Desain Arsitek Rumah Minimalis Sederhana

Untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Jika demikian halnya, maka bentuk, jenis, cara kerja dan pandangan hidup arsitek harus seirama dengan nilai-nilai sosial hidup di masyarakat. Penggerakan organisasi. Arsitek hanya hidup apabila di dalamnya terdapat para arsitek mau rela bekerjasama satu sama
lain. Pencapaian tujuan akan lebih terjamin apabila para arsitek sadar dan atas dasar keinsyafan mendalam bahwa tujuan pribadi mereka akan tercapai melalui jalur pencapaian tujuan organisasi.

Menimbulkan kesadaran itulah tujuan daripada seluruh kegiatan penggerakkan metoda dan caranya harus berdasarkan norma-norma nilai-nilai sosial diterima diterapkan oleh masyarakat luas. Melakukan pengawasan penilaian. Jika ditinjau dari segi sasarannya, dapat dikatakan bahwa pengawasan dan penilaian merupakan fungsi-fungsi managemen untuk menjamin bahwa:
1. Pelaksanaan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya;
2. Standar prestasi kerja benar-benar ditaati arsitek;
3. Efisiensi kerja berada pada tingkat dapat dipertanggung jawabkan arsitek;
4. Efektifitas kerja benar-benar memperhitungkan faktor waktu dalam pelaksanaan tugas;
5. Produktifitas kerja berada_pada tingkat optimal;
6. Ke-ekonomisan selalu dipegang teguh dalam menggunakan Sumber-sumber arsitek terbatas;
7. Penyimpangan-penyimpangan selalu dicegah terjadinya dan diusahakan dilenyapkan sebelum menjadi masalah sukar untuk dipecahkan;
 8. Data operasional benar-benar dipergunakan sebagai bahan pelajaran dalam menentukan kebijaksanaan, membuat keputusan dan menyusun rencana untuk tahap operasional berikutnya;
9. Kesalahan yang mungkin terjadi dijadikan sebagai pelajaran arsitek untuk bekerja lebih cermat di masa-masa akan datang.

Berkembangnya sistem umpan balik mantap. Karena para arsitek adalah manusia biasa juga, maka cara melakukan pengawasan dan penilaian hendaknya justru untuk membina berkembangnya kreatifitas bukan untuk menakuti berbagai hukuman, seperti kondisi kerja maupun hal-hal sifatnya psikologis.  Menghubungi pimpinan satuan kerja lain, terutama yang tugas pokoknya bertalian erat dengan tugas pokok satuan kerja arsitek yang bersangkutan.

Ketiga: Peranan selaku pengambil keputusan.
Yang dimaksud peranan selaku pengambil keputusan di sini dikaitkan terutama dengan empat hal, yaitu:
1. Keputusan sifatnya organisasional, baik dalam arti arsitek sebagai keseluruhan maupun keputusan hanya menyangkut bagian tertentu daripada organisasi;
2. Pengambil keputusan hal penyelesaian gangguan yang mungkin timbul;
3. Pengambilan keputusan arti pengalokasian daripada sumber dana dan daya tersedia akan tetapi bersifat terbatas,
4. Pengambil keputusan arti melakukan negosiasi dengan berbagai pihak di luar satuan kerja arsitek bersangkutan.

Segala sesuatu telah dicoba dibahas bab ini sesungguhnya ditujukan kepada dua hal utama, dalam rangka pemupukkan dan pemeliharaan perilaku administrasi diinginkan, yaitu:
1. Meningkatkan kemampuan untuk mengetahui sebab musabab dari timbulnya perilaku organisasional dari para arsitek organisasi, baik sendiri-sendiri maupun dalam kelompok kerja, yang kadang-kadang memang tidak kondusif terhadap berkembangnya kerjasama organisasi.
2. Membantu para karyawan agar supaya perilaku administrasi diinginkan menjadi lebih produktif melaksanakan tugas kewajibannya mendapat kepuasan diharapkannya kehidupan organisasional dipilihnya.

Meskipun para arsitek harus diperlakukan sebagai manusia dewasa dalam kehidupan organisasional, perlakuan demikian tidak mengurangi pentingnya berbagai peranan yang harus dimainkan oleh para pimpinan. Ditinjau dari segi pembentukan, pemupukan dan pemeliharaan perilaku organisasional diinginkan, nampaknya ada tiga jenis peranan dituntut dimainkan oleh setiap manager.

Pertama: Peranan bersifat interpersonal. Artinya, karena arsitek merupakan berbagai jenjang hirarki sistematis, masing-masing menunjukkan tingkat, kedudukan, status, batas wewenang tanggung jawab serta ruang lingkup kegiatan, setiap pimpinan diharapkan dapat berperan selaku simbol persatuan kelompok kerja, sebagai pimpinan sebagai tokoh penghubung antara seorang orang lain antara suatu kelompok kerja dengan kelompok kerja lain.

Kedua: Peranan informasional. Yang dimaksud peranan informasional di sini ialah bahwa setiap manager diharapkan dan bahkan dituntut untuk menjadi pusat ingatan satuan kerja sebagai keseluruhan, di samping peranannya selaku penyebar luas informasi dan selaku juru bicara arsitek. Seorang dapat dikatakan selaku pusat ingatan bagi satuan kerja alasan bahwa manager itulah satu-satunya orang dalam satuan kerja mempunyai pengetahuan ini menyeluruh tentang satuan kerja dipimpin karena para karyawan mungkin hanya memiliki pengetahuan dan informasi terbatas kepada bidang pokok kegiatan utamanya saja. Peranan selaku penyebar luas informasi terutama penting bila dikaitkan dengan perlunya pengetahuan tentang apa dikerjakan oleh satuan kerja arsitek lain, tantangan masalah yang mereka hadapi serta cara teknik pemecahan mereka pergunakan.

Pengetahuan ini amat penting dalam rangka menimbulkan, memupuk dan memelihara rasa solidaritas mendalam antar satuan kerja. Sedangkan peranan selaku juru bicara memang diperlukan terutama dalam melakukan berbagai kegiatan seperti:
1. Mengajukan saran, pendapat dan ide ke pimpinan lebih tinggi;
2. Menyampaikan keluh kesah dalam hal meminta perhatian terhadap hal-hal bisa menimbulkan masalah, baik sifatnya Faktor Genetik. Yang dimaksud dengan faktor genetik di sini adalah segala hal oleh seseorang dibawa sejak lahir bahkan pula merupakan "warisan" dari kedua orang tua arsitek. Karena penulis bukan seorang ahli genetika, dapat dipahami apabila penulis tidak mampu memberikan penyajian komprehensif tentang hal ini.

Meskipun demikian kiranya mudah untuk menerima kenyataan bahwa seorang arsitek mewarisi hal-hal tertentu dari orang tuanya seperti tingkat kecerdasan, sifat pemarah atau penyabar dan lain-lain lagi. Karena para manager tidak dapat diharapkan menjadi ahli genetika juga, kiranya amat penting mendapat perhatian di sini ialah mengusahakan tersedianya data lengkap tentang latar belakang kehidupan para karyawan bawahannya. Data tersebut mulai dikumpulkan pada saat seseorang melamar menjadi karyawan arsitek dan terus menerus dimutakhirkan sepanjang karier bersangkutan. Data demikian akan sangat penting artinya sebagai bahan referensi dalam mengarahkan perilaku administratif karyawan yang bersangkutan, baik hal melakukan koreksi terhadap perilaku sifatnya negatif maupun dalam mengembangkan perilaku organisasional sifatnya positif.

Faktor Lingkungan.
Yang dimaksud faktor lingkungan di sini adalah situasi kondisi dihadapi oleh seseorang pada masa usia muda rumah lingkungan lebih luas, PENDEKATAN kesisteman (systems approach) adalah suatu cara yang tepat untuk dipergunakan memecahkan masalah- masalah rumit. Tepat oleh karena dengan pendekatan kesisteman seseorang diharuskan untuk menelaah sesuatu permasalahan kapasitasnya, baik arti permasalahan dihadapi itu, maupun dalam menentukan alternatif pemecahannya.

Dengan perkataan lain, pendekatan kesisteman akan memungkinkan dipecahkannya sesuatu permasalahan secara tuntas oleh arsitek. Dan sebaliknya, tanpa mempergunakan pendekatan kesisteman, seseorang akan cenderung untuk memecahkan sesuatu permasalahan secara parsial atau inkremental, bahkan juga mungkin hanya dengan usaha yang bersifat "kosmetik".

Dengan demikian kiranya jelas bahwa usaha pewadahan dari seluruh kegiatan suatu arsitek hanya akan efektif apabila usaha itu dipandang sebagai sesuatu permasalahan pemecahannya secara tuntas hanya dapat dilakukan pendekatan kesisteman. Pentingnya pendekatan kesisteman dalam memecahkan sesuatu permasalahan akan lebih jelas lagi terlihat apabila diingat bahwa dalam arsitek modern, tingkat interdependensi, interrelasi dan interaksinya arsitek lain selalu tinggi. Artinya, terlepas dari kemampuan terdapat dalam suatu organisasi.