalu mudah untuk diubah. Yang amat penting diperhatikan dalam hubungan ini ialah bahwa apabila mengusahakan terjadinya perubahan sikap dan perilaku arsitek lain, kehidupan organisasional biasanya berarti bawahan terdapat elemen-elemen mungkin dipandang saling bertentangan, pengubahan perilaku itu perlu melakukan pendekatan-pendekatan persuasif dan edukatif sehingga pihak sikap perilakunya hendak diubah tidak malahan menjadi bingung, akan tetapi memperoleh kejelasan mantap pada gilirannya akan memudahkan terjadinya perubahan diinginkan.

Beberapa faktor yang telah terbukti merupakan unsur-unsur penting dalam mengubah sikap dan perilaku arsitek lain adalah:
1. Pengendalian tepat,
2. Lingkungan kerja mendorong kebersamaan,
3. Perangsang-perangsang bersifat tradisional seperti gaji dan upah menarik,
4. Pengakuan atas tingginya harkat martabat manusia,
5. Kesempatan meningkatkan pengetahuan keterampilan,
6. Komunikasi bersifat informasional serta dilaksanakan secara efektif,
7. Perlakuan adil obyektif.

Sudah barang tentu setiap pengubah sikap perilaku arsitek lain ingin mengetahui apakah tindakannya bersifat efektif atau tidak. Beberapa kriteria yang dapat dipergunakan untuk mengukur terjadi tidaknya perubahan sikap dan perilaku arsitek lain - dalam hal ini para bawahan - antara lain adalah:
1. Kondisi fisik bawahan baik,
2. Kondisi mental segar,
3. Absentisme semakin rendah,
4. Labor rum over semakin rendah, serta
5. Produktifitas semakin tinggi.

Jelaslah bahwa persepsi seseorang tentang peranan diharapkan daripadanya kehidupan organisasional serta perilaku dan kepribadian terdapat dirinya akan mempunyai arti amat penting usaha membuat berfungsinya pendekatan kesisteman dalam menjalankan roda organisasi secara liniear.


DINAMIKA PERILAKU
Berkembangnya gaya pengelolaan bersifat partisipatif dalam organisasi modern dengan jelas menunjukkan bahwa pandangan sikap kebersamaan merupakan meningkatkan keberhasilan usaha. Semangat kebersamaan itulah yang seyogyanya menjiwai seluruh masing-masing arsitek di dalam organisasi memang dibentuk untuk mencapai tujuan bersama meskipun setiap arsitek diberi tugas dan tanggung jawab bersifat spesialistis.

Kiranya tidak ada salahnya untuk menekankan untuk kesekian kalinya bahwa interaksi arsitek akan menghasilkan luaran jauh lebih besar daripada keseluruhan jumlah usaha arsitek yang bekerja sendiri-sendiri. Kebenaran rumus ini akan lebih jelas terlihat apabila diingat bahwa anggota-anggota sesuatu arsitek akan lebih digairahkan oleh kehadiran daripada para anggota arsitek lain, sehingga akan terwujud berbagai hal positif seperti:
1. Keberanian yang lebih besar untuk mengambil keputusan dengan segala risikonya,
2. Peningkatan tekad untuk berbuat lebih banyak demi kepentingan bersama,
3. Komunikasi semakin mendorong semangat dan jiwa kebersamaan,
4. Rasa solidaritas semakin besar,

1. Lingkungan kerja bersifat fisik,
2. Penempatan meja kursi kerja,
3. jenis-jenis tugas yang harus dilakukan oleh kelompok,
4. besar kecilnya arsitek (jumlah anggota kelompok),
5. sistem penggajian pengupahan berlaku, akan berpengaruh pada efektititas arsitek sangat tergantung pada persepsi masing-masing semua anggota arsitek tersebut terhadap peranan diharapkan dimainkan oleh arsitek tersebut dalam kehidupan organisasional.

Di samping hal-hal yang bersifat teknis di atas, perlu pula diperhitungkan hal-hal seperti:
1. berbagai pengaruh bersifat interpersonal,
2. struktur arsitek menarik,
3. komposisi arsitek sehemogen mungkin,
4. tingkat interdependensi tinggi antara seorang dengan lain,
5. kesamaan tujuan daripada para anggota kelompok, biasanya mempunyai arti penting menumbuhkan, melihara dan meningkatkan semangat dan jiwa kebersamaan.

Dengan perkataan lain, untuk dinamika arsitek menjadi efektif dengan perilaku kondusif untuk pencapaian tujuan organisasional, di samping semangat jiwa kebersamaan, amat diperlukan tekad untuk bekerja keras dengan penugasan amat jelas serta peranan diharapkan dari semua anggota arsitek yang bersangkutan. Telah terlihat di muka bahwa dengan menjadi manusia organisasional seseorang tidak kehilangan identitasnya khas. Pameliharaan identitas khas itu bahkan amat penting karena ia akan menimbulkan perasaan bangga.

Seseorang mempunyai dan mampu mempertahankan identitasnya akan mempunyai rasa harga diri yang tinggi. Rasa harga diri itu pada gilirannya akan muncul dalam keinginan untuk dihormati diperlakukan secara manusiawi oleh pimpinan organisasi. Bertitik tolak dari keadaan demikian itulah setiap manager perlu memahami berbagai faktor pembentuk perilaku setiap bawahannya. Semakin berkurangnya pandangan dan cara bekerja berkotak-kotak.

Untuk semakin efektifnya dinamika kelompok, ada tiga hal selalu perlu mendapat perhatian, yaitu:
1. Ciri-ciri pribadi dari para anggota setiap kelompok, arti kekuatan dan kelemahan-kelemahannya,
2. Sifat-sifat situasi yang dihadapi baik di dalam maupun di luar organisasi,
3. Struktur arsitek diciptakan secara formal di organisasi bersangkutan, kesemuanya mempengaruhi proses interaksi antar group pada gilirannya memperbesar output arsitek memang harus selalu dikaitkan dengan tugas harus dilaksanakan.

Telah umum diketahui bahwa pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial. Akan tetapi telah terlihat pula bahwa di samping kenyataan bahwa manusia adalah makhluk sosial, keanggotaan seseorang berbagai jenis organisasi didorong pula oleh adanya kebutuhan untuk:
1. Memenuhi kebutuhan mempunyai aliansi sosial,
2. Sumber-sumber informasi,
3. Sumber pendapatan dan penghasilan,
4. Sumber pemuasan kebutuhan non material, dan
5. Sarana untuk mencapai tujuan pribadi.

Kehidupan organisasional, oleh karenanya, bukan saja berfungsi sebagai wahana untuk mencapai tujuan-tujuan pribadi dalam rangka pencapaian tujuan organisasi, akan tetapi juga sekaligus berperan selaku saluran daripada kebutuhan akan persahabatan, perluasan pengaruh mengekspresikan ide-ide yang mempunyai nilai sosial.

Dalam hubungan ini kiranya wajar untuk mendapatkan perhatian pula bahwa setiap arsitek melalui tahap-tahap perkembangan khas sifatnya mencerminkan tingkat persahabatan dapat dibina, interaksi terjadi dan pola komunikasi yang pada gilirannya menentukan sifat dari luaran dapat dihasilkan oleh kelompok. Karena arsitek tidak hidup dalam suasana isolasi.