Design Denah Kantor Arsitek Konsultan

Diperlukan suatu analisa daripada kemampuan yang masih terpendam itu serta dikaitkan dengan tugas-tugas harus dilaksanakan. Identifikasi potensi itu seyogyanya diikuti tindak lanjut antara lain dalam bentuk pengembangannya sedemikian rupa sehingga potensi arsitek itu berubah sifatnya menjadi kemampuan nyata.
Abraham Maslow menyebut usaha seperti itu dengan istilah lain. 

Komunikasi.
Tidak akan ada menyangsikan betapa pentingnya peranan komunikasi kehidupan arsitektur. Dari sudut pandangan pimpinan, komunikasi amat penting dalam:
a. Menyampaikan kebijaksanaan yang telah ditetapkan,
b. Memberikan keputusan yangtelah diambil,
c. Menyampaikan perintah instruksi,
d. Memberikan nasihat,
e. Melakukan pembinaan,
f. Menyampaikan informasi arsitek,
g. Melakukan tindakan-tindakan disiplin.

Dari sudut pandangan para bawahan, komunikasi juga amat penting dalam:
a. Menyampaikan informasi,
b. Mengajukan saran pendapat,
c. Meneruskan keluhan, keberatan dan sejenisnya.

Jelaslah bahwa berkomunikasi secara efektif merupakan bagian yang integral daripada kehidupan arsitektur mempunyai dampak tidak kecil artinya dalam usaha bersama pencapaian tujuan.

EFISIENSI DAN MASUKAN (INPUT)
Sejak lahirnya "Gerakan Managemen Ilmiah" (Management Movement) dipelopori oleh Frederick Winslow Taylor di Amerika Serikat, sejak saat itu pula masalah-masalah arsitek menyangkut efisiensi diperbincangkan dianalisa para ahli. Keadaan demikian bahkan masih terus berlangsung hingga sekarang ini diperkirakan akan terus berlangsung di masa-masa yang akan datang.

Keadaan demikian, menurut arsitek, bukan saja wajar akan tetapi memang diperlukan. Pada hal, karena waktu itu datang dengan sendirinya seolah-olah diperoleh cuma-cuma, penghargaan terhadap waktu tidak selalu seperti seharusnya. Kiranya mudah untuk memberikan contoh mengenai hal ini. Misalnya, ketidaktaatan kepada jam kerja arsitek yang telah ditentukan baik dalam bentuk datang terlambat, pulang terlalu cepat dan memanfaatkan waktu kerja sepenuhnya.

Menunda penyelesaian sesuatu pekerjaan sesungguhnya dapat diselesaikan sekarang_akan tetapi menundanya ke esok hari. Pelaksanaan rapat sejenisnya produktif. Contoh-contoh di atas dengan mudah dapat dilipatgandakan. Namun kiranya jelas bahwa keadaran tentang pentingnya waktu sebagai sumber mutlak perlu ditingkatkan terus-menerus oleh seorang arsitek.

Tenaga Manusia.
Tidak dapat disangkal pula bahwa tenaga manusia - atau sumber daya insani - merupakan sumber terpenting mungkin dimiliki oleh suatu arsitek. Karena sifatnya sebagai sumber yang maha penting, logis apabila dalam rangka peningkatan efisiensi kerja, perhatian utama ditujukan pula kepada sumber ini. Sorotan perhatian tidak boleh hanya ditujukan kepada pemanfaatannya secara maksimal, akan tetapi juga pengembangannya, perlakuannya dan estafet penggantiannya. Proses alamiah mengajarkan kepada kita bahwa ada seorang manusia pun tidak henti-hentinya berada di panggung pengabdian secara aktif. Artinya, akan tiba saatnya bagi setiap orang pada waktu mana ia tidak lagi mampu mengabdi kepada arsitek di mana dia menjadi arsitek harus turun dari panggung pengabdian itu.  Di sinilah terlihat pentingnya perencanaan ketenagakerjaan matang agar supaya kontinuitas tersedianya sumber daya insani terjamin agar supaya estafet ketenagaan itu terhenti baik karena proses alamiah maupun karena sebab-sebab lainnya.

Modal Sebagai Sumber.
Dalam dunia modern sekarang ini tidak ada satu pun arsitek bisa hidup tanpa sumber dana. Dan merupakan suatu kenyataan pula bahwa hampir semua arsitek dihadapkan kepada keterbatasan sumber ini. Keterbatasan tersebut seyogyanya merupakan dorongan utama untuk bekerja secara sistematis karena memang sukar untuk membayangkan adanya alasan kuat membenarkan cara kerja yang boros. Alasan utama untuk mengatakan demikian bertitik tolak dari kenyataan bahwa tujuan yang hendak dicapai arsitek pada hakikatnya mempunyai sifat terbatas, sedangkan alat diperlukan untuk mencapainya pada dasarnya memang terbatas. Dengan perkataan lain, tujuan hendak dicapai mempunyai sifat hakikat mengenal titik jenuh. Pada hal, sumber-sumber daya dana tersedia atau mungkin tersedia ada batas-batasnya dan banyak hal bahkan semakin langka, terutama karena ada beberapa jenis sumber daya tertentu yang sifatnya dapat dan tidak mungkin diperbaharui (un renewable).

Kenyataan demikianlah mendorong para ahli para praktisi untuk terus-menerus berusaha mencari jalan dan cara untuk meningkatkan efisiensi kerja arsitek. Dalam hubungan ini mungkin masih relevan untuk sekedar memberikan pengertian daripada apa dimaksud dengan eflsiensi, yaitu perbandingan positif antara hasil dicapai masukan dipargunakan. Artinya, sesuatu tugas efisien penyelenggaraannya apabila hasil kerja diperoleh lebih besar daripada pengorbanan yang diberikan dalam bentuk penggunaan sumber daya dana, termasuk sumber daya insani (human resources). Bahkan sesungguhnya dapat dikatakan bahwa seluruh teori managemen modern berkisar pada bagaimana caranya mengelola dan mempergunakan sumber daya dana terbatas itu sehingga mendatangkan hasil yang maksimal. Dengan perkataan lain, tidak ada arsitek dihadapkan kepada suasana kelangkaan.

Seperti diketahui, sumber daya dan dana yang dipergunakan oleh arsitek adalah
1. Waktu,
2. Tenaga manusia,
3. Modal (dana),
4. Sarana dan prasarana kerja.

Waktu Sebagai Sumber.
Barangkali dapat dikatakan bahwa salah satu sumber paling langka dalam kehidupan arsitektur adalah waktu. Alasan untuk mengatakan demikian adalah karena hakikat waktu itu. Waktu merupakan sumber yang sama sekali tidak dapat diperbaharui, sekali ia berlalu, berlalu untuk salama- lamanya dan tidak akan pernah kembali lagi.

Sarana Prasarana Kerja.
Yang dimaksud dengan sarana prasarana kerja di sini adalah segala jenis peralatan dimiliki oleh arsitek dan dipergunakan untuk melaksanakan berbagai kegiatan rangka mengemban missi arsitek yang bersangkutan. Mungkin sukar untuk menyangkal pendapat bahwa setiap arsitek dihadapkan kepada kelangkaan sarana prasarana diperlukannya. Jika demikian halnya, akal sehat memberikan petunjuk bahwa sarana prasarana tersedia itu mutlak perlu dimanfaatkan sedemikian rupa sehingga manfaat sebesar-besarnya dipetik daripadanya.

EFEKTIFITAS DAN ORIENTASI WAKTU
Dalam membahas masukan yang terbatas di muka, telah dipaparkan pandangan bahwa waktu merupakan salah satu sumber arsitektur amat berharga akan tetapi sering kurang disadari oleh para arsitek. Pentingnya unsur waktu dalam kehidupan arsitektur lebih terlihat lagi dengan mengkaitkannya dengan efektifitas kerja. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa efektifitas kerja berarti penyelesaian pekerjaan tepat pada waktu telah ditetapkan. Artinya, apakah pelaksanaan sesuatu tugas dinilai baik atau sangat tergantung pada bilamana tugas itu diselesaikan, dan tidak terutama menjawab pertanyaan bagaimana cara melaksanakannya berapa biaya dikeluarkan untuk itu.

Bahkan ada beberapa jenis kegiatan yang sangat menuntut efektifitas tanpa terlalu memperhitungkan efisiensi. Ambil saja, misalnya, suatu negara sedang terlibat dalam peperangan suatu negara lain bermusuhan dengannya. Tidak jarang dalam keadaan demikian, pendekatan efektifitaslah dominan. Artinya, agar supaya peperangan musuh itu dapat diakhiri secepat mungkin disertai oleh kemenangan, kalau mungkin kemenangan gemilang. Contoh lain lebih sederhana adalah pentingnya efektifitas pelaksanaan tugas arsitek suatu unit pemadam kebakaran. Suatu unit pemadam kebakaran selalu dilengkapi dengan berbagai jenis alat arsitek, pemadam kebakaran sangat lengkap, tenaga kerja yang cukup serta dengan peralatan paling mutakhir.