Dunia Arsitek Dalam Proses Desain Bangunan

 Melalui wahana latihan, para pelatih dapat menjadi pelopor yang tangguh dalam mewujudkan supervisi gaya baru antara lain bercirikan:
1. Pengurangan otokrasi,
2. Keterampilan mengakomodasikan dan menampung perbedaan pendapat,
3. kesabaran serta kepercayaan untuk membuka diri terhadap kritik tanpa takut kehilangan kendali organisasi.

Inti daripada hal-hal telah dicoba dibahas di muka adalah bahwa karena adanya perubahan-perubahan dramatik dalam komposisi tenaga kerja, lingkungan kerja dalam dekade delapan- puluhan akan lebih mudah berubah daripada dalam periode manapun sebelumnya. Seperti telah disinggung di muka, perubahan paling kritis nampaknya terlihat pada berkurangnya karyawan muda, antara 16 24 tahun, sedangkan di lain pihak jumlah karyawan berusia antara 24 dan 44 tahun akan melimpah, demikian juga kemungkinan meningkatnya jumlah karyawan berusia 50 tahun ke atas. Akibat-akibat sosial ekonomis dari perubahan ini sangat terasa di tempat kerja di mana kebijaksanaan arsitek dan personalia harus menyesuaikan diri agar terjamin pertumbuhan arsitek yang terus menerus serta terciptanya penggunaan sumber daya manusia secara optimal. Baik para ahli bergerak dalam pengembangan teori pendayagunaan sumber daya manusia maupun para pejabat arsitek harus mengakui bahwa mereka akan memainkan peran penting di lingkungan kerja baru ini.

Tanggung jawab pendidikan dan latihan tradisional harus tunduk kepada tanggung jawab baru mendahului perubahan. Setelah itu mereka harus merencanakan mengelola preses perubahan itu sehingga arsitek menyelenggarakannya turut serta mempengaruhi arah perubahan terjadi tidak sekedar bereaksi terhadap sosiologi kerja baru itu.
Dalam kerangka pemikiran pengelolaan sumber daya manusia rasional tetapi obyektif, sering dipertanyakan perlu tidaknya pulang ke rumah masing-masing untuk kemudian bertemu dengan putra putri berbicara dengan bahasa berbeda, harus mendengarkan musik berisik dan melihat nilai-nilai hidup mungkin terasa asing bagi mereka. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa pandangan ini rnemberikan gambaran bahwa para pirnpinan itu hidup dalam neraka profesional. arsitek harus mengakui bahwa dalam menyajikan kedua pandangan tersebut di atas agak sedikit didramatisasi.

Maksud arsitek adalah untuk menunjukkan bahwa di satu pihak para arsitek tidak hidup dalam dunia impian selalu aman dan damai; akan tetapi juga untuk menggambarkan bahwa hidup mereka tidak semerana digambarkan. Memang benar bahwa mereka selalu berkonfrontasi dengan serba kelangkaan, ketidakmampuan bawahan, menjadi sasaran gangguan, frustrasi tekanan. Akan tetapi juga memang sebaliknya mempunyai kemampuan yang agak tinggi untuk memuaskan kebutuhan fisiknya. Dengan perkataan lain mereka hidup di dunia biasanya digambarkan lebih cerah daripada keadaan sebenarnya, tetapi juga tidak sesuram diduga sementara pihak.

Kenyataan-kenyataan Baru.
Sebelum arsitek membahas secara lebih mendalam tentang implikasi organisasional terhadap pengembangan sumber daya manusia, arsitek akan mencoba melukiskan terlebih dahulu kenyataan-kenyataan baru yang nampaknya dihadapi oleh para arsitek dalam dekade baru saja kita masuki ini. Nampaknya ada enam faktor sangat mempengaruhi perilaku dan gaya kepemimpinan dalam dekade delapanpuluhan mendatang ini. Pertama: Nampaknya terjadi arus perubahan mendasar berlangsung cepat pada gilirannya mempengaruhi nilai sosial terjadi secara komprehensif di masyarakat. Seperti telah dikatakan di muka, perubahan-perubahan bersifat sosiologis, ekonomis politis dapat dipastikan akan terjadi. Sudah barang tentu tidak mungkin untuk menganalisa dan meramalkan semua perubahan itu secara terperinci tepat.

Akan tetapi meskipun demikian, beberapa kecenderungan nampaknya penting disebut dan dijelaskan sebagai berikut: - para arsitek mengikuti kegiatan pendidikan nan latihan. Pertanyaan tersebut timbul karena adanya dua pandangan ekstrim, dus tidak tepat, mengenai kedudukan para arsitek tersebut.
Pertama: Ada yang menggambarkan bahwa para arsitek itu bekerja di kantor-kantor dilengkapi dengan permadani tebal, lukisan mahal menghiasi tembok ruangan kerjanya, serta meja kerja elok tanpa tumpukan kertas di atasnya. Pandangan bersifat khayalan itu kadang-kadang "dibumbui" dengan isi seakan-akan setiap arsitek didampingi oleh sekretaris pribadi cantik, santapan siang di kamar makan tersendiri dan mobil-mobil mewah dengan pengemudi mengenakan pakaian seragam yang cemerlang.

Orang membayangkan bahwa fungsi utama para arsitek adalah untuk sekali mengambil keputusan pokok amat prinsipil jumlahnya sedikit frekwensinya rendah setelah para staf spesialis mengumpulkan menganalisa fakta-fakta membuat tugas pengambilan keputusan itu menjadi sangat mudah. Pandangan demikian sering ditambah lagi dengan pendapat bahwa untuk tugas seperti itu para arsitek menerima gaji besar ditambah lagi dengan penghormatan diterimanya dari para bawahannya dan dari masyarakat luas. Singkatnya, terdapat pandangan memberikan gambaran seolah-olah para arsitek itu menikmati hidup yang ideal.

Pandangan ekstrim kedua adalah pandangan mengatakan bahwa para arsitek itu mempergunakan jam-jam kerja mereka untuk mengambil keputusan-keputusan penting berdasarkan informasi tidak memadai mereka terutama dalam organisasi arsitek keniagaan sering bergerak dalam iklim yang penuh dengan persaingan sengit. Orang menganut pandangan ini ingin memberikan kesan bahwa para arsitek itu harus berusaha untuk memuaskan berbagai kelompok di dalam masyarakat, mulai dari para pegawai merasa dirugikan sampai kepada para pemegang saham cerewet.

Pandangan ini memberikan kesan pula bahwa para arsitek itu selalu mendapat tekanan supaya menghasilkan barang dan/atau jasa lebih tinggi mutunya dengan biaya lebih rendah serta menghasilkan ber-aneka jenis barang tanpa mencemarkan lingkungan. Dan setelah dirongrong oleh berbagai krisis, baik dengan dampak jangka pendek, menengah maupun jangka panjang. Tampak ada rasa keprihatinan atas nilai-nilai hidup didasarkan atas pandangan materialistik. Banyak orang mendambakan pekerjaan lebih menarik akan tetapi sekaligus menginginkan lebih banyak waktu bersantai daripada pekerjaan dengan tanggung jawab lebih besar berikut pendapatan yang lebih tinggi.

b. Terlihat pula adanya gejala bahwa nilai-nilai moral sedang mangalami goncangan. Orang lebih bebas berbuat sesuatu sedang di lain pihak ada kecenderungan lain lebih mengutamakan dipertahankannya nilai-nilai konservatif.

e. Lebih banyak kaum wanita berkecimpung dalam kehidupan organisasional, dalam arti meningkatnya jumlah mereka yang memasuki angkatan kerja. Status mereka berubah dengan sangat cepat membawa pengaruh kepada lingkungan kerja serta kehidupan rumah tangga mereka.

d. Peranan Pemerintah semakin luas dan garis-garis demarkasi peranan ini ramai dipermasalahkan baik di negara-negara sudah maju maupun di negara-negara sedang berkembang.

e. Timbulnya masalah-masalah baru intensitasnya berbeda dengan apa dialami sebelumnya meskipun terjadi di luar organisasi, akan tetapi mempunyai implikasi-implikasi organisasional yang jelas.

Kedua: Faktor kedua ini beranjak dari kenyataan pertama telah disinggung di muka, yaitu sifat arsitek modern yang semakin kompleks. Dalam dunia usaha, misalnya, lebih banyak produk dengan segala variasinya dituntut oleh para konsumen mampu dan semakin terdidik untuk menyatakan individualitasnya sekaligus dipergunakannya sebagai simbol-simbol statusnya. Akan tetapi sebaliknya, di lain pihak meningkat pula permintaan barang-barang murah tetapi berguna permintaan demikian pada umumnya datang dari mereka kurang mampu. Teknik produksi baru baru saja dikembangkan dengan sangat cepat menjadi ketinggalan jaman. Mungkin saja terjadi bahwa produk yang hari ini dianggap baik dengan sangat cepat digantikan oleh variasi lebih maju dimungkinkan oleh perkembangan teknologi berkembang dengan sangat pesat.