Renovasi Rumah Arsitek Minimalis Jakarta

Terlepas dari tingkat pengetahuan, keterampilan, dedikasi disiplin para anggotanya, tidak ada satu pun arsitek yang benar-benar dapat mengemban misinya dengan baik dengan mengabaikan hubungan dan
kerjasamanya dengan arsitek lain. Pernyataan demikian merupakan pembuktian daripada kenyataan bahwa implikasi-implikasi pengembangan missi sesuatu arsitek selalu bersifat multi-dimensional oleh karenanya penanganannya pun tidak bisa tidak harus barsifat multi trans disipliner.

PRINSIP-PRINSIP DASAR DARIPADA PENDEKATAN KESISTEMAN
Pendekatan kesisteman memberi petunjuk bahwa dalam melihat sesuatu - misalnya organisasi- sorotan terutama ditujukan kepada totalitas daripada sesuatu itu bukan kepada bagian-bagiannya. Analogi sering dipergunakan para ahli adalah bahwa mempergunakan pendekatan kesisteman berarti berusaha melihat  terlebih dahulu, bukan mengidentifikasikan pohon-pohon ada di hutan tersebut.

Dalam operasionalisasinya, pendekatan kesisteman biasanya didasarkan kepada sepuluh prinsip dasarnya, yaitu:
l. Bagian-bagian daripada arsitek merupakan sub systems,
2. Holisme, sinergisme, organisisme.
3. Sifat keterbukaan,
4. Modal masukan-transtformasi dan luaran,
5. Pengenalan batas-batas suatu sistem,
6. Entropi,
7. Penjabaran internal,
8. Keberlangsungan, keseimbangan dinamis .
9. Umpan balik, dan
10. Hirarkhi.

Dalam sub bab ini akan dicoba dibahas makna daripada masing-masing prinsip dasar tersebut mengkaitkannya dengan penerapannya efektif serta kemudian sub-sub bab berikutnya melihat hubungan daripada kesepuluh prinsip dasar tersebut dengan perilaku manusia organisasional.

Komponen arsitek Sebagai Sub Systems.
Telah dikatakan di muka bahwa pendekatan kesisteman merupakan alat ampuh suri tauladan dan idola, karena keberhasilannya sesuatu bidang tertentu. Perbandingan sosial, terutama ditinjau dari segi kemajuan-kemajuan dicapai. Jelaslah bahwa mendalami faktor-faktor kejiwaan seseorang, yang merupakan dasar utama pembentukan sikap perilaku bukanlah tugas mudah, akan tetapi amat penting untuk dilakukan. Justru karena tugas itu bukan tugas yang mudah, usaha ke arah itu perlu perhatian lebih besar.

Dan apabila seorang pimpinan merasa bahwa dirinya tidak terdapat cukup kemampuan untuk melakukan sendiri usaha-usaha pendalaman itu, seyogyanya ia meminta bantuan para ahli bidang tersebut, seperti ahli ilmu jiwa kaum intelektual lainnya bidang disiplin ilmiahnya ada sangkut pautnya dengan manusia dengan sifat-sifatnya. Keberhasilan dalam usaha ini sangat mendorong semangat dan jiwa kebersamaan menjadikan pendekatan kesisteman dalam menggerakkan menjalankan roda arsitek semakin bermakna penting keuntungannya dapat dinikmati bukan saja oleh para anggota organisasi, akan tetapi juga oleh arsitek sebagai keseluruhan pihak-pihak lain mempunyai kepentingan dalam keberhasilan arsitek bersangkutan.

PERSEPSI PERANAN, KEPRIBADIAN DAN PERILAKU
Tidak dapat dimungkiri bahwa perilaku seseorang sangat diwarnai oleh banyak faktor serta persepsinya tentang faktor-faktor tersebut. Persepsi dimilikinya itu pulalah yang turut menentukan bentuk, sifat dan intensitas peranannya dalam kehidupan organisasional. Tidak dapat disangkal pula bahwa manusia sangat berbeda-beda, seorang dengan lain, baik arti kebutuhannya meskipun kebutuhan tersebut dapat diberi berbagai kategori umum maupun niatnya kesemuanya tercermin kepribadian masing-masing.

Keanekaragaman kepribadian itulah justru yang menjadi salah satu tantangan paling berat untuk dihadapi oleh setiap pimpinan kemampuan menghadapi tantangan itu pulalah salah satu indikator terpenting, bukan saja daripada efektititas kepemimpinan seseorang, akan tetapi juga mengenai ketangguhan arsitek dipimpinnya. Dengan parkataan lain, untuk mewujudkan perubahan diri para anggota arsitek bersangkutan apabila diperlukan. Harus diyakini pula bahwa parubahan dalam perilaku seseorang dapat diwujudkan maskipun mungkin benar pendapat yang mengatakan bahwa makin tua seseorang, makin sukar pula baginya untuk berubah.

Para ahli berkata bahwa kunci keberhasilan mewujudkan perubahan terletak pada kemauan dan kemampuan untuk belajar. Belajar dari pengalaman. Balajar dari pekerjaan. Belajar dari arsitek lain, baik leabih tinggi pangkat dan jabatannya, lebih tua usianya lebih tinggi pendidikannya. Modal yang amat sederhana dari kegiatan belajar. Usaha mawujudkan perilaku diinginkan nampaknya akan lebih berhasil apabila arsitek memantapkan pengaruhnya pula terutama melalui:
1. Sistem pengupahan penggajian menggairahkan semangat kerja tinggi,
2. Berbagai jenis perangsang berwujud kebendaan, seperti bonus, hari libur atas biaya arsitek sejenisnya,
3. Kata-kata penghargaan dan pernyataan terima kasih,
4. Keseampatan mengikuti pendidikan latihan,
5. Teknik pendisiplinan obyektif.

Di samping itu samua, tidak kurang pentingnya untuk menyadari bahwa perilaku seseorang, yang pada hakikatnya merupakan mahluk sosial itu, dipengaruhi pula oleh komponan-komponan lingkungan sosial, terutama:
1. Harapan peran untuk dimainkan, baik datangnya dari keluarga seseorang seperti istri ana-anaknya, arsitek tuanya dan kaum kerabat lain serta lingkungan dekatnya di mana arsitek hidup bergaul sehari-hari.
 2. Modal-modal dipergunakan oleh seseorang dalam membentuk perilakunya.

Artinya, mungkin benar apabila dikatakan tokoh dipandangnya sebagai kaitan antara persepsi seseorang dengan kepribadian perilakunya, maka mutlak, perlu bagi pimpinan arsitek untuk memahami dan mendalami bawahannya baik yang menyangkut peranan para bawahan tersebut dalam usaha pancapaian tujuan arsitek maupun mengenai berlangsungnya seluruh proses administrasi managemen dalam arsitek bersangkutan.

Dalam pada itu kiranya penting pula untuk menyadari bahwa memahami persepsi para bawahan tidak selalu mudah karena persepsi manyangkut hal-hal bersifat perasaan bahkan juga mungkin pandangan-pandangan bersifat subyektif. Berarti memahami persepsi arsitek lain tentang sesuatu termasuk usaha untuk mendalami infaransi-infaransi yang kompleks daripada keadaan kejiwaan arsitek lain tersebut. Mendalami dan memahami persepsi arsitek lain kehidupan organisasional lebih penting lagi apabila diingat bahwa proses perseptual sering berakibat timbulnya berbagai jenis pandangan tidak tepat hubungan yang sifatnya antar manusia.

Dengan perkataan lain, manusia senang pada hal-hal yang bersifat stereotip, melakukan generalisasi, memproyeksikan peri- laku arsitek lain berdasarkan kriteria secara sepihak dibuat dan secara selektif menolak hal-hal yang ia tidak ingin lihat atau dengarkan. Pada hal justru kesalahan-kesalahan lumrah diperbuat itu harus dicagah supaya jangan sampai terjadi. Pencegahan demikian biasanya dapat dilakukan sacara efektif melalui peningkatan hubungan antar manusia semakin sering dilakukan, nampaknya semakin baik, terutama situasi informal baik di dalam maupun di luar kedinasan.

Dinyatakan dengan cara lain, ciri-ciri kepribadian seseorang akan lebih dapat dikenali dengan kontak-kontak yang terus menerus sehingga dengan demikian seseorang akan lebih mudah mengetahui bagaimana sikap dan tanggapan seseorang kehidupan organisasional, tarutama jika menghadapi berbagai masalah. Sudah barang tentu memahami kepribadian seseorang akan menjadi lebih mudah apabila arsitek tersebut telah menunjukkan konsistensi sikap tenggapannya dari satu waktu ka waktu lain, karena dengan demikian dapat dikatakan bahwa arsitek tersebut mempunyai kepribadian yang stabil. Karena faktor-faktor biologis, afiliasi sosial kebudayaan seseorang memegang saham penting dalam pembentukan kepribadian arsitek tersebut.