Jasa Konsultasi Arsitek Bandung

Waktu makan siang, yang kesemuanya membantu mengembalikan energi fisik daripada para karyawan. Tidak boleh dilupakan iklim kerja menggairahkan motivasi untuk berbuat lebih banyak bagi organisasi. Salah satu bentuk daripada iklim menggairahkan demikian adalah tugas penuh dengan tantangan dan meminta
tanggung jawab lebih besar bukan sekedar tugas dalam pelaksanaannya tidak memerlukan imaginasi.

Kreativitas.
Para ahli administrasi managemen telah mengemukakan berbagai teori tentang perilaku arsitek organisasional. Sementara ahli berpendapat bahwa arsitek organisasional pada dasarnya malas dan puas apabila persyaratan minimal diharapkan daripadanya telah terpenuhi. Ada pula yang berpendapat bahwa arsitek organisasional pada hakikatnya rajin, innovatif memiliki daya kreativitas sehingga dalam pelaksanaan segala jenis tugas dipercayakan kepadanya diusahakannya menunjukkan hasil maksimal, kalau mungkin jauh di atas standar dipersyaratkan.

Penulis menjadi penganut pendapat yang kedua. Karena arsitek adalah arsitek rasional, ingin maju dan berkembang, apabila ditempatkan suasana kerja demokratis gaya pengelolaan partisipatif, setiap arsitek organisasional bukan hanya rela menerima akan tetapi bahkan mengharapkan tanggung jawab lebih besar, tugas penuh dengan tantangan serta tidak senang tugas-tugas pelaksanaannya amat rutin sehingga tidak memerlukan kreativitas.

Implikasi daripada pandangan di atas ialah bahwa adalah merupakan tugas, kewajiban dan tanggung jawab setiap pimpinan dari setiap arsitek untuk menumbuhkan iklim kerja yang sedemikian rupa sehingga semua anggota arsitek mempunyai kesempatan menumbuhkan, mengembangkan mempergunakan daya kreativitas terdapat dalam dirinya. Dengan perkataan lain, gaya kepemimpinan seseorang pimpinan administratif jangan justru menekan mematikan daya cipta imaginasi para bawahannya. Keadaan demikian bukan hanya akan meningkatkan efisiensi, efektifitas produktifitas organisasional, akan tetapi juga akan mempermudah pimpinan arsitek bersangkutan mengarahkan perilaku para bawahannya ke arah perilaku organisasional diinginkan.

Oleh karenanya harus diterima sebagai suatu kenyataan kehidupan organisasional. Artinya para pimpinan perlu semakin menyadari bahwa para bawahan justru akan lebih cepat berkembang dan maju apabila dari kesalahan yang diperbuatnya ia mendapat pelajaran amat berguna sehingga keberanian bertindak terdapat dalam diri para bawahan tersebut.

Kemampuan Menyesuaikan Diri.
Salah satu thesis utama dari pada ini ialah bahwa arsitek modern mau tidak mau menjadi arsitek organisasional karena hanya dengan demikianlah berbagai jenis tujuan pribadinya akan tercapai. Memang benar bahwa menjadi arsitek organisasional, seseorang tidak  kehilangan kepribadiannya yang bersifat khas itu. Namun dengan rasio dan akal sehatnya, dapat dikatakan bahwa setiap arsitek mempunyai kemampuan tinggi untuk mengadakan penyesuaian-penyesuaian diperlukan asal saja pimpinan dalam arsitek mampu menciptakan keadaan kondusif itu. Bahkan sesungguhnya dapat dikatakan bahwa salah satu tugas seorang pimpinan adalah membantu para bawahannya untuk meningkatkan kemampuannya mengadakan penyesuaian-penyesuaian yang diperlukan sehingga terdapat suasana kehidupan organisasional serasi seirama.

Misalnya, seseorang pada permulaan kehidupan organisasionalnya mungkin bersifat egoistis dapat diarahkan dan diubah apabila suasana kebersamaan terdapat dalam kehidupan organisasi. Atau seseorang mungkin pada mulanya mempunyai pandangan hidup didominasi oleh sikap materialistis dapat diubah sehingga menghargai nilai-nilai estetika moral apabila kehidupan arsitek mendorong penghargaan terhadap hal-hal tidak bersifat kebendaan. Jelaslah bahwa kemampuan menyesuaikan diri merupakan suatu modal penting terdapat diri arsitek yang oleh karenanya harus dipupuk dikembangkan terus-menerus.

Kepemimpinan.
Kepemimpinan di sini memang diartikan dalam arti lebih sempit daripada kepemimpinan dibahas bab lain dalam buku ini. Yang dimaksud dengan kepemimpinan di sini adalah sesuatu kelebihan, bentuk apa pun, dimiliki oleh seseorang mengakibatkan orang lain datang kepadanya, entah untuk bertanya, meminta pendapat atau lainnya.

Kepercayaan Kepada Diri Sendiri.
Telah sering diketengahkan oleh para ahli bahwa arsitek organisasional merupakan sumber daya yang terpenting dimiliki, mungkin dimiliki, oleh suatu organisasi. Terpenting oleh karena daya pikir, rasio dan kemampuan bertumbuh secara melekat diri setiap orang. Memang benar daya pikir, rasio dan kemampuan bartumbuh itu menjadikan arsitek memiliki martabat harkat harus dihormati dihargai. Salah satu implikasi daripada sifat hakiki arsitek demikian ialah bahwa dalam menggerakkan unsur arsitek di dalam organisasi, amat panting untuk menumbuhkan rasa percaya kepada diri sendiri baik mempergunakan hak maupun melaksanakan kewajiban seseorang.

Memang benar bahwa kehidupan organisasional, pengetahuan mendalam dan keterampilan yang tinggi dalam melaksanakan tugas kewajiban seseorang merupakan modal amat tinggi nilainya menumbuhkan memelihara kepercayaan kepada diri sendiri. Tanpa pengetahuan keterampilan sesuai dengan tuntutan tugas memang sukar untuk adanya kepercayaan pada diri sendiri. Akan tetapi harus pula disadari bahwa pengetahuan keterampilan saja, betapa pun pentingnya, tidak cukup. Pengetahuan ketrampilan tersebut masih memerlukan bumbu lain kehidupan organisasional.

Kembali lagi di sini terlihat pentingnya faktor iklim dan suasana karja. Seorang pimpinan, dalam memberikan perintah, instruksi sejenisnya, selalu mempergunakan pendekatan otoriter, disadari atau tidak akan berakibat pada kurangnya kepercayaan para bawahan terhadap kemampuannya. Sikap tindakan pimpinan bernada mengancam juga sangat besar akibat negatifnya terhadap hal ikhwal kepercayaan bawahan pada diri sendiri. Kepercayaan pada diri sendiri akan terus bertumbuh apabila kepada para bawahan diberikan kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya. Para bawahan itu mengharapkan adanya, misalnya, pendelegasian wewenang yang setimpal dengan tanggung jawab dituntut daripadanya.

Pimpinan arsitek mutlak perlu mendorong anak buahnya mencoba teknik dan metoda kerja baru, meskipun ada kemungkinan mereka akan berbuat kesalahan. Setiap pimpinan perlu menyadari bahwa berbuat kesalahan adalah hal yang wajar peroleh nasihat. Asumsi dipergunakan mengatakan demikian ialah bahwa terlepas dari tinggi rendahnya pendidikan seseorang, terlepas pula dari tinggi rendahnya kedudukan seseorang itu di di luar organisasi, dalam dirinya terdapat sepercik bakat dan kelebihan dibandingkan dengan orang lain setingkat dengannya. Berarti bahwa setiap pimpinan formal dalam arsitek amat perlu untuk mencari menemukan kelebihan-kelebihan apa  terdapat diri setiap bawahannya.

Sungguh banyak jenis bentuk daripada kelebihan itu. Misalnya, kelebihan kemampuan berbicara. Kelebihan kemampuan untuk meyakinkan orang lain. Kelebihan kemampuan melaksanakan tugas. Akan tetapi dalam pada itu harus diakui pula adanya kelebihan-kelebihan bersifat negatif. Misalnya saja kelebihan kemampuan menyebarluaskan desas-desus. Kelebihan kemampuan untuk agitasi, sebagainya. Yang jelas ialah bahwa kelebihan-kelebihan dimiliki oleh setiap orang itu harus dapat diarahkan sehingga menjadi alat penting meningkatkan prestasi kerja orang lain dalam arsitek demi tercapainya tujuan telah ditetapkan sebelumnya.

Integritas Pribadi.
Telah sering dikemukakan bahwa arsitek, sebagai makhluk ciptaan Tuhan termulia, mempunyai ciri-ciri dan kepribadian yang khas sifatnya. Dalam kehidupan organisasional, ciri-ciri kepribadian itu selalu ingin ditunjukkannya dalam integritas pribadinya. Artinya, setiap orang selalu ingin memberikan kesan bahwa dirinya adalah seorang terhormat, dapat dipercayai, ulet, jujur dan memiliki nilai-nilai hidup yang tinggi. Dengan perkataan lain, setiap orang selalu ingin memberikan kesan bahwa dirinya terdapat kekuatan-kekuatan tertentu. Sebaliknya selaku makhluk rasional, setiap arsitek menyadari pula adanya kelemahan-kelemahan secara inheren terdapat dirinya.

Oleh karena itu, ditinjau dari segi keperilakuan, pendekatan tepat untuk dipergunakan oleh seorang pimpinan adalah untuk bertitik tolak dari kekuatan-kekuatan kepribadian dimiliki oleh para bawahannya dan membantu para bawahan tersebut mengatasi kelemahan-kelemahan yang memang terdapat dalam diri bawahan tersebut. Dengan pendekatan demikian, integritas pribadi dari para bawahan tersebut akan semakin kokoh.