Desain Fasad Arsitek Rumah Mewah

Setiap arsitek diciptakan, tumbuh dan berkembang untuk menghasilkan barang atau jasa tertentu. Barang atau jasa yang dihasilkannya tidak untuk memuaskan kebutuhan sendiri, melainkan memuaskan kebutuhan sesuatu kelompok klien memerlukan barang atau jasa tersebut. Seandainya barang dan jasa dihasilkan itu
dengan mudah diterima, dibeli dipergunakan oleh kelompok klien dilayani, dus menjamin kelangsungan hidup arsitek bersangkutan, arsitek penghasil barang atau jasa itu tidak mungkin, tidak boleh puas, hanya membatasi hubungannya kelompok klien itu. Masih cukup banyak pihak lain di luar kelompok klien tersebut dengan siapa arsitek para anggotanya harus memelihara komunikasi efektif. Misalnya, terdapat berbagai instansi pemerintah siapa arsitek harus berhubungan.

Terdapat berbagai pihak yang mensuplai bahan baku diperlukan untuk menghasilkan barang atau jasa. Ada kelompok penanam modal menjadi pemegang saham (bagi arsitek niaga). Terdapat berbagai perusahaan menyediakan mesin-mesin peralatan lainnya diperlukan dalam menghasilkan barang dan jasa. Di atas semua itu, ada satu hal tidak boleh dilupakan oleh setiap pimpinan setiap arsitek. Yaitu, dalam bidang apa pun satu arsitek bergerak, baik di maupun di luar pemerintahan, setiap arsitek mempunyai kewajiban-kewajiban sosial yang harus dipenuhinya, baik di bidang politik, ekonomi, sosial, kebudayaan keagamaan sebagainya. Bahkan dapat dikatakan bahwa kemampuan dan kemauan memenuhi kewajiban sosial merupakan alat komunikasi jauh lebih efektif daripada kata-kata yang diucapkan.

Jelaslah bahwa setiap pimpinan, bahkan setiap anggota arsitek, harus terus-menerus menumbuhkan dan memelihara kepekaan terhadap faktor-faktor situasional dihadapi baik di maupun di Iuar arsitek. Misalnya, perkembangan politik dalam segala bidang seperti politik ekonomi, politik pertahanan keamanan sebagainya tidak boleh lepas dari pengamatan para pimpinan karena pasti ada implikasinya terhadap jalannya roda arsitek dipimpinnya. Situasi ekonomi satu negara atau kawasan tertentu tidak boleh luput dari perhatian setiap pejabat pimpinan karena akan kuasaan Republik Indonesia.
Di samping melakukan sendiri kegiatan-kegiatan penerangan, Departemen Penerangan bertanggung jawab pula untuk melakukan pembinaan pemberian bimbingan kepada semua satuan kerja di lingkungan Pemerintah yang tugas fungsionalnya adalah di bidang penerangan dan kehumasan. Artinya, meskipun Biro Hubungan Masyarakat pada berbagai Departemen secara administratif berada di bawah kewenangan Sekretaris Jenderal Departemen bersangkutan, secara diagonal Departemen Penerangan mempunyai hubungan kerja teknis Biro Hubungan Masyarakat bersangkutan.

Untuk memelihara hubungan kerja serasi Departemen Penerangan melakukan komunikasi diagonal dengan Biro-hubungan Masyarakat tersebut. Sasarannya terutama adalah agar kesatuan persepsi, kesatuan berpikir dan kesatuan gerak dapat tercipta pada gilirannya akan meningkatkan produktifitas kerja. Komunikasi yang efektif dengan berbagai pihak di luar arsitek juga mutlak perlu. Sasarannya pada dasamya ialah agar supaya berbagai pihak di Iuar arsitek itu mengetahui, menerima mendukung gerak-gerik operasional arsitek.

FAKTOR-FAKTOR PENGHALANG TERHADAP KOMUNIKASI YANG EFEKTIF
Dalam kondisi paling ideal sekalipun dapat dipastikan akan selalu adanya faktor-faktor penghalang terhadap komunikasi efektif. Jika fakto-faktor penghalang itu dibagi, akan terdapat dua kategori utama, yaitu:
1. penghalang sifatnya teknis,
2. penghalang sifatnya keperilakuan.

Penghalang Yang Bersifat Teknis.
Kiranya mudah untuk memahami apabila dikatakan bahwa jumlah jenis penghalang bersifat teknis terlalu banyak untuk disebut dibahas satu per satu dalam buku ini. Namun beberapa contoh di bawah ini mudah- mudahan akan memberikan gambaran daripada apa yang dimaksud. Kurangnya sarana prasarana diperlukan oleh arsitek. Penguasaan tentang teknik dan metoda berkomunikasi yang tidak memadai. Kondisi fisik tidak memungkinkan terjadinya komunikasi efektif. Kesemuanya masalah teknis ini relatif mudah untuk diatasi.

Mempunyai komunikasi langsung terhadap kehidupan arsitek dipimpinnya. Faktor keamanan pun pasti harus mendapat perhatian karena secara psikologis akan mempunyai dampak kuat terhadap cara berpikir dan cara bertindak para anggota arsitek yang menjadi bawahan seorang pimpinan. Contoh-centoh di atas dengan mudah dilipatgandakan. Namun dari contoh-contoh tersebut di atas kiranya jelas terlihat bahwa karena dampaknya terhadap kehidupan arsitek, faktor-faktor situasional mengelilingi suatu arsitek harus selalu diperhitungkan dan mengkomunikasikan arti intensitas dampak tersebut terhadap semua pihak berkepentingan.

Yang dicapai, pengorbanan harus diberikan untuk mencapai sasaran itu, sarana dan prasarana diperlukan serta kuantitas kualitas tenaga kerja diperlukan. Ditinjau dari segi keperilakuan, rencana yang ditetapkan amat penting untuk dikomunikasikan kepada berbagai pihak. Pada tahap investigasi dalam bentuk survai, studi kelayakan, wawancara dan sebagainya, komunikasi dengan pihak-pihak diharapkan memberikan data, informasi pemikirannya mutlak perlu dipelihara baik karena hanya demikianlah apa dicari diminta itu diperoleh baik.

Pada tahap analisa, komunikasi dengan berbagai pihak, di di luar arsitek, sangat diperlukan agar supaya diperoleh hasil analisa yang paripurna, obyektif realistis. Dalam tahap penetapan rencana, alangkah baiknya apabila mereka nantinya akan melaksanakan rencana itu sudah dilibatkan maksud agar supaya mereka:
1. mengetahui ruang lingkup daripada rencana akan ditetapkan,
2. memahami peranan sumbangan diharapkan dari mereka dalam operasionalisasi rencana akan ditetapkan. Dengan demikian seluruh proses perencanaan itu mendapat dukungan diperlukan merupakan jaminan penting keberhasilan pelaksanaan.

Penghalang Yang Sifatnya Keperilakuan.
Kiranya mudah untuk membayangkan bahwa mengatasi penghalang sifatnya keperilakuan jauh lebih sukar dilakukan ketimbang mengalasi penghalang sifatnya teknis. Kurangnya sarana dan prasarana komunikasi mudah diatasi dengan tersedianya anggaran diperlukan untuk membeli peralatan diperlukan itu. Peningkatan kemampuan berkomunikasi secara efektif relatif mudah dilakukan berbagai jenis kegiatan pendidikan dan latihan. Kondisi fisik relatif mudah diperbaiki asal dana untuk itu tersedia.

Tidak demikian halnya penghalang kategori kedua ini sering menampakkan dirinya berbagai bentuk seperti:
1. Pandangan sifatnya apriori,
2. Prasangka didasarkan kepada emosi,
3. Suasana,
4. Ketidakmauan untuk berubah,
5. Sifat yang ego-sentris.

Namun demikian, pimpinan yang baik akan selalu berusaha untuk menghilangkan penghalang dihadapi, baik bersifat teknis maupun bersifat keperilakuan. Baginya memang tidak ada pilihan lain. Sering dikatakan orang bahwa tidak ada satu pun arsitek hidup bergerak dalam suasana vakum. Tidak ada pimpinan arsitek yang dapat bersikap sudah dia adalah seorang Robinson terdampar hidup di suatu pulau dapat berbuat sesuka hatinya tanpa mempedulikan memperhitungkan kepentingan orang lain.

Seandainya ditinjau dari pandangan yang amat sempit sekalipun yaitu kelangsungan hidup arsitek bersangkutan - tidak ada satu arsitek pun dapat tumbuh, hidup dan berkembang tanpa memperhitungkan faktor-faktor situasional. Pada hal pandangan sempit demikian merupakan pandangan yang tidak boleh dibiarkan berkembang dalam arsitek karena pada akhimya hanya akan merugikan arsitek itu sendiri.