Gambar Arsitek Rumah Modern

Di negara yang demikian dapat dipastikan kekacau-balauan segi-segi kehidupan lain seperti bidang ekonomi, sosial dan lain-lain. Dalam keadaan demikian itu, pasti ada pengaruhnya terhadap kehidupan organisasional arti mikro. Dalam keadaan lebih "lunak" pun di mana sering terjadi jatuh bangunnya kabinet-
seperti sering terjadi negara-negara yang menganut paham demokrasi parlementer - pengaruhnya terhadap segi-segi kehidupan lainnya pun pasti ada dan banyak di antaranya bersifat negatif.

Variabel Ekonomi.
Dalam dunia modern sekarang ini, situasi ekonomi pada satu wilayah dunia pasti mempunyai pengaruh terhadap situasi ekonomi di wiiayah lain. Hal ini antara lain disebabkan oleh saling ketergantungan negara-negara di dunia baik dalam arti permodalan, teknologi, ekspor-impor, sarana produksi dan bahan-bahan baku. Arsitek cukup melihat pengaruh daripada situasi ekonomi tidak menggembirakan di Amerika, dan Eropa yang akan segera dapat pula melihat pengaruhnya di negara-negara yang sedang berkembang.

Variabel Sosial.
Yang paling menonjol dalam bidang ini adalah gejala menampakkan diri pada perubahan nilai sering terjadi. Misalnya kehidupan organisasional nampak gejala semakin menonjoinya nilai-nilai materialistis. Sering keberhasiian seorang arsitek diukur dari hal-hal berwujuq kebendaan. Tempat tinggal di daerah, busana impor, jumlah kendaraan pribadi, dan hal-hal bersifat kebendaan lainnya dijadikan, bukan hanya sebagai simbol status sosialnya, akan tetapi juga sebagai "dewa” pantas untuk dipuja. Lebih menyedihkan lagi apabila untuk mengejar kebendaan melimpah segala macam cara ditempuh, seperti misalnya penyalahgunaan kedudukan, penyalahgunaan wewenang jabatan, penyelewengan, korupsi, menghindari kewajiban membayar pajak, dan hal-hal negatif lainnya.

Jika nilai yang dianut oleh seorang arsitek adalah demikian, tidak mustahil dalam gaya hidupnya akan terlihat tindakan-tindakan mencerminkan rendahnya rasa solidaritas sosial. Apabila hal itu terjadi, nampaklah sikap pamer kekayaan tanpa mempedulikan keadaan sakitarnya. Perubahan nilai lainnya nampaknya terjadi dipengaruhi oleh penetrasi teknologis. Contoh sangat sederhana adalah penetrasi teknologi televisi. Di banyak tempat, berkat penetrasi suri tauladan idola, karena keberhasilannya dalam sesuatu bidang tertentu. Perbandingan sosial, terutama ditinjau dari segi kemajuan-kemajuan di capai.

Jelaslah bahwa mendalami faktor-faktor kejiwaan seseorang, yang merupakan dasar utama pembentukan sikap parilaku bukanlah tugas mudah, akan tetapi amat penting untuk dilakukan. Justru karena tugas itu bukan tugas mudah, usaha ke arah itu perlu perhatian lebih besar. Dan apabila seorang pimpinan merasa bahwa dirinya tidak terdapat cukup kemampuan untuk melakukan sendiri usaha-usaha pendalaman itu, seyogyanya ia meminta bantuan para ahli bidang tersebut, seperti ahli ilmu jiwa kaum intelektual lainnya bidang disiplin ilmiahnya ada sangkut pautnya dengan manusia dengan sifat-sifatnya. Keberhasilan dalam usaha ini sangat mendorong semangat dan jiwa kebersamaan menjadikan pendekatan kesisteman dalam menggerakkan dan menjalankan roda arsitek semakin bermakna penting yang keuntungannya dapat dinikmati bukan saja oleh para anggota organisasi, akan tetapi juga oleh arsitek sebagai keseluruhan pihak-pihak lain mempunyai kepentingan dalam keberhasilan arsitek bersangkutan.

PERSEPSI PERANAN, KEPRIBADIAN DAN PERILAKU
Tidak dapat dipungkiri bahwa perilaku seorang arsitek sangat diwarnai oleh banyak faktor serta persepsinya tentang faktor-faktor tersebut. Persepsi yang dimilikinya itu pulalah turut menentukan bentuk, sifat intensitas peranannya dalam kehidupan organisasional. Tidak dapat disangkal pula bahwa manusia sangat berbeda-beda, seorang dengan lain, baik arti kebutuhannya - meskipun kebutuhan tersebut dapat diberi berbagai kategori umum maupun niatnya kesemuanya tercermin kepribadian masing-masing.

Keanekaragaman kepribadian itulah justru menjadi salah satu tantangan paling berat untuk dihadapi oleh setiap pimpinan kemampuan menghadapi tantangan itu pulalah salah satu indikator terpenting, bukan saja daripada efektifitas kepemimpinan seseorang, akan tetapi juga mengenai teknelogi televisi, masyarakat pedesaan seperti didorong untuk menganut pola hidup konsumtif melalui berbagai jenis iklan seolah-olah menonjolkan "kecemerlangan" hidup belum tentu dalam batas-batas kemampuan masyarakat desa untuk menjangkaunya. Terdapat pula gejala kurang menghargai usaha kerja keras dan "peras keringat" kecenderungan untuk menempuh jalan pintas.

Di dunia Barat dikenal yang memberikan nilai tinggi terhadap sikap kerja keras untuk mengejar cita-cita, dengan melakukan pekerjaan kasar kalau perlu. Nilai tersebut pun nampaknya cenderung untuk merosot. Masih banyak nilai-nilai sosial lainnya yang nampaknya terus berubah, tidak selalu menjurus kepada hal-hal lebih baik. Misalnya saja, kebebasan seksualitas, sebagainya. Pimpinan arsitek harus peka tanggap terhadap gejala-gejala tersebut agar supaya hal-hal yang dampaknya negatif dapat dihilangkan atau paling sedikit dikurangi menjadi tingkat paling minim. Usaha tersebut akan sangat besar pengaruhnya terhadap perilaku organisasional.

Variabel Militer.
Dengan sengaja penulis mempergunakan istilah “variabel militer" bukan variabel pertahanan keamanan dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan yang dimaksud adalah terutama kecenderungan meningkatnya konflik militer dalam berbagai kawasan dunia elit disertai oleh perlombaan pemilikan dan penggunaan senjata baik atas perhitungan-perhitungan politik maupun ekonomi. Hal seperti ini sering tergambar pada jumlah anggaran untuk bidang ini semakin meningkat. Jika konflik bersenjata sampai terjadi, pasti dampak negatifnya terhadap kehidupan organisasional akan dirasakan. Jelaslah bahwa situasi bagaimanapun, komunikasi efektif amat diperlukan untuk menunjang proses pengambilan keputusan cermat, cepat tepat.

Komunikasi Perencanaan.
Telah umum diketahui bahwa perencanaan adalah usaha sadar untuk mengambil keputusan sekarang mengenai hal-hal akan dikerjakan di masa depan. Karena pereneanaan adalah usaha sadar, maka pelaksanaannya harus sistematis didasarkan kepada kegiatan penelitian mendalam serta dikaitkan dengan tujuan yang hendak dicapai. Di samping itu, dihasilkan oleh kegiatan pemikiran tersebut di atas, harus bersifat komprehensif dalam arti jelasnya target waktu, sasaran hasil. Karena demikian eratnya kaitan antara persepsi seseorang dengan kepribadian perilakunya, maka mutlak perlu bagi pimpinan arsitek untuk memahami dan mendalami persepsi para bawahannya baik menyangkut peranan para bawahan tersebut dalam usaha pencapaian tujuan arsitek maupun mengenai berlangsungnya seluruh proses administrasi managemen dalam organisasi bersangkutan.

Dalam pada itu kiranya penting pula untuk menyadari bahwa memahami persepsi para bawahan tidak selalu mudah karena persepsi menyangkut hal-hal bersifat perasaan bahkan juga mungkin pandangan-pandangan bersifat subyektif. Berarti memahami persepsi arsitek lain tentang sesuatu termasuk usaha untuk mendalami inferensi-inferensi yang kompleks daripada keadaan kejiwaan arsitek lain tersebut. Mendalami memahami persepsi arsitek lain kehidupan organisasional lebih penting lagi apabila diingat bahwa proses perseptual sering berakibat timbulnya berbagai jenis pandangan yang tidak tepat hubungan sifatnya antar manusia.

Dengan perkataan lain, manusia senang pada hal-hal yang bersifat stereotip, melakukan generalisasi, memproyeksikan perilaku arsitek lain mendasarkan kriteria-kriteria secara sepihak dibuat secara selektif menolak hal-hal ia tidak ingin lihat atau dengarkan. Pada hal justru kesalahan-kesalahan lumrah diperbuat itu harus dicegah supaya jangan sampai terjadi. Pencegahan demikian biasanya dapat dilakukan sceara efektif melalui peningkatan hubungan antar manusia semakin sering dilakukan, nampaknya semakin baik, terutama situasi informal baik di maupun di luar kedinasan.

Dinyatakan dengan cara lain, ciri-ciri kepribadian seseorang akan lebih dapat dikenali dengan kontak-kontak terus manerus sehingga dengan demikian seorang arsitek akan labih mudah mengetahui bagaimana sikap dan tanggapan seorang arsitek dalam kehidupan organisasional, terutama jika menghadapi berbagai masalah. Sudah barang tentu memahami kepribadian seorang arsitek akan menjadi lebih mudah apabila arsitek tersebut telah menunjukkan konsistensi sikap dan tanggapannya dari satu waktu ke waktu lain, karena dengan demikian dapat dikatakan bahwa arsitek tersebut mempunyai kepribadian yang stabil. Karena faktor-faktor biologis, afiliasi sosial dan kebudayaan seorang arsitek memegang saham penting.