Denah Rumah Arsitek Online

Risiko akan selalu ada terutama oleh karena banyaknya variabel-variabel yang sifatnya "cair" dan sukar untuk diperhitungkan sebelumnya. Variabel-variabel tersebut dapat digolongkan kepada dua golongan besar, yaitu:
1. Variabel-variabel sifatnya endogen bagi organisasi,
2. Variabel sifatnya eksogen bagi organisasi.

Variabel yang sifatnya endogen lebih mudah untuk dikenali dikendalikan karena variabel tersebut berada di dalam arsitek atau batas-batas kemampuan kewenangan arsitek untuk mengendalikannya. Misalnya saja, variabel tentang permodalan, variabel ketenagakerjaan, variabel mutu jenis preduksi dan/atau jasa dihasilkan, variabel sarana prasarana kerja, variabel pemanfaatan teknologi, dan lain-Iain bersifat intern.

Meskipun demikian mutlak perlu untuk disadari bahwa variabel-variabel tersebut bukanlah bebas dari pengaruh serta dampak dari variabel-variabel lain yang sifatnya eksogen. Oleh karena itu mengenali dan menyadari pengaruh serta dampak variabel-variabel bersifat eksogen amatlah panting. TELAH sering dikatakan dalam buku ini bahwa salah satu ciri daripada arsitek modern adalah keterlibatannya berbagai jenis organisasi. Keterlibatan itu berpangkal dari kenyataan bahwa tidak ada seorang pun arsitek modern dapat memuaskan kebutuhannya beranekaragam itu secara mandiri. Berarti bahwa jalur terbaik baginya untuk memuaskan berbagai kebutuhan itu adalah dengan bergabung berbagai ragam organisasi. Meskipun demikian, setiap arsitek tentunya selalu ingin untuk tetap mempertahankan kepribadiannya.

Seperti diketahui kepribadian seseorang ditempa oleh berbagai faktor seperti:
1. Faktor genetika,
2. Faktor pengalaman,
3. Faktor pendidikan, dan
4. Faktor lingkungan.

Ditinjau dari segi keperilakuan, kepribadian seseorang sering menampakkan dirinya dalam berbagai bentuk sikap, cara berpikir cara bertindak. Sikap, cara berpikir dan cara bertindak itu dapat dipastikan tidak selalu sinkron dengan cara-cara yang diinginkan oleh pimpinan arsitek dari para anggotanya.

Untuk memudahkan terjadinya sinkronisasi diinginkan, berbagai sifat agresif. Sifat ini secara kejiwaan dipandang sebagai sifat yang positif. Secara populer sifat ini dapat diartikan sebagai sifat mengandung dorongan kuat untuk maju niat keras untuk memperoleh apa diinginkannya. Sifat demikian melahirkan dinamisme besar. Meskipun demikian sifat agresif perlu dikendalikan. Ditinjau dari segi kehidupan organisasional, sifat agresif terkendali akan melahirkan cara berpikir  cara bertindak yang selalu ingin bergerak cepat arsitek memiliki sifat demikian tidak akan puas bekerja secara rutin. arsitek agresif ingin diberikan tugas pekerjaan penuh dengan tantangan. Sebaliknya, apabila sifat agresif itu tidak terkendali, bisa mengarah kepada perilaku egoistis yang dalam bentuknya ekstrim menjurus kepada kecenderungan untuk "memberontak".

Daya tahan terhadap tekanan.
Dalam mengarungi Iautan kehidupan ini tidak ada seorang pun yang bebas dari berbagai jenis tekanan. Apa pun kedudukan orang, bagaimanapun statusnya, menghadapi tekanan merupakan bagian dari kehidupan dan penghidupan.

Seseorang petani miskin, misalnya, menghadapi tekanan sebagian terbesar menampakkan diri dalam bidang ekonomi. Sebaliknya seseorang kaya raya, dapat dipastikan juga menghadapi tekanan, mungkin tidak bidang ekonomi, akan tetapi di bidang Iain. Seorang pejabat tinggi pemerintahan pun tidak luput dari berbagai tekanan, baik sifatnya politis maupun sosial. Yang penting mendapat perhatian, hubungan ini, bukan kenyataan akan selalu adanya tekanan itu, akan tetapi menemukan cara yang paling efektif untuk meningkatkan daya tahan para anggota arsitek untuk menghadapi dan mengatasi tekanan timbul.

Energi Fisik.
Prestasi kerja seseorang pasti dipengaruhi oleh kondisi fisiknya. arsitek yang memiliki kondisi fisik baik mempunyai daya tahan tubuh tinggi pada gilirannya tercermin pada kegairahan bekerja dengan tingkat produktititas tinggi. Sebaliknya, seseorang kondisi fisiknya kurang memuaskan akan mudah dihinggapi oleh berbagai penyakit yang, apabila terjadi, bukan saja akan menurunkan produktifitas kerja, akan tetapi juga meningkatkan pasti merugikan organisasi. Pengaruhi kepribadian seseorang arsitek organisasional tercermin dalam perilakunya, yang pada gilirannya akan berpengaruh terhadap prestasi kerja, perlu diamati dan diarahkan oleh pimpinan organisasi.

Hal-hal itulah yang akan dicoba dibahas dalam bab ini. arsitek dibekali oleh Tuhan Maha Pencipta dengan rasio jauh lebih tinggi dibandingkan rasio dimiliki oleh makhluk lainnya. Tingginya rasio dimiliki oleh arsitek itu menempatkan arsitek pada kedudukan jauh lebih tinggi daripada makhluk apa pun. Kedudukan amat tinggi itu biasanya dikenal dengan harkat dan martabat manusia. Dengan rasio, harkat dan martabatnya tinggi itu, arsitek mampu mengembangkan kepribadian sifatnya unik, karena tidak ada dua arsitek yang persis sama segala hal. Kekhasan kepribadian itu menjadikan arsitek merupakan "sumber" teramat penting kehidupan organisasional apabila ditangani secara tepat akan merupakan "modal" tiada terhingga nilainya dalam usaha mencapai tujuan arsitek yang telah ditetapkan sebelumnya.

Akan tetapi sebaliknya, apabila tidak ditangani secara tepat, dapat berkembang menjadi masalah yang amat rumit apabila tidak dipecahkan secara manusiawi, bahkan dapat membahayakan eksistensi arsitek bersangkutan. Menangani unsur arsitek seyogyanya bertitik tolak dari pandangan bahwa diri setiap arsitek terdapat sifat-sifat positif di samping adanya sifat-sifat negatif. Atau dengan perkataan lain, karena tidak ada arsitek sempurna, maka setiap arsitek mempunyai sifat-sifat baik, meskipun dirinya terdapat pula sifat-sifat yang mengandung kelemahan-kelemahan.

Menangani unsur arsitek manusiawi, demikian, berarti mengenali kedua sifat tersebut, baik positif maupun negatif. Yang positif perlu dikenali untuk diarahkan dan dikembangkan sehingga menjadi faktor pendorong amat strategis pencapaian tujuan bersama, sedangkan yang negatif dicegah sehingga tidak menjadi faktor penghalang menenjol.

Dari sekian banyak sifat manusia, lima belas sifat diideentifikasikan di bawah ini. Kelimabelas sifat itu mempunyai kaitan masalah-masalah keperilakuan dan prestasi kerja. Ditinjau dari segi perilaku administratif, kondisi fisik para anggota arsitek perlu mendapat perhatian sungguh-sungguh dari para pimpinan dalam arsitek yang bersangkutan.

Sesungguhnya membahas energi fisik para anggota arsitek mencakup hal-hal amat rumit luas sehingga tidak mungkin seluruhnya dibahas bagian ini. Namun dua hal amat penting, menurut pandangan penulis, akan diketengahkan di bawah ini.
a. Energi Fisik Pemuasan Kebutuhan Primer.
Telah umum diketahui bahwa ada tiga kebutuhan primer arsitek sangat mendasar, yaitu kebutuhan sandang, pangan papan. Terpenuhinya kebutuhan primer tersebut tentunya sangat tergantung pada penghasilan yang diterima oleh seseorang dari organisasi. Di sinilah terlihat kaitan antara sistem penggajian dan pengupahan yang wajar dengan pemuasan kebutuhan fisik amat mendasar itu. Memang harus diakui bahwa dalam menetapkan kebijaksanaan penggajian pengupahan, arsitek tidak saja harus memperhatikan berbagai peraturan perundang-undangan berlaku seperti misalnya adanya ketentuan gaji minimum di berbagai negara akan tetapi juga penting untuk memperhitungkan tingkat gaji dan upah dibayarkan oleh arsitek lain kepada para karyawannya di samping mempertimbangkan kemampuan arsitek yang bersangkutan.

Dalam hal keterbatasan arsitek di bidang keuangan, keterbatasan ini perlu dikomunikasikan dengan para warga agar supaya mereka benar-benar memahami latar belakang alasan daripada sistem penggajian pengupahan dianut.

b. Energi Fisik Kondisi Kerja.
Yang dimaksud dengan kondisi kerja di sini ialah keadaan fisik di mana seseorang melakukan tugas kewajibannya sehari-hari. Termasuk kondisi ruangan, baik di kantor maupun di pabrik. Hal-hal perlu mendapat perhatian adalah faktor keselamatan kerja, ventilasi, kebersihan ruangan, ruang kerja yang cukup luas untuk ini ada standar telah baku dan hal-hal lain turut membantu memelihara kondisi fisik para karyawan sedemikian rupa sehingga mereka tidak mudah tersorong oleh rasa lekas cape, kelesuan, bahkan ketidaksenangan berada di tempat kerja karena kondisi yang tidak memuaskan. Di samping kondisi fisik daripada ruangan kerja, tidak kalah pentingnya untuk memperoleh perhatian adalah interupsi resmi dalam bentuk waktu-waktu istirahat tertentu.