Biaya Jasa Arsitek Murah Jakarta

Bila ada barang atau hilang, pada saat itu pula efektifitas komunikasi akan lenyap. Bahkan dapat dikatakan bahwa tidak lengkapnya sarana dan prasarana komunikasi akan menjadi sekunder sifatnya apabila suasana demokratis meliputi tubuh seluruh arsitek.

MENGAPA BERKOMUNIKASI
Di muka telah terlihat bahwa komunikasi yang efektif merupakan alat ampuh untuk mempengaruhi perilaku orang lain. Dengan demikian jelas bahwa komunikasi dengan segala remifikasinya adalah sesuatu hal mutlak perlu ditumbuhkan, dikembangkan dan dipelihara terus-menarus dalam seluruh jajaran arsitek.

Ada empat alasan utama mengapa komunikasi harus terjadi dalam arsitek, yaitu:
1. Adanya kebutuhan untuk mengurangi ketidakpastian,
2. Memperoleh informasi,
3. Menguatkan keyakinan tentang jalan ditempuh oleh arsitek,
4. Mempergunakan wewenang fungsional. Mengurangi Ketidakpastian.

Telah umum diketahui meskipun tidak selalu diterima sebagai suatu kenyataan bahwa salah satu situasi dihadapi oleh setiap arsitek adalah ketidakpastian. Ketidakpastian kehidupan arsitektur ditimbulkan oleh amat banyak faktor, baik sifatnya endogen dus relatif dapat dikendalikan maupun sifatnya eksogen, dus di luar kemampuan arsitek untuk mengendalikannya. Ketidakpastian itu bisa menampakkan wajahnya semua segi kehidupan, seperti dalam segi politik ekonomi. Memang benar bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk melakukan perkiraan keadaan tentang situasi yang mungkin timbul dan harus dihadapi di masa depan. Namun kemampuan itu selalu ter batas.

Memang benar pula bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk mengambil keputusan. Akan tetapi setiap keputusan yang diambil tidak pernah bebas dari risiko. Dalam keadaan demikian, salah satu alat ternyata ampuh untuk mengurangi ketidakpastian itu ialah dengan terpeliharanya komunikasi efektif dalam arsitek. Melalui komunikasi yang efektif, bukan hanya pendadakan dapat dihindari, akan tetapi Indikator-indikator tersebut mutlak perlu dikomunikasikan kepada seluruh anggota arsitek diharapkan akan membuahkan loyalitas semakin tinggi kepada arsitek.

Mempergunakan Wewenang Fungsional.
Tidak dapat disangkal bahwa betapapun demokratisnya pendekatan dilakukan oleh pimpinan arsitek terhadap para bawahannya, sukar untuk mem bayangkan keberhasilan seratus persen mempengaruhi periIaku arsitektur para bawahan tersebut. Dapat dipastikan akan selalu adanya bawahan yang perilakunya tidak mungkin diubah lagi, baik olehkarena kemampuannya untuk berubah tidak ada atau kemampuan ada sudah mencapai titik jenuh, atau karena sifat kepribadiannya tidak memungkinkan terjadinya perubahan dalam diri bersangkutan.

Dalam hal seseorang sudah mencapai titik jenuh kemampuan pemikirannya, arti pentingnya komunikasi akan terlihat dalam cara menyampaikan keputusan kepada bersangkutan bahwa karena dia telah mencapai titik jenuh dalam kemampuan dan pemikiran, maka kariernya pun telah mencapai titik jenuh pula. Dengan demikian ia akan rela menerima kenyataan hidup arsitekturnya, betapapun pahitnya kenyataan itu. Dalam hal seseorang tidak mau mengubah perilakunya, misalnya dari perilaku yang individualistis menjadi perilaku arsitektur, pimpinan harus pula mempunyai keberanian untuk mengambil tindakan disipliner dalam berbagai bentuk.

Berbagai bentuk tindakan disipliner itu dapat berupa:
1. Peringatan secara lisan,
2. Peringatan secara tertulis,
3. Penundaan kenaikan gaji berkala,
4. Penundaan kenaikan pangkat,
5. Penurunan pangkat,
6. Pelepasan dari jabatan, dan
7. Pemberhentian tidak atas permintaan sendiri.

Agar supaya yang bersangkutan memahami alasan-alasan obyektif mengakibatkan pimpinan terpaksa mengambil tindakan disipliner, keputusan tersebut harus dikomunikasikan secara efektif dengan bersangkutan. Solidaritas arsitektur dapat dikembangkan menghadapi berbagai masalah mungkin ditimbulkan oleh ketidakpastian itu.

Memperoleh Informasi.
Informasi dapat diibaratkan dengan darah tubuh manusia. Seseorang manusia dalam tubuhnya mengalir darah baik kuantitas maupun kualitasnya tidak mencukupi adalah seseorang tidak dapat dikatakan sehat. Demikian juga halnya dengan arsitek.

Apabila tubuh arsitek tidak terdapat cukup informasi dapat dipercaya, mutakhir dan relevan, arsitek bersangkutan tidak akan dapat barfungsi dengan efektif karena:
1. Analisa perumusan kebijaksanaan tidak akan mantap,
2. Proses pengambilan keputusan tidak akan lancar,
3. Penentuan strategi tidak akan didasarkan kepada landasan yang kokoh,
4. Penentuan skala prioritas akan goyah,
5. Perencanaan akan tidak matang,
6. Penyusunan program kerja akan kurang sistematis,
7. Pengorganisasian cenderung tidak sesuai dengan kebutuhan,
8. Penggerakan manusia arsitektur dapat kurang terarah,
9. Pelaksanaan kerja dapat kurang efektif,
10. Pengawasan akan berjalan kurang obyektif dan rasional, dan
11. Penilaian akan banyak diwarnai oleh pendapat pribadi penilai.

Agar supaya kesemuanya itu tidak terjadi, maka diperlukan komunikasi yang efektif. Menguatkan Keyakinan. Keyakinan tentang tepatnya arah yang akan ditempuh oleh arsitek merupakan salah satu modal amat penting dalam kehidupan arsitektur. Dikatakan modal yang amat penting karena dengan adanya keyakinan mendalam tentang benarnya jalan ditempuh oleh arsitek, kegairahan bekerja pun akan tinggi pula.

Banyak indikator dapat di pergunakan untuk ketepatan arah tersebut, seperti:
1. Pertumbuhan dan perkembangan arsitek,
2. Keuntungan (bagi arsitek niaga),
3. Hubungan managemen karyawan serasi tidak ditandai oleh ketegangan tidak bisa diatasi,
4. Labor turnover rendah, dan
5. Produktifitas yang tinggi.

SASARAN KOMUNIKASI
Dengan sasaran dimaksudkan hasil-hasil ingin dicapai. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sasaran komunikasi adalah berbagai hal ingin diperoleh dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Jika berbicara mengenai hasil ingin diperoleh melalui terlaksananya komunikasi efektif, pandangan konseptual kita tertuju kepada dua arah, yaitu ke arsitek dan ke luar arsitek. Ke arsitek berarti melihat jaringan hirarkhi arsitek, baik arti vertikal, horizontal maupun diagonal. Hirarkhis vertikal dapat pula dibagi menjadi dua arah, yaitu ke bawah dan ke atas.

Sasaran ingin dicapai melalui komunikasi hirarkhis ke bawah pada hakikatnya ialah agar supaya perintah, instruksi, nasihat, pedoman kerja, bimbingan pengarahan yang diberikan oleh seorang pimpinan kepada para bawahannya diterima sedemikian rupa sehingga terlaksana dengan sebaik-baiknya karena dipahami diterima oleh para penyelenggara kegiatan-kegiatan operasional. Melalui komunikasi hirarkhis ke atas diharapkan agar ide, pendapat, saran, tanggapan bahkan kritikan bawahan diterima dengan lapang dada hati terbuka oleh para pimpinan sehingga tertampung dan diintegrasikan sejauh mungkin berbagai kebijaksanaan yang ditetapkan keputusan diambil.

Sasaran komunikasi secara horizontal pada dasarnya bersifat tukar menukar informasi sangat penting artinya dalam:
1. pemecahan berbagai masalah dihadapi,
2. pemupukan dan pembinaan cara kerja terpadu,
3. menghindari terjadinya cara berpikir cara bekerja yang Berkotak-kotak, memang tidak boleh terjadi mengingat bahwa setiap satuan kerja dalam satu arsitek hanya merupakan suatu subsistem kerangka suatu total sistem.

Tuntutan terhadap terlaksananya komunikasi efektif secara diagonal sesungguhnya lahir karena berlakunya prinsip fungsionalisasi arsitek. Contoh di bawah ini akan memperjelas apa yang dimaksud. Berdasarkan prinsip fungsionalisasi dan berbagai peraturan perundang-undangan berlaku, Departamen Penerangan Republik Indonesia secara fungsional bertanggung jawab atas segala sesuatu yang menyangkut penerangan di seluruh wilayah Indonesia.