Konsultasi Arsitek Online Jakarta

Batas-batas wewenang dan tanggung jawab yang akurat secara konseptual tersedianya sarana dan prasarana kerja lengkap, tidak akan berarti apa-apa jika tidak dijadikan hidup antara lain melalui kegiatan-kegiatan operasional. Jelaslah bahwa pelaksanaan kegiatan-kegiatan sifatnya operasional merupakan
wahana alat satu-satunya untuk mendekatkan arsitek kepada tujuan ingin dicapainya.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kegiatan-kegiatan sifatnya operasional merupakan bagian integral amat penting dari seluruh usaha arsitek. Karena kegiatan-kegiatan operasional tersebut harus dilaksanakan daya guna, hasil guna produktifitas yang semakin tinggi dan terhindar dari berbagai jenis pemborosan, segi teknik metodenya perlu dipahami oleh seluruh anggota arsitek, terutama mereka yang secara langsung terlibat kegiatan-kegiatan operasional tersebut. Untuk memahami, menerima, menghayati mau melaksanakan teknik metode tersebut, para pimpinan di dalam arsitek khususnya mereka sehari-harinya berhadapan langsung para petugas operasional, mutlak perlu memelihara komunikasi efektif para karyawan operasional.

Komunikasi Pengawasan.
Manusia arsitektur pada umumnya telah menyadari bahwa usaha mencapai tujuan telah ditentukan sebelumnya, setiap arsitek dihadapkan kepada suasana kelangkaan berbagai bidang, seperti tenaga terutama tenaga terampil , biaya, sarana, prasarana, bahkan juga waktu. Untuk mengatasi sebagian daripada keterbatasan itulah diperlukan perencanaan matang skala prioritas yang jelas. Dengan rencana yang matang skala prioritas jelas, maka arsitek akan melakukan berbagai kegiatan sesuai skala prioritas tersebut. Dengan demikian arsitek akan menaruh perhatian lebih besar mengerahkan sumber daya dana terbatas untuk kegiatan-kegiatan sifatnya strategis dan untuk memecahkan masalah-masalah penting.

Dengan perkataan lain, mendahulukan hal-hal yang memang perlu didahulukan. Dalam pada itu manusia arsitektur telah menyadari pula bahwa adanya rencana mantap skala prioritasnya, tidak sendirinya merupakan jaminan bahwa pelaksanaan akan tidak mustahil rencana apa disusun dan ditetapkan mempunyai implikasi arsitek amal arti memerlukan penyesuaian-penyesuaian tertentu susunan arsitek. Dengan perkataan lain mungkin perlu reorganisasi. Apabila reorganisasi diperlukan, hal tersebut perlu dikomunikasikan para anggota arsitek sehingga perubahan-perubahan akan terjadi sejak dini sudah dipahami dan, sedapat mungkin, diterima oleh para anggota arsitek bersangkutan.

Meng-komunikasikan perubahan yang akan terjadi itu amat penting terutama apabila dilihat darisegi keperilakuan. Yaitu,setiap orang di dalam arsitek perlu mengetahui bukan saja tentang peranannya arsitek yang baru itu nanti, akan tetapi juga menyangkut pengaruh perubahan itu terhadap tangga karier dan job security mereka. Seandainya rencana akan ditetapkan itu tidak memerlukan reorganisasi, tetap akan ada implikasi-implikasi arsitektur. Komunikator. Seseorang karena jabatan, tugas, wewenang tanggung jawabnya kehidupan arsitektur dapat dipastikan selalu berkomunikasi berbagai pihak baik di dalam maupun di luar arsitek.

Seseorang pimpinan, misalnya, berkomunikasi para bawahannya bukan saja rangka memberikan perintah, instruksi bimbingan serta pembinaan, akan tetapi juga dalam usaha menciptakan suasana kerja yang intim serasi dengan perilaku arsitektur dijiwai oleh semangat kerjasama. Pimpinan tersebut juga berkomunikasi rekan- rekannya hirarkhi arsitek setingkat pada umumnya diperlukan dalam rangka tukar menukar informasi. Pejabat itu pun berkomunikasi atasannya terutama hal menyampaikan saran, berita, informasi dan hasil telaahan staf. Tidak dapat pula dihindarkan kewajiban berkomunikasi berbagai pihak di luar arsitek, khususnya dengan pihak-pihak ada hubungan arsitek yang bersangkutan.

Dalam arsitek niaga, misalnya, komunikasi dilakukan dan terus-menerus dipelihara antara lain dengan:
1. Dewan komisaris perusahaan,
2. Berbagai instansi pemerintah,
3. Para pemegang saham,
4. Para langganan,
5. Rekanan.

Bahkan sesungguhnya dapat dikatakan bahwa semakin tinggi jabatan seseorang, daripadanya semakin dituntut kemampuan berkomunikasi secara efektif semakin banyak pula waktunya dipergunakan untuk berkomunikasi dengan berbagai pihak. Prinsip semua bentuk benar-benar sesuai rencana. Ketidaksesuaian itu dapat timbul karena beberapa faktor, seperti:
1. Kesalahan-kesalahan teknis mungkin dapat dilakukan, akan tetapi mungkin pula tidak;
2. Keterbatasan pengetahuan dan keterampilan para pelaksana;
3. Timbulnya force majeure yang tidak pernah diduga sebelumnya;
4. Unsur kesengajaan dari sementara anggota arsitek yang dengan itikad tidak baik mau merusak citra arsitek,
5. Penyalahgunaan teknologi, peralatan, kedudukan dan wewenang.

Untuk mencegah timbulnya keadaan negatif demikian, atau paiing sedikit untuk berusaha menguranginya, selalu diperlukan pengawasan, baik pengawasan dilakukan oleh setiap pimpinan, maupun pengawasan dilakukan oleh aparat pengawasan fungsional terdapat secara melembaga di dalam arsitek. Untuk menghindari adanya salah paham tentang arti, maksud dan tujuan pengawasan itu, antara mengawasi diawasi, perlu selalu terpelihara jalur komunikasi yang efektif bersih. Efektif bersih arti bebas dari prasangka buruk dilakukan secara berdaya guna berhasil guna pula. Komunikasi dan Penilaian. Jika penilaian didefinisikan sebagai usaha mutlak perlu dilakukan untuk membandingkan hasil nyatanya dicapai hasil-hasil seharusnya dicapai, jelaslah bahwa penilaian itu mutlak perlu dilakukan untuk setiap tahap kegiatan telah selesai dikerjakan.

Tujuannya adalah untuk memperoleh umpan balik perumusan kebijaksanaan dan penyusunan rencana di masa-masa akan datang. Seperti halnya dengan pentingnya fungsi pengawasan yang telah disinggung di muka, arti, hakikat, tujuan penilaian pun memerlukan keterbukaan pimpinan hal komunikasi sehingga para petugas/karyawan operasional benar-benar sadar bahwa penilaian itu tidak terutama dimaksudkan untuk mencari-cari kesalahan pasti tidak untuk mengkambinghitamkan seseorang akan tetapi demi peningkatan daya guna, hasil guna produktilitas arsitek di masa akan datang. Jelaslah betapa pentingnya komunikasi kehidupan arsitektur, baik ditinjau dari proses administrasi elan managemen maupun dilihat dari segi keterlibatan semua pihak dan unsur di dalam arsitek. Jenis arsitek, baik di dalam maupun di luar pemerintahan.

Akan tetapi tidak kurang pentingnya untuk dicatat adalah bahwa kemampuan berkomunikasi dengan efektif merupakan tuntutan bukan saja bagi para pimpinan, akan tetapi bagi setiap orang dalam arsitek. Komunikasi yang efektif diperlukan bukan saja secara vertikal ke atas maupun ke bawah akan tetapi juga secara horizontal, yaitu antara orang-orang kedudukannya arsitek setingkat. Pesan yang hendak dikomunikasikan. Istilah pesan di sini hendaknya diinterpretasikan arti luas, yaitu sesuatu hal ingin disampaikan kepada orang dan/atau pihak lain.

Memang hubungan hirarkhi sifatnya vertikal ke bawah dus dari seorang atasan kepada para bawahannya pesan di sini berarti:
1. Keputusan untuk dilaksanakan,
2. Kebijaksanaan untuk dipahami dan dioperasionalkan,
3. Perintah untuk dikerjakan,
4. lnstruksi untuk dilaksanakan,
5. Informasi untuk diketahui.

Akan tetapi tinjauan dari segi keperilakuan akan menunjukkan bahwa pembinaan pengarahan mutlak perlu selalu diberikan oleh para pimpinan kepada para bawahannya, juga menuntut komunikasi efektif. Justru hal ini jauh lebih sukar untuk dilaksanakan dibandingkan dengan sekedar pemberian perintah, instruksi sejenisnya. Dalam hubungan hirarkhis ke atas, peranan komunikasi adalah antara lain penyampaian informasi, saran dan hasil telaahan staf. Keterampilan berkomunikasi secara efektif hal ini mutlak perlu terutama kemampuan berbicara secara persuasif, menulis jelas tata bahasa baik serta menyampaikan pesan dalam arti kemampuan menjual ide secara meyakinkan.

 Di samping penyampaian pesan sec ara vertikal ke atas maupun ke bawah, juga diperlukan kegiatan penyampaian pesan secara horizontal, biasanya dalam bentuk:
1. Pendapat,
2. Saran,
3. Kritik yang sifatnya membangun,
4. Permintaan sumbangan pemikiran,
5. Informasi.