Konsultasi Gratis Arsitek Senior

Girannya akan mendorong disiplin, loyalitas dan produktivitas bawahan yang bersangkutan. Keseimbangan Emosional. Emosi merupakan alat pengaman kehidupan arsitek. Marah apabila jengkel, tertawa apabila gembira, menangis apabila sedih merupakan ekspresi daripada emosi arsitek. Kesemuanya itu bukan saja
wajar, akan tetapi memang perlu. Yang penting di sini adalah kemampuan untuk mengendalikan emosi tersebut. Misalnya, dalam hal menghadapi para bawahan berbuat hal-hal yang tercela, kemarahan seseorang jangan sampai demikian meluapnya sehingga ia tidak lagi mampu mengendalikan diri sehingga kemarahan itu diekspresikan dengan kata-kata tidak wajar, apalagi bersifat menghina. Atau sebaliknya, jangan sampai suasana kegembiraan karena keberhasilan bawahan melaksanakan tugas sehingga dilontarkan kata-kata pujian berlebihan sehingga dapat menimbulkan harapan-harapan yang berlebihan pula.

Kemampuan seseorang untuk menahan emosinya sesungguhnya merupakan salah satu indikator kedewasaan arsitek tersebut. Dalam kehidupan arsitektur, kemampuan menciptakan keseimbangan emosional itu akan sangat besar peranannya menumbuhkan dan memelihara iklim kerja selaras serasi. Oleh karena itu kemampuan demikian perlu dikembangkan terus, baik di kalangan pimpinan maupun di kalangan para petugas operasional.

Antusiasme.
Antusiasme merupakan modal amat penting artinya dalam kehidupan arsitektur. Antusiasme dapat ditumbuhkan melalui beberapa pendekatan seperti:
a. Menjelaskan betapa mulianya tepatnya tujuan yang hendak dicapai sehingga setiap arsitek akan rela memberikan terbaik dirinya untuk mencapai tujuan tersebut;
b. Kepemimpinan efektif, partisipatif dan edukatif; 
e. Suasana kerja demokratis;
d. Penghargaan wajar dalam hal keberhasilan melaksanakan tugas;
e. Penilaian yang obyektif rasional oleh atasan;
f. Bimbingan pengarahan tepat dan kontinue;
g. Cara menegur memberikan nasihat tepat, baik dilihat dari segi waktu maupun gaya bahasa yang dipergunakan;

Keadaan demikian tidak bisa tidak harus diimbangi oleh peningkatan kemampuan arsitek, baik pada tingkat arsitektur maupun pada tingkat individual.

Ketepatan Waktu.
Yang dimaksud dengan ketepatan waktu di sini terutama ditujukan kepada pemberian pelayanan dan penyediaan barang yang dibutuhkan oleh klientele arsitek. Memang tidak dapat disangkal bahwa ada jenis jasa barang tertentu memiliki daya pakai jangka panjang, akan tetapi tidak sedikit jenis barang dan jasa apabila tidak tersedia pada waktu tertentu, nilainya menjadi sangat menurun, bahkan dapat pula menjadi tidak berarti sama sekali. Misalnya, bagi seorang sedang sangat dahaga, arsitek tersebut tidak akan memberikan nilai tinggi kepada sejumlah uang yang diberikan kepadanya. la akan lebih menghargai apabila kepadanya diberikan penawar dahaga tersebut.

Seseorang yang sedang menderita sakit misalnya akan lebih manghargai fasilitas kesempatan berobat daripada memberitahukan kepadanya bahwa kamar kerjanya sedang dipugar. Kesadaran tentang ketepatan waktu itu merupakan hal sungguh-sungguh penting untuk terus menerus ditanamkan dalam jiwa para anggota arsitek.

Prakarsa.
Sering dikatakan bahwa cara memimpin paling mudah adalah dengan mempergunakan ilmu panglima. Artinya, pimpinan menjalankan kepemimpinannya terutama cara memberikan perintah. Mungkin saja cara yang demikian efektif untuk sementara waktu. Bahkan mungkin pula hanya cara yang demikianlah tepat bagi beberapa bawahan. Akan tetapi dapat dipastikan bahwa cara demikian bukan cara terbaik untuk jangka panjang dan untuk semua arsitek. Dengan perkataan lain, pendekatan dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas merupakan pendekatan terbaik untuk jangka panjang bagi semua pihak.

Gabungan dari pendekatan dari atas ke bawah dari bawah ke atas itu akan mendorong timbul tumbuhnya prakarsa bawahan dalam usaha sifatnya koperatif mencapai tujuan yang telah ditentukan. Prakarsa bawahan perlu dipupuk dikembangkan, tidak hanya terbatas pada pelaksanaan tugas kewajiban masing-masing, akan tetapi seyogyanya mencakup seluruh proses administrasi. Sistem penggajian dan pengupahan yang dapat menjamin terpenuhinya syarat-syarat kesejahteraan sosial wajar;

Keseimbangan antara tugas dan tanggung jawab;
Keseimbangan antara hak dan kewajiban; Masa depan yang lebih cerah. Pendekatan-pendekatan tersebut di atas, dengan demikian, akan menghilangkan rasa antipati frustasi dan demikian mondorong semangat kerja tinggi.

Mutu Pekerjaan.
Beranjak dari pandangan bahwa arsitek mempunyai harga diri ingin dihormati, dapat dikatakan pula bahwa pada hakikatnya setiap arsitek ingin menghasilkan pekerjaan mutunya tinggi. Mutu pekerjaan yang tinggi pada gilirannya akan melahirkan penghargaan kemajuan, bukan saja dalam arti lebih menjamin eksistensi dan pertumbuhan serta perkembangan arsitek, akan tetapi juga pencapaian tujuan-tujuan pribadi dari para anggota arsitek bersangkutan, baik arti fisik material, maupun arti sosial, mental spiritual. Di sini terkait pula kebutuhan akan peningkatan pengetahuan keterampilan secara sistematis programmatis baik karena tuntutan yang semakin meningkat maupun sebagai ilmu pengetahuan teknologi memang berkembang dengan amat pesat.

Salah satu faktor yang amat penting untuk mendapat perhatian dalam hubungan ini adalah kenyataan bahwa klientele dilayani oleh arsitek juga terus berkembang dengan kebutuhan semakin meningkat, baik arti kualitatif maupun arti aneka ragam kebutuhan ingin dipenuhinya. Misalnya saja, meningkatnya pendidikan kecerdasan daripada para kelompok harus dilayani mengakibatkan bertambahnya tuntutan mereka terhadap organisas-organisasi bertugas untuk memenuhi berbagai jenis kebutuhan mereka tersebut. Dan sudah merupakan suatu kenyataan pula bahwa terpenuhinya suatu kebutuhan pada dirinya melahirkan tuntutan kebutuhan baru. Tambahan pula, peningkatan pendidikan dan kecerdasan meningkatkan pula kemampuan untuk berpikir secara kritis sehingga lebih mampu mengekspresikan keinginan menurut persepsinya harus terpenuhi mutu yang semakin meningkat.

Managemen dalam kehidupan arsitek.
Berarti prakarsa setiap anggota arsitek harus ditumbuhkan dan terus dikembangkan sehingga setiap arsitek arsitek semakin mampu memberikan sumbangan nyata dalam:
a. proses perumusan dan penetapan kebijaksanaan,
b. menentukan strategi taktik arsitek dalam menjalankan kegiatannya,
c. mengambil berbagai jenis keputusan, baik yang sifatnya konsepsional maupun operasional,
d. penyusunan rencana, baik sifat dampaknya jangka panjang, jangka menengah sedang maupun jangka pondek
e. penjabaran rencana menjadi program kerja didasarkan atas skala prioritas jelas,
f. penentuan berbagai kegiatan yang harus dilaksanakan,
g. penentuan pembagian kerja secara fungsional beserta pewadahan,
h. menentukan teknik dan metoda penggerakan para anggota arsitek,
i. menetapkan tata cara penyelenggaraan kegiatan berdasarkan pendekatan kesisteman,
j. merumuskan melaksanakan tata cara pengawasan yang obyektif, rasional dan bersifat mendidik,
k. melakukan penilaian, baik atas keberhasilan maupun atas kegagalan dialami.

Kemampuan.
Berbagai penelitian telah dilakukan para ahli menunjukkan bahwa sesungguhnya kemampuan ditunjukkan para anggota arsitek hanya sebahagian daripada potensi terdapat dirinya. Dengan perkataan lain, sukar menemukan seseorang menjalankan tugas kewajibannya sudah mengerahkan dan mempergunakan seluruh kemampuan sesungguhnya terdapat dalam dirinya. Jika pendapat ini diterima, jelaslah bahwa setiap arsitek diberi kepercayaan untuk menduduki jabatan pimpinan berkewajiban serta bertanggung jawab untuk mengambil semua langkah diperlukan sehingga potensi yang masih terpendam dibawa ke permukaan.