Cara Konsultasi Dengan Arsitek Profesional

 Setelah berpikir sejenak, Alice lalu berkata: Jika engkau tidak mempunyai tujuan, jalan keluar mana pun yang engkau  tempuh tidak menjadi soal. Anekdot di atas kiranya menunjukkan dengan jelas betapa pentingnya tujuan dalam kehidupan, baik kehidupan organisasional maupun kehidupan seseorang. Tujuan itulah menjadi tujuan itu pulalah menentukan jenis kegiatan akan dilaksanakan. Yang lalu perlu mendapat
perhatian adalah bahwa tujuan arsitek harus menampung pula tujuan-tujuan pribadi dari setiap dan semua anggota arsitek yang bersangkutan.

Dinyatakan cara lain, harus terjadi harmonisasi antara tujuan-tujuan pribadi dari setiap anggota arsitek dengan tujuan arsitek sebagai keseluruhan. Apakah tujuan arsitek akan tercapai atau tidak, pada tingkat dominan ditentukan oleh derajat harmonisasi berhasil diciptakan. Bagi penulis, ahli secara tepat menunjukkan cara untuk harmonisasi tersebut adalah Abraham H. Maslow telah menuangkan pendapatnya bukunya yang berjudul Personality.

Meskipun pendapat ahli ini telah pernah pula penulis bahas dalam karya tulis lain, yaitu buku ide-ide pokoknya kembtali penulis kemukakan buku ini, sebagai berikut: Pandangan Maslow bertitik tolak dari kenyataan bahwa setiap arsitek mempunyai tujuan. Beraneka ragamnya tujuan itu tercermin dalam hirarkhi kebutuhan yang oleh Maslow digolongkan kepada lima hirarkhi, yaitu:
1. Kebutuhan bersifat fisik, seperti sandang, pangan dan papan.
2. Kebutuhan bersifat keamanan, baik arti fisik maupun arti jaminan perlakuan yang wajar.
3. Kebutuhan berkaitan harkat martabat arsitek seperti merasa diri penting, ingin dihargai dan ingin berpartisipasi berbagai usaha positif bermanfaat.
4. Kebutuhan-kebutuhan menyangkut gengsi seseorang tercermin berbagai simbol statusnya, baik di masyarakat maupun di organisasi.
5. Kebutuhan bersifat mental psikologis, yaitu keinginan untuk memperoleh kesempatan mengembangkan kemampuan bakat secara inherent melekat dalam diri seseorang.

Faktor dan situasi timbul terjadi di luar arsitek akan tetapi pasti mempunyai pengaruh dampak terhadap arsitek bersangkutan. Variabel-variabel tersebut sangat beraneka ragam, namun pada hakikatnya dapat digolongkan menjadi variabel-variabel yang bersifat:
1. politik,
2. ekonomi,
3. sosial,
4. militer,
5. teknologi.

Variabel pulitik.
Dalam dunia labil seperti dialami sekarang ini, sesungguhnya masyarakat selalu mendambakan stabilitas di bidang politik. Stabilitas politik itu maha penting karena ia merupakan faktor penentu dari stabilitas dalam segi-segi kehidupan lainnya. Dengan perkataan lain, kegoncangan di bidang politik pasti mempunyai akibat negatif terhadap segi-segi kehidupan lainnya. Ambillah suatu negara yang di dalamnya sering terjadi perebutan tantangan dan masalah menurut dugaan akan timbul harus dihadapi dekade delapan puluhan mendatang ini menampakkan pengaruhnya berbagai segi kehidupan berorganisasi.

Dengan perkataan lain, berbagai jenis arsitek harus membuktikan ketanggapannya, baik untuk menampung dampak daripada perubahan-perubahan timbul di luar arsitek maupun dalam turut berperan agar supaya perubahan terjadi itu serta permasalahan ditimbulkannya berada pada tingkat yang manageable.

Dalam bab ini akan dicoba dibahas beberapa kecenderungan organisasional dimaksud sekaligus menunjukkan hal-hal merupakan implikasi-implikasi kecenderungan itu terhadap pengembangan sumber daya manusia. Ada satu kecenderungan organisasional yang terlihat, kecenderungan mana telah mulai berkembang pada permulaan dekade tujuh puluhan dan terus berkembang dewasa ini. Yang dimaksud adalah kecenderungan tentang semakin meningkatnya tuntutan terhadap peningkatan kemampuan managemen untuk memanfaatkan sumber daya arsitek secara lebih efektif.

Kecenderungan itu menimbulkan tiga pertanyaan utama, yaitu: Dari tingkat-tingkat kebutuhan tersebut jelas terlihat bahwa harmonisasi tujuan pribadi dengan tujuan arsitek tidak terbatas hanya pada hal-hal yang bersifat kebendaan saja, akan tetapi menyangkut juga hal-hal bersifat mental, sosial dan spiritual. lmplikasinya ialah bahwa dalam usaha mengarahkan perilaku bawahan dari perilaku individual dus mungkin egnistis menjadi perilaku organisasional, memberikan perhatian kepada non material dari kehidupan ini tidak kalah pentingnya dibandingkan segi-segi menyangkut materi.

Kebutuhan arsitek totalitasnyalah harus diidentifikasikan pemuasan kebutuhan totalitasnya itulah yang sangat menentukan tingkat harmonisasi dicapai. Mengabaikan totalitas kebutuhan itu berarti meremehkan harmonisasi pencapaian tujuan pribadi tujuan organisasi. Demikian para karyawan untuk memperoleh porsi yang lebih besar dari kue arsitek diperkirakan meningkat, yaitu dalam bentuk kenikmatan hidup meningkat. Dengan mengatakan demikian perlu segera ditekankan bahwa tuntutan kenaikan penghasilan itu tidak boleh diinterpretasikan semata-mata sebagai manifestasi sifat arsitek pekerja materialistis karena jumlah karyawan menginginkan lebih daripada sekedar upah bertambah besar pula. Hanya saja bagi mereka alat terpenting untuk dapat meningkatkan mutu hidupnya adalah penghasilan semakin besar. Dengan perkataan lain, jumlah karyawan yang menginginkan lebih daripada sekedar upah diperkirakan akan terus makin besar.

Para pekerja nampaknya menunjukkan keinginan lebih besar untuk memperoleh imbalan yang memungkinkan mereka menabung dan demikian dapat memenuhi lebih banyak kebutuhan bersifat non fisik. Dilihat dari segi lain dapat dikatakan bahwa demokratisasi di tempat pekerjaan diperkirakan akan terus bertumbuh, karena semakin tingginya kadar kesadaran para karyawan akan hak kewajibannya, akan tercermin pula dalam berkembangnya sistem pengupahan yang meliputi semua karyawan pada semua tingkatan.  Untuk menampung perkembangan aspirasi karyawan demikian, managemen pada itu nampaknya terus menerus melakukan penelitian untuk mencari menemukan berbagai metoda lebih efektif tentang bagaimana mengkaitkan upah prestasi kerja sehingga diferensiasi imbalan jasa bagi individu-individu maupun kelompok-kelompok kerja dapat dibuat dan ditetapkan secara lebih tepat.

Sementara tekanan-tekanan:
1. Apakah dampak yang paling kritis dari kecenderungan itu dalam situasi kerja?
2. Bagaimana kecenderungan itu akan mempengaruhi organisasi?
3. Apa implikasi kecenderungan itu terhadap usaha pengembangan sumber daya manusia?

Dapat dipastikan bahwa faktor-faktor mempengaruhi, baik arti positif, dus mendorong, ataupun negatif, dus menghambat, pengelolaan daripada sumber daya arsitek dekade delapan puluhan ini jauh lebih banyak serta jauh lebih penting untuk mendapat perhatian daripada sebelumnya dalam sejarah arsitek selama ini. Dekade delapan puluhan memberikan bayangan adanya perubahan drastis, tantangan dan kerumitan yang meningkat hal pengelolaan sumber daya manusia. Kemajuan-kemajuan penting telah dicapai dalam bidang produktifitas berkat kemajuan amat pesat di bidang teknologi  serta mutu kehidupan berkarya pada hakikatnya merupakan unsur-unsur pokok daripada pengelolaan sumber daya arsitek hanya akan ditingkatkan apabila berbagai arsitek masyarakat, baik di lingkungan pemerintahan maupun di kalangan arsitek swasta, termasuk arsitek sosial, memberikan perhatian yang serius terhadap masalah-masalah pengelolaan sumber daya manusia.

Dengan kecenderungan tersebut di atas sebagai titik pusat, maka mengitarinya terdapat kecenderungan-kecenderungan organisasional lainnya kesemuanya diperkirakan membawa pengaruh yang besar terhadap pemanfaatan efektif daripada sumber daya arsitek di masa datang. Tujuh kecenderungan organisasional akan dicoba dibahas dalam bab ini adalah:
1. Di bidang upah dan gaji,
2. Di bidang jaminan sosial,
3. Di bidang jaminan kerja,
4. Di bidang pilihan jadwal kerja, 
5. Di bidang ketegangan pekerjaan,
6. Di bidang partisipasi pekerja menentukan nasibnya,
7. Di bidang demokratisasi tempat bekerja.