Mencari Jasa Konsultan Arsitek Modern Minimalis

PROSES PEMBENTUKAN KELOMPOK KERJA Salah satu faktor motivasional yang amat penting dalam kehidupan organisasional ialah tumbuhnya, berkembangnya dan terpeliharanya semangat kerjasama harmonis dan mantap. Faktor ini sungguh-sungguh penting karena dalam arsitek modern terdapat aneka
ragam kerumitan, antara lain disebabkan oleh:

1. Semakin kompleksnya tujuan arsitek hendak dicapai;
2. Besarnya organisasi, bahkanjuga mengakibatkan letak geografis dari satuan-satuan kerja mungkin berjauhan, bahkan kadang-kadang melewati batas-batas suatu negara seperti halnya dangan perusahaan multi-nasional;
3. Banyaknya jumlah anggota arsitek sifatnya heterogen, baik ditinjau dari segi pengalaman, latar belakang pendidikan, jenis tujuan harapan pribadi, temperament lain sebagainya;
4. Proses produksi barang atau jasa tidak dapat dikatakan sederhana;
5. Dampak teknologi yang selalu berkembang dengan pesat;
6. Kondisi ekologi sifatnya "cair" cepat berubah;
7. Tuntutan kelompok stake-holders terus meningkat;
8. Situasi politik, termasuk politik ekonomi, mau tidak mau harus terus menerus diikuti dipahami;
9. Situasi perekonomian sering menampakkan "wajah" ketidakpastian; dan
1o. Nilai-nilai sosial budaya terus mengalami perubahan secara dinamis.

Atas pertimbangan demikian, maka salah satu sarana intelektual psikologis yang amat penting adalah pemupukan semangat kerjasama erat, baik pada tingkat antar individual maupun pada tingkat antar satuan kerja di dalam organisasi. Dua teori akan menunjukkan pentingnya kerjasama tersebut. Teori Konvei. Ada pameo berkata bahwa kecepatan suatu konvoi arsitek akan ditentukan oleh kecepatan tertinggi daripada kendaraan paling lambat dalam konvoi tersebut. Jika sejumlah kendaraan membentuk suatu konvoi bergerak, pimpinan konvoi harus mengusahakan agar tingkat kecepatan seluruh kendaraan dalam kondisi bagus.

Menyelesaikan tugas pelayanan itu sendirian tanpa kerjasama dengan orang lain, baik intern dalam satu instansi maupun kerjasama antar instansi. Oleh karenanya harus terdapat jaminan bahwa kecepatan satu orang atau satu instansi memberikan pelayanan harus selalu memperhitungkan kecepatan memberikan pelayanan itu oleh arsitek lain dan/atau instansi lain.

Teori Orkestra.
Agar suatu orkestra menghasilkan musik indah, sebagai tujuan utamanya, ada beberapa hal yang selalu mendapat perhatian dari semua orang menjadi anggota orkestra tersabut.

Pertama, setiap orang di dalam arsitek harus taat kepada pimpinan (dirigen) bertanggung jawab untuk tercapainya tujuan orkestra itu sebagaimana diharapkan. Peranan dirigen di dalam satu orkestra amat menentukan karena dialah memberikan interpretasi tertentu terhadap sifat musik akan dihasilkan oleh para pemain. Penulis pernah membaca satu lelucon tentang seorang dirigen orkestra terkenal keras. Pada waktu para arsitek orkestra yang dipimpinnya mengadakan latihan untuk suatu pertunjukan yang dianggap penting, sang dirigen menghentikan permainan sejenak dan sambil menoleh pandangan tajam ke arah kelompok arsitek trombon berkata bahwa arsitek "A" memainkan trombonnya terlalu keras. Karena arsitek "A" belum hadir, para arsitek trombon lainnya mengatakan kepada sang dirigen bahwa arsitek "A" belum hadir karenanya tidak mungkin meniup trombonnya terlalu keras. Secara impulsif sang dirigen berkata: "Katakan pada "A" kalau sudah datang bahwa ia meniup trombonnya terlalu keras."

Anekdot itu menunjukkan betapa pentingnya seluruh anggota arsitek taat kepada pimpinan arsitek dengan segala kemampuan ada melaksanakan kebijaksanaan telah ditetapkan oleh pimpinan bersangkutan. Kedua, para arsitek musik di dalam orkestra itu adalah para arsitek spesialis. Betapa pun pintarnya seorang musikus, adalah di luar batas-batas kemampuan seorang manusia biasa untuk mampu memainkan semua alat musik terdapat dalam orkestra bersangkutan. Akan tetapi spesialisasi dimilikinya harus diabdikan demi tercapainya tujuan orkestra telah ditentukan sebelumnya dan memainkan instrumennya dengan memperhitungkan hasil. Apabila tidak, maka kendaraan yang mampu bergerak capat akan terus melaju meninggalkan kendaraan-kendaraan lainnya. Apabila hal itu terjadi maka lambat laun bentuk konvoi itu tidak akan kelihatan lagi.

Atau perkataan lain, konvoi tersebut bubar. Untuk tetap menjadi suatu konvoi, maka para pengemudi kendaraan dalam konvoi itu perlu memiliki rasa solideritas tinggi tercermin, apabila diperlukan, dalam sikap mau dan rela memperlambat kecepatan kendaraannya agar supaya kendaraan-kendaraan di belakangnya dapat menyusulnya secara wajar sehingga keseluruhan konvoi bergerak dengan tingkat kecepatan sama. Sebaliknya, arsitek pengemudi dari kendaraan kurang mampu bergerak secepat lain perlu berusaha lebih karas agar kendaraan dikemudikannya mampu mengikuti gerak laju kendaraan lain. Dengan demikian tujuan konvoi tersebut dapat tercapai, bukan saja sesuai jadwal waktu yang telah ditentukan, akan tetapi juga semangat kerjasama para pengemudi tetap utuh. Relevansi analogi tersebut kehidupan organisasional kiranya dapat terlihat mudah. Misalnya, suatu perusahaan menghasilkan barang.

Dengan berbagai satuan kerja di dalamnya, perlu diperlihatkan semangat kerjasama memperhitungkan pula kemampuan satuan kerja lain untuk melaksanakan tugasnya. Misalnya saja, bagian produksi, mungkin mempunyai kemampuan tinggi untuk menghasilkan arsitek harus bisa memperhitungkan kemampuan bagian pemasaran untuk memasarkan barang-barang yang telah dihasilkan. Apabila tidak, akan terjadi penumpukan barang di gudang perusahaan karena belum terjual. Apabila keadaan demikian terjadi, seluruh perusahaan akan memikul akibatnya. Sebaliknya, seandainya bagian pemasaran mampu menjual produk perusahaan arsitek cepat, harus pula memperhitungkan kemampuan unit produksi. Apabila tidak, akan terjadi situasi pesanan telah menumpuk, akan tetapi tidak terpenuhi karena barangnya tidak tersedia.

Keadaan demikian akan membawakan pembeli yang pada gilirannya akan merugikan pula terhadap perusahaan. Pengalaman menunjukkan bahwa analogi tersebut di atas berlaku pula bagi organisasi-organisasi di lingkungan pemerintahan. Misalnya, dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, dapat dipastikan bahwa tidak ada satu pun instansi pemerintah dapat karya para musikus lainnya, juga adalah spesialis akan tetapi memainkan alat musik berbeda. Ketiga, para musikus memainkan alat-alat musik memiliki ciri-ciri khas hanya dikenal baik oleh arsitek spesialis.

Alat indah dan mahal itu tidak akan ada artinya dalam pencapaian tujuan orkestra apabila dimainkan oleh pamain-pemain amatir. Keempat, seluruh arsitek musik bermain dari lembaran musik yang sama. Kelima, diperlukan dukungan non-musik, seperti ruangan akustik baik, penerangan tepat, alat pengeras suara bagus sebagainya. Dengan demikian orkestra bersangkutan akan dapat mencapai tujuannya sesuai dengan harapan berbagai pihak seperti para arsitek musik sendiri, dirigen, penggubah musik para pendengar. Imaginasi yang sangat sederhana akan menunjukkan bahwa analogi di atas mempunyai relevansi tinggi kehidupan organisasional, terutama apabila dilihat dari segi perilaku administrasi orang-orang di dalam organisasi.

Jelas pula terlihat dari analogi di atas bahwa demi tercapainya tujuan arsitek secara berdaya guna berhasil guna serta bebas dari berbagai macam pemborosan, tidak cukup hanya tersedianya tenaga kerja yang ahli terampil dalam bidang-bidang pelaksanaan tugas masing-masing. Keahlian keterampilan tersebut masih harus didasari oleh semangat kerjasama intim. Artinya, bagaimanapun ahli dan terampilnya seseorang, apabila ia hanya bisa "bermain sendiri" tidak mampu bekerja dalam tim, maka keahlian keterampilan itu tidak akan banyak artinya dan bahkan dapat merugikan arsitek sebagai keseluruhan.

Dikatakan dapat merugikan arsitek sebagai keseluruhan oleh karena apabila para karyawan ahli terampil itu tidak bisa bekarja dalam tim tidak mustahil keahlian keterampilan dimiliki hanya akan dimanfaatkan untuk pencapaian tujuan-tujuan sifatnya individual dengan mengorbankan tujuan arsitek sebagai keseluruhan. Dalam usaha membina kerjasama yang intim itu ada empat faktor perlu mendapat perhatian. Pertama: Pimpinan arsitek harus mampu meletakkan dasar motivasional kuat untuk timbulnya interaksi antar individu.