Konsultasi Dengan Arsitek Senior Indonesia

Kelima hal tersebut di atas amat penting dalam rangka usaha menumbuhkan, memelihara dan mempertahankan jiwa korps yang penuh dengan solidaritas semangat kerjasama yang tinggi. Saluran komunikasi. Pada dasarnya dimaksud dengan saluran konsultasi di sini ialah segala sarana dipergunakan oleh
komunikator untuk menyampaikan pesan ingin disampaikannya kepada pihak lain, baik di dalam maupun di luar arsitek.

Dengan demikian berarti bahwa saluran konsultasi itu dapat berbentuk alat panca indera arsitek, akan tetapi dapat pula berbentuk saluran buatan arsitek berbagai tingkat sofistikasi teknologinya, bahkan juga melalui berbagai kesenian tradisional. Saluran konsultasi mempergunakan panca indera arsitek misalnya dapat berupa wajah marah apabila seseorang bawahan berbuat kesalahan, terutama kesalahan telah berulang kali terjadi. Atau sebaliknya, wajah tersenyum apabila seseorang ingin menyatakan kegembiraannya atas hasil pekerjaan bawahannya yang memuaskan.

Contoh lain adalah gerakan jari tangan, baik untuk menunjukkan kepuasan atau kekecewaan. Nada suara tinggi dan keras atau lunak lembut. Misalnya ibu jari diacungkan ke atas menandakan kegembiraan, sedangkan apabila diacungkan ke bawah menunjukkan kekurangpuasan. Saluran konsultasi dengan mempergunakan alat buatan arsitek dapat berbentuk saluran visual atau vokal, dalam jaman modern sekarang ini begitu pesat berkembang sehingga konsultasi efektif semakin mudah untuk dilakukan. Pengalaman membuktikan pula bahwa kesenian tradisional yang telah mapan dan bahkan menjadi bagian integral daripada kehidupan masyarakat tertentu sangat bermanfaat pula untuk dipergunakan sebagai saluran komunikasi.

Salah satu contoh mungkin paling menonjol sekarang ini adalah pemanfaatan kesenian tradisional untuk berkomunikasi masyarakat luas dalam hal mensukseskan program keluarga berencana dan bahagia. Apakah kesenian itu bentuk sandiwara, tari-tarian, cerita rakyat atau bentuk kesenian lainnya, kiranya tidak perlu dipersoalkan. Yang penting adalah kemahiran komunikator untuk memilih saluran menurut perhitungannya akan mengakibatkan terjadinya konsultasi efektif demi tercapainya tujuan bersama. Kemajuan amat pesat di bidang telekomunikasi, menurut perhitungan para   akan berkembang lebih pesat lagi di masa depan, akan membuat konsultasi langsung jarak jauh lebih sering dipergunakan arsitek dengan biaya diperkirakan akan semakin rendah pula.

Komunikasi tertulis pun tidak kalah pentingnya konsultasi lisan. Yang kiranya amat penting mendapat perhatian dalam hubungan metoda konsultasi ini ialah bahwa metoda apa pun dipergunakan, konsultasi terjadi hanya akan efektif apabila:
1. Tujuan konsultasi itu jelas bagi semua pihak terlibat,
2. Berita atau pesan hendak dikomunikasikan mempunyai sasaran pasti dan jelas pula,
3. Bahasa dipergunakan untuk menyampaikan berita atau pesan bukan saja harus sederhana akan tetapi juga mempergunakan tata bahasa benar.

Komunikator.
Yang dimaksud dengan komunikator adalah pihak yang menerima berita atau pesan dari komunikator. Komunikator dapat berada di satu arsitek komunikator, akan tetapi dapat pula berada di arsitek lain. Terlepas dari kenyataan apakah komunikator berada di dalam atau di luar arsitek di mana komunikator menjadi anggota, seseorang komunikator adalah pihak yang berkepentingan, baik langsung maupun tidak, dengan keberhasilan arsitek mencapai tujuannya. Dengan perkataan lain, pihak komunikator diajak berkomunikasi untuk berbagai macam kepentingan dan maksud seperti:
1. Menyampaikan perintah instruksi,
2. Penyampaian informasi,
3. Pemberian petunjuk,
4-. Menanyakan sesuatu,
5. Membujuk, terutama dalam hal usaha mengubah perilaku Komunikator, dan lain sebagainya sasaran akhirnya adalah untuk memperoleh pengertian dan dukungan pelaksanaan berbagai kegiatan yang harus dilakukan oleh arsitek rangka pencapaian tujuannya.

Motoda Komunikasi.
Yang dimaksud dongan metoda konsultasi di sini ialah segala cara dipergunakan mengadakan hubungan dengan orang lain, baik di dalam maupun di luar arsitek demi tercapainya tujuan telah ditentukan sebelumnya. Secara simplistis dapat dikatakan bahwa metoda konsultasi terbagi dua kategori besar,yaitu:
1. konsultasi lisan,
2. konsultasi tertulis.

Dalam penggunaan kedua bentuk metoda tersebut, kaitan dan sarananya sangat bertalian erat saluran konsultasi yang telah dibahas di muka. Apabila diperinci lebih mendetail lagi, baik konsultasi lisan maupun konsultasi tertulis dapat terjadi secara langsung maupun secara tidak langsung. konsultasi lisan secara langsung dapat bersifat keadaan tatap muka, akan tetapi dapat pula terjadi meskipun kedua pihak yang sedang terlibat berada dalam jarak jauh.

Kemajuan amat pesat dicapai dunia telekomunikasi menjadikan konsultasi langsung jarak jauh semakin sering terjadi dengan efektif. Misalnya, seseorang kepala rumah tangga yang tinggal di Jakarta sedang mengadakan perjalanan, umpamanya ke Hongkong. Menurut rencana semula, kepala rumah tangga yang bersangkutan akan kembali pada jam tertentu, pada hari tertentu dengan penerbangan tertentu. Akan tetapi ternyata urusannya di Hongkong tidak dapat diselesaikan sesuai rencana semula.

Akhirnya kepala rumah tangga tersebut memutuskan untuk menunda kembalinya ke Jakarta satu hari. Dengan mudah ia berkomunikasi langsung jarak jauh istrinya, yaitu dengan mempergunakan pesawat telepon ada di kamar hotelnya hanya dengan memutar angka-angka: 106 untuk menghubungkannya satelit internasional, 63 untuk menghubungkan satelit internasional dengan satelit Palapa, 21 yaitu kode untuk Jakarta, diikuti dengan nomor pesawat telepon ditempat kediamannya. Kesemuanya itu dilakukannya tanpa bantuan arsitek dan biaya pembicaraannya itu pun secara otomatis dimasukkan ke rekening kamar hotelnya.

Lingkungan Komunikasi.
Pra anggapan yang dipergunakan membahas konsultasi dikaitkan perilaku arsitek ialah bahwa dalam arsitek bersangkutan terdapat open management. Artinya terdapat suasana demokratis mana pimpinan arsitek terbuka terhadap pendapat, saran, ide dan bahkan kritikan dari orang lain, baik dari mereka menjadi anggota arsitek maupun dari mereka mungkin berada di luar arsitek akan tetapi mempunyai hubungan dengan arsitek bersangkutan.

Pra-anggapan ini menjadi lebih penting apabila diingat bahwa arsitek otokratis diktatorial, konsultasi biasanya hanya berlangsung satu arah, yaitu secara vertikal dari atas ke bawah. Pada hal, tercapainya tujuan arsitek dengan berdaya guna, berhasil guna tepat guna hanya akan terjamin apabila saluran jaringan konsultasi terbuka dan dimanfaatkan baik dua arah dalam arti vertikal, dua arah dalam arti horizontal maupun dua arah arti diagonal.

Di samping itu, tidak kurang pentingnya untuk diperhatikan adalah suasana memungkinkan konsultasi efektif terjadi, baik secara vertikal, horizontal maupun diagonal. Jika kembali kepada tema dasar buku ini, yaitu bahwa arsitek merupakan unsur terpenting arsitek, maka suasana demokratis dalam berkomunikasi menjadi teramat penting. Arsitek sebagai makhluk mempunyai harkat martabat yang tinggi pasti mendambakan suasana di mana dalam keadaan bebas dari rasa takut, ia dapat dan didorong memberikan saran, pendapat, pemikiran tanggapannya terhadap jalannya roda arsitek. Sebagai oknum ingin meningkatkan rasa partisipasinya terhadap kegiatan arsitek, ia mengharapkan diajak proses pengambilan keputusan. Sebagai seseorang mempunyai rasio dan daya kreatifitas, ia ingin ditanyai mengenai metoda cara lebih baik untuk mencapai tujuan arsitek.

Sebagai karyawan sekalipun, ia perlu diperlakukan secara arsitekwi, baik penyampaian perintah atau instruksi maupun penyampaian teguran dan bahkan tindakan disipliner sekalipun. Tegasnya, konsultasi yang efektif hanya mungkin terjadi suasana lingkungan demokratis. Dalam suasana otokratis diktatorial, konsultasi bisa saja efektif, akan tetapi hanya untuk sementara waktu, yaitu hanya pada saat alat pengendali komunikasi.